Wajah-wajah Muslim di Bollywood

Sabtu, 24 Desember 2011 (12:44 am) / Uncategorized

India menjadi satu negara pembuat film terkemuka di dunia. Tidak kurang dari 800 hingga 1.000 film cerita diproduksi Bollywood–Hollywood-nya India–yang berpusat di Mumbai (Bombay). Tingginya produksi film mereka, menggiring jutaan orang India tiap hari pergi ke bioskop-bioskop. Film Bollywood juga diekspor ke-50 negara di dunia, termasuk Indonesia. Di industri film, umat Islam juga banyak berperan. Pernah disebutkan sekitar 30 persen pelaku industri hiburan ini adalah Muslim. Mulai dari aktor, artis, sutradara, penulis cerita, skenario, sampai produser. Belum lagi para kru film.

Para Bintang

Gemerlap bintang film Muslim pun bertebaran di langit Bollywood. Dalam era 1950-an sampai 1970-an, misalnya, dikenal Dilip Kumar yang beberapa kali dinobatkan sebagai aktor terbaik India. Sedang para artisnya antara lain Nargis dan Madhubala yang pada 1960-an dapat julukan ”venus dari India”.

Sedangkan Zeenat Aman yang pernah jadi Miss India, sampai 1980-an telah berakting di ratusan film. Demikian pula artis cantik Waheeda Rehman, yang sampai kini masih main memerankan tokoh ibu. Sama seperti Farida Jalal, yang berperan sebagai ibu Shah Rukh Khan dalam film Kuch Kuch Huta Hai. Tak kalah tenar, Shabana Azmi.

Ada beberapa produser Muslim yang film-filmnya oleh Hollywood dicalonkan sebagai peraih Piala Oscar di Amerika untuk kategori film asing. Pada 1950-an, diraih oleh film Mother India yang disutradarai dan diproduksi Mehboob Khan; pada 2002, Laagan, produksi Aamir Khan; dan tahun ini, terpilih film Paheli, dibintangi Shah Rukh Khan, sekaligus sebagai produsen.

Shah Rukh Khan yang melakukan debut filmnya pada 1991, sampai kini menempati peringkat teratas di antara para bintang India. Bersama sutradara Azis Mirza dan artis Juhi Chaula, ia juga mendirikan perusahaan film Dreamz Unlimited.

Masih ada lagi sutradara wanita, Farah Khan, yang sekaligus sebagai kreografi terkenal. Ia sering mendapat penghargaan untuk bidangnya ini. Seperti dalam film Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Kushi Kabhi Gam. Selain Aamir Khan dan Shah Rukh Khan (pernah berkunjung ke Indonesia 2002), sejumlah bintang Muslim lainnya termasuk 10 besar aktor top Bollywood. Sebut saja misalnya, Saif Ali Khan, yang tahun 2006  terpilih sebagai aktor terbaik India. Dia adalah putra artis era 1970-an, Sharmila Tagore, dan atlit kriket India, Mansoor Ali Khan.

Termasuk aktor papan atas India adalah Salman Khan, yang namanya sudah tidak asing bagi pecinta Bollywood di Indonesia. Ayahnya, Salim Khan, adalah penulis cerita kenamaan di India, di samping pencipta lagu Majrooh dan Kaifi. Di deretan produser juga terdapat Feroz Khan. Sementara putranya, Fardeen Khan, kini tengah menanjak karirnya di Bollywood.

Hampir seluruh film India diwrnai nyanyian. Di antara para musisi India tercatat nama AR Rehman, yang lagu dan musik ciptaannya dalam film Laagam dan Devdas terpilih sebagai pemusik terbaik. Sedangkan pada dekade 1960-an dan 1970-an, terkenal musisi Naushad Ali. Kini muncul sejumlah sutradara muda beragama Islam. Seperti Sohan Shah dan Aneez Baznee, yang juga menjadi penulis skenario. Sementara Javed Akhtar berada di antara belasan pembuat syair untuk lagu-lagu dalam film Bollywood.

Potensi Minoritas

Sekedar mengingatkan, India memiliki populasi Muslim kedua terbesar di dunia setelah Indonesia. Walaupun mereka termasuk golongan minoritas, tapi sekitar 13 persen (140 jiwa) dari sekitar satu miliar penduduk negeri Hinndustan itu beragama Islam.

Bahkan, Prof APJ Abdul Kalaam, merupakan presiden keempat India yang beragama Islam. Dia adalah ilmuwan Muslim yang punya prestasi dalam meningkatkan kemampuan negaranya untuk berswasembada dalam ilmu, industri, dan riset pertahanan. Juga tercatat sebagai salah satu ilmuwan India yang menjadikan negara itu muncul menjadi kekuatan nuklir dunia yang diperhitungkan.

Tentunya, masih banyak orang Muslim hebat di India. Begitu juga yang terjun di dunia film itu tadi. Mudah-mudahan, ke depan, film-film Bollywood pun menjadi ”islami” dan rahmatan lil’alamin. Tidak terus hanyut dalam dominasi adegan yang mengeksploitasi aurat dan moral bejad.

softoh-jamaah | fimadani

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih