theglobejournal

Serombongan besar massa menyerbu sebuah ruko (rumah toko) di Jalan HT Daudsyah Nomor 47, Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Minggu (17/6) siang. Massa marah karena ruko tersebut disinyalir dijadikan tempat peribadatan terselubung jemaah Gereja Bethel Indonesia.

Informasi dari sumber-sumber resmi yang diperoleh Serambi menyebutkan, tempat peribadatan itu ilegal karena tidak pernah dilaporkan keberadaannya kepada pihak kecamatan maupun desa. Aktivitas keagamaan di tempat itu juga berlangsung tertutup dari umum.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Penyerbuan dilakukan ratusan warga desa setempat sekitar pukul 10.30 WIB setelah jemaah Gereja Bethel melaksanakan kebaktian sekira pukul 08.00 WIB. Sebelum bergerak ke sasaran, massa terlebih dahulu berkumpul di sekitar Masjid Al-Muttaqin Peunayong.

Massa menyerbu langsung ke dalam ruko dan sebagian melempar bagian bangunan dengan kayu dan batu. Penyerangan yang berlangsung sporadis itu menimbulkan kepanikan jemaah Gereja Bethel yang waktu itu masih ada yang berkumpul di dalam ruko. Satu per satu anggota jemaah menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

Massa yang marah langsung mengobrak-abrik semua barang yang ada di dalam ruko itu. Namun, aksi tersebut tak berlangsung lama, karena aparat kepolisian cepat berada di lokasi.

Camat Kuta Alam, Drs Diwarsyah mengatakan, kegiatan keagamaan oleh jemaah Gereja Bethel di dalam ruko itu dapat dikatakan ilegal karena tidak pernah dilaporkan kepada pihak kecamatan maupun ke desa setempat. “Kegiatan keagamaan di ruko tersebut telah berlangsung kurang lebih dua minggu sebelum amuk massa terjadi,” kata amat Kuta Alam.

Menurut Diwarsyah, warga juga curiga karena aktivitas peribadatan berlangsung tertutup sehingga tidak ada seorang pun yang tahu selain jemaah itu sendiri. “Awalnya yang kami tahu ruko ini diperuntukkan sebagai tempat les private anak-anak. Tapi belakangan terungkap ada aktivitas keagamaan yang dilaksanakan setiap hari minggu. Kegiatan les private itu juga tidak pernah dilaporkan kepada kami maupun pihak desa,” kata Camat Kuta Alam.

Menurut informasi dari masyarakat yang diterima pihak kecamatan, sebelumnya jemaah yang sama juga melaksanakan aktivitas peribadatan di pasar sayur, tapi tidak sampai memicu kemarahan warga. “Kami perangkat desa di sini saja tidak tahu apa-apa, karena memang tidak pernah dikasih tahu apa yang dilakukan di dalam ruko. Bagaimana awalnya gejolak massa ini timbul, saya juga belum dapatkan informasi secara jelas,” kata Keuchik Peunayong, Syarifuddin.

Kadis Syariat Islam Kota Banda Aceh, Drs Said Yulizar MSi yang hadir di lokasi kejadian sangat menyayangkan adanya aktivitas keagamaan yang terselubung dan tertutup dari pandangan umum.

Menurutnya, cara-cara yang dilakukan oleh jemaah Gereja Bethel itu dapat merusak kerukunan beragama. “Aktivitas keagamaan yang dilakukan tertutup seperti itu tentu menimbulkan kecurigaan. Tapi, hakikatnya tak ada yang berharap aksi seperti ini terjadi dan tidak ada pula yang ingin mengusik sentimen antarumat beragama. Kerukunan beragama itu selalu yang diutamakan, karena dengan begitu akan tercipta damai dan ketenteraman,” kata Said Yulizar.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Moffan MK SH mengatakan permasalahan yang muncul karena aktivitas keagamaan yang dilakukan itu tidak ada izin. “Seharusnya untuk melakukan kegiatan keagamaan atau pendirian rumah ibadah harus ada perizinannya. Tapi hal tersebut tidak dilakukan oleh jemaah itu,” kata Moffan.

Menurut Kapolresta Banda Aceh, bila nantinya dalam penyidikan tindakan yang dilakukan para jemaah yang menjalankan aktivitas keagamaan secara tertutup itu ada unsur pidananya maka akan diproses secara hukum.

“Bila tidak ada indikasi pidananya, akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait. Tidak ada korban jiwa akibat aksi itu. Semua barang bukti, seperti sepeda motor dan barang di dalam ruko telah diamankan ke Mapolresta. Begitu juga dengan para jemaah itu sudah diamankan sementara,” demikian Kapolresta Banda Aceh.


Redaktur: Shabra Syatila
Sumber: tribunnews

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI