Menjadi Orang Tua Berwibawa Untuk Anak

Rabu, 20 Juli 2011 (6:29 am) / Keluarga

Seperti kita ketahui, kebanyakan perilaku dan karakter negatif anak adalah akibat kesalahan orang tua dalam memberikan pengasuhan sejak anak berusia dini. Sedimian parahnya kondisi itu, sampai ada yang menganggap wajar membentak dan memarahi orang tua, seakan sudah tidak ada lagi ketaatan dan penghormatan kepada orang tua di dalam rumah tangga.

Dalam keadaan seperti ini orang tua sering memberi cap bahwa anak mereka telah durhaka dan tidak patuh. Hanya sedikit yang menyadari bahwa semua kondisi anak adalah akibat dari cara mendidik orang tua yang kurang tepat. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka  sendiri yang membentuk perilaku durhaka pada anak anak mereka.

Orang tua sering mengganggap dengan perlakuan yang mereka anggap sebagai sebuah ketegasan justru sebenarnya telah dipahami berbeda oleh anak-anak mereka. Bukan hal yang tepat jika orangtua yang menginginkan anak menjadi taat pada mereka kemudian menggunakan kekerasan dalam mendisiplikan. Susana rumah yang penuh dengan intimidasi, ancaman dan hukuman hanyalah merusak rasa hormat anak kepada orang tua mereka.

Sudah saatnya orang tua merenungi diri tentang pola yang selama ini telah dipilih dalam mendidik anak. Kebiasaan menyalahkan anak hanyalah menjadikan orang tua kehilangan wibawa di mata anak-anak, hingga saat orang tua memberi saran dan nasehat anak tak lagi mau mendengarkan.

Hampir 1500 tahun yang lalu Allah telah memberikan petunjuk bagi orangtua dalam mendidik anak.

Bangunlah dimalam hari (untuk Shalat), kecuali sedikit (daripadanya), setengahnya atau kurangilah sedikit dari padanya, atau lebihkan dari padanya dan bacalah Al-Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan padamu ‘qaulan tsaqiila”. (QS. Al Muzzammil :2-5)

Sudah menjadi janji Allah bagi siapa saja yang secara konsisten melaksanakan sholat lail dan membaca Al Quran dengan perlahan-lahan dimalam hari, akan diberikan sebuah penghargaan berupa wibawa yang dalam ayat tersebut dikatakan Allah sebagai “Qaulan tsaqila” atau perkataan yang berat.

Coba bayangkan bila Anda sebagai orang tua yang penuh wibawa karena anda mempunyai qaulan tsaqila, tentu saat saat Anda mengajak anak-anak untuk melakukan sebuah kebaikan, secara serta merta cara Anda berbicara akan penuh pesona dan wajah Anda berseri-seri karena bekas sujud Anda dalam sholat yang Anda lakukan dimalam hari.

Secara pribadi setiap kita pasti pernah memiliki pengalaman yang unik, yang akhirnya kita bisa bedakan saat kita tidak melakukan sholat malam, atau target tilawah Al Qur’an kita tidak terpenuhi. Biasanya kita akan merasa ada yang kurang, seperti kering ruhani kita, sehingga saat berbicara pada siapa saja tentu akan kurang kuat, karena saat kita berbicara, berbicaranya kita hanya pembicaraan yang biasa, apapun yang kita sampaikan tidak memiliki “ruh” yang mampu menggugah orang lain.

Adakalanya juga kita mengalami, bertemu dengan seseorang yang kita kenal sebagai orang-orang yang istiqomah dalam ibadahnya, serta sangat terjaga sholat malam dan tilawah Al Qurannya, biasanya dalam kondisi diam mereka  sudah memberikan cahaya yang luar biasa, mereka tak perlu berbicara saja, keimanan orang-orang di sekeliling mereka bisa naik, apalagi jika mereka menyampaikan sesuatu.

Demikian pula bagi kita orang tua yang baik, hendaknya sudah menjadi perhatian kita secara khusus kepada sholat malam dan aktivitas tilawah Al Qur’an kita, agar Allah memudahkan kita menjadi orang tua yang memiliki wibawa dihadapan anak-anak kita. Setiap kalimat yang terucap senantiasa dipenuhi  hikmah dan kebaikan. Insyallah..

Jika dibahas melalui pendekatan pola pikir, sudah  menjadi sunnatullah, seseorang yang didalam hatinya kurang kuat maka semua sistem dan sumber daya dalam dirinya tidak akan bisa bekerja secara maksimal.

Seperti yang telah kita pahami, bahwa segala sesuatu dalam hidup kita ini berawal dari lintasan yang ada didalam hati kita, kemudian lintasan hati itu dikirimkan ke bagian bagian di otak untuk kemudian diproses. Usai diproses di otak, informasi tersebut akan disebarkan ke seluruh tubuh melalui sistem syaraf.

Respon sistem syaraf akan menimbulkan tindakan fisik yang khas sesuai dengan informasi yang telah diterima dari otak. Kemudian tindakan yang lakukan terus-menerus, akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang terus-menerus akan berubah menjadi sebuah karakter. Jika sebuah pikiran telah menjadi karakter akan sangat sulit untuk merubahnya.

Perhatikan saja orang tua kita yang telah menginjak usia diatas 40 tahun, bila Anda ingin mencoba merubah apa yang sudah menjadi kebiasaan orang tua Anda, sama sulitnya bagi Anda saat membersika sebuah teko/ceret yang penuh dengan karat akibat terlalu sering di pakai sebagai tempat teh atau kopi. Tentu akan sangat sulit bukan?

Begitulah sebuah pikiran yang telah menjelma menjadi sebuah karakter. Pikiran yang menjadi karakter itu telah terpatri dalam sistem keyakinan seseorang, yang kemudian bisa disaksikan melalui citra diri mereka.

Anak menjadi kurang menghormati, tidak taat bahkan sampai durhaka besar kemungkinan orang tua memang kurang memiliki kekuatan ruhani, sehingga saat berkata dan bertindak, sistem dan semua sumber daya dalam dirinya tidak secara selaras memilih ekpresi wajah yang berwibaya, dan kata-kata yang mudah dicerna oleh anak sebagai bahasa yang memiliki daya gugah dan daya rubah bagi anak anak.

Dengan kondisi ruhaniyah yang kuat, orangtua tak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan anak mereka. Karena wajah yang teduh dan didukung dengan bahasa bahasa yang lebut akan lebih mudah menyentuh hati anak.

Di sisi lain kondisi ruhaniyah yang senantiasa terjaga dalam pengawasan Allah, mengarahkan ketaatan anak tidak hanya tertuju kepada orang tuanya. Kesertaan Allah saat orang tua menasihati anak akan mengarahkan nasihat ketaatan tersebut dihubungkan dengan ketaatan kepada Allah, sehingga anak tidak lagi bergerak dan beramal karena ketakutan pada orang tua. Motivasi anak akan lebih berkualitas karena ketaatan mereka pada orang tua terbangun bersama ketaatan mereka kepada Allah.

Hal ini telah lakukan oleh Luqman Al – Hakim dalam memupuk ketaatan pada anaknya.

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar”. [QS. Luqman: 13]

Dalam ayat ini Luqman Al-Hakim telah menginspirasi kita bahwa beliau mendahulukan ketaatan anak kepada Allah, sehingga Anak memiliki keimanan yang lurus dalam menjalani kehidupannya ukuran kebaikan dan kebenaran dalam hidupnya adalah keridhoan Allah.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS. Luqman: 14]

Usai Lukman Al- Hakim menancapkan sebuah wasiat tentang ketaatan kepada Allah pada anaknya, barulah beliau melanjutkan menasihati anaknya agar taat  dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

Demikianlah telah Allah tawarkan kepada kita para orang tua tentang solusi dalam memupuk ketaatan pada anak-anak kita melalui peningkatan kualitas ibadah kita, lengkap dengan inspirasi yang sangat agung dari seorang Ayah yang mulia Lukman Al-Hakim.

Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya. Generasi Rabbani hanya lahir dari keluarga yang Rabbani.

Insyallah…

Redaktur: Tata Rifa

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih