“Versus Iblis”

Sabtu, 28 Juli 2012 (8:30 am) / Opini

Akhir-akhir ini bumi di sekeliling saya terlingkupi oleh guyuran hujan. Dingin sudah pasti terasa dengan seringnya terlihat selimut kabut yang memeluk ufuk barat dan ufuk timur bumi. Satu point tambahan bagi saya adalah adanya rasa takut kalau-kalau petir yang menyertainya menimpa badan kerempeng saya.

Hujan deras yang serasa bermain dengan bergantian menjadi gerimis layaknya rontaan batin yang menderita sakit. Amukan akal sehat yang meronta pada setiap kekang nafsu manusiawi. Meskipun sangat berlebihan kiranya menyamakan deras hujan dengan aliran air mata yang membasahi pipi cekung saya ini. Terlalu munafik ketika nafsu berkelakar sementara batin merintih.

“Tuhan, saya tobat. Terlalu banyak keasyikan yang Engkau berikan pada hamba. Tapi di sisi lain hamba terlalu berlebihan menerima itu semua”.

Setiap langkah yang saya tempuh tak sedikit pun yangmenuju pada arah kemajuan sebuah prinsip hidup. Tak mengarah sekali pada angan pribadi. Melenceng jauh dari ketentuan koridor yang tersedia. Tapi terkadang tembus parat pada zona hitam.

Ketika semua itu terjadi. Ketika kesalahan dan kebodohan dilakukan, tentunya dua pihak yang saling berkaitan. Yaitu pribadi dan takdir. Tentunya ketika keburukan itu terjadi ada peran pribadi langsung yang menjalaninya. Namun apabila dikaitkan dengan takdir atau suratan yang tertulis jangan pernah sekali-kali menyalahkannya kalau tidak mau menambah jauh curam rasa bersalah. Ketika berbicara takdir, sudah jelas kita mengaitkan dengan adanya peran Tuhan. Kalau menyalahkan takdir, secara gamblang Tuhan telah dianggap salah.

Tak ada yang salah dengan takdir karena Tuhan selalu benar dengan takdir yang telah menjadi suratan setiap manusia. Tuhan tak ada sangkut pautnya dengan dosa dan pahala yang kita raih. Toh sejatinya Tuhan tak butuh kita, tapi justru kita yang butuh Tuhan.

Takdir yang mengarahkan pada situasi indahnya dosa merupakan petarungan hebat dimana iblis bertengger sebagai juaranya. Adanya moment pertarungan ini merupakan takdir yang diberikan Tuhan kepada kita. Bagaimana kelanjutan pertarungan itu terserah bagaiman kita. Menang dan kalah merupakan hasil jerih payah kita sendiri. Kita kemudian meminta support dari Tuhan, tentunya Tuhan baik dengan mendengarkan permohoan support kita. Tapi setelahnya tetap tertumpu bagaimana taktik kita menyelesaikann itu semua.

Semoga kita semua jadi pemenang. Menjadikan iblis sialan itu bertekuk lutut di kaki kita. Jangan salahkan takdir kalau ternyata kekalahan yang diraih. Mungkin sudah semestinya kita privat pada ahlinya. Pada ahli yang setidaknya merekahkan senyum optimis.

 

Harun Arrasyid, Bogor
Facebook

Redaktur: Farid Zakaria

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih