Wanita Lebih Mudah Kecanduan Facebook

Jumat, 8 Juni 2012 (7:31 am) / Psikologi

Sebuah riset terbaru menemukan bahwa wanita lebih mungkin menjadi pecandu situ jejaring sosial Facebook ketimbang pria. Temuan ini dipublikasikan dalam Psychological Reports journal.

Dalam risetnya, para psikolog dari University of Bergen di Norwegia melibatkan 423 pelajar untuk mengamati tanda-tanda perilaku adiktif dalam cara mereka menggunakan Facebook. Peneliti menggunakan alat ukur yang disebut “Bergen Facebook Addiction Scale”, di mana masing-masing partisipan diberikan skor untuk melihat tingkat penggunaan Facebok, mulai dari skala satu (sangat jarang) hingga skala lima (sangat sering).

Dalam metode skoring tersebut, setiap peserta juga diminta komentar soal perasaan mereka terkait dorongan untuk menggunakan Facebook, kegagalan dalam membatasi penggunaan situs dan perasaan saat tidak dapat mengakses situs.

Hasil kajian menemukan bahwa beberapa peserta menunjukkan tanda-tanda dari “kecanduan Facebook” mirip seperti yang ditunjukkan oleh orang yang mengalami kecanduan obat, alkohol dan zat kimia lainnya. Menurut peneliti, pelajar yang berusia muda lebih mungkin tergantung pada situs jejaring sosial seperti Facebook ketimbang pelajar yang berusia lebih tua. Sedangkan untuk jenis kelamin, pelajar wanita berisiko lebih besar menjadi pecandu ketimbang pria.

Peneliti menambahkan, orang yang menderita kecemasan atau ketidakamanan sosial lebih mungkin menjadi pengguna setia dari situs jejaring sosial. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka merasa lebih mudah untuk menyalurkan perasaannya ketika harus menggunakan teknologi ketimbang berkomunikasi dengan orang secara pribadi.

Studi ini juga menemukan bahwa orang dengan tipe kepribadian ekstrovert (terbuka) lebih cenderung kecanduan dengan Facebook, sementara orang yang terorganisasi dengan baik dan ambisius cenderung memiliki risiko lebih kecil menggunakan website, kecuali untuk tujuan pekerjaan atau jaringan.

Redaktur: Farid Zakaria

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih