Tuhan

Rabu, 8 Juni 2011 (6:50 am) / Pemikiran Islam

Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka tidak merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau dikenal sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata. Menurutnya, keberadaan Tuhan itu terlalu mudah untuk dipahami oleh manusia, siapa pun dia, sehingga tak perlu dibuktikan kembali. Apa yang sudah terang tak perlu diterang-terangkan lagi. Pengakuan akan keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang sudah terintegrasi dalam jiwa manusia. Yang jadi masalah justru jika manusia ngotot hendak meng-uninstall program yang sudah dipasang sejak dahulu kala dalam dirinya (QS Al A’raf: 172).

Dari sekian banyak manusia keras kepala yang mengingkari dirinya sendiri ini, tidak ada satu pun yang berhasil sepenuhnya. Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullaah pernah menceritakan tentang seorang mahasiswa yang sepenuh hatinya merasa bangga dengan ateisme yang dijadikannya sebagai prinsip hidup. Tuhan itu tak berwujud, katanya. Tuhan itu hanya ada dalam khayal manusia, katanya. Tapi dalam sebuah demonstrasi menuntut reformasi, ketika peluru berdesingan di atas kepalanya, ia tiarap juga sambil berteriak, “Ya Tuhan!” Ternyata pengakuan terhadap Tuhan belum berhasil ia buang dalam recycle bin hatinya.

Pada akhirnya, kematian adalah pembuktian yang paling nyata. Biarpun sudah menolak Tuhan dengan berapi-api dan mengklaim bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri, toh akhirnya semua manusia menemui ajal juga. Suka tidak suka, semua akan mengalaminya. Boleh seenaknya di dunia, tapi akhirnya diseret juga ke akhirat.

Pasti ada juga yang menolak argumen ini. Kematian hanya membuktikan bahwa masa hidup manusia telah habis. Tak ada bukti jiwa manusia pergi ke suatu alam yang lain dengan alam dunia ini. Tak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Setelah hidup hanya ada kematian, dan di seberang kematian hanya ada ketiadaan.

Penyangkalan (denial) semacam ini tidaklah melukai siapa pun selain dirinya sendiri. Berusaha meng-uninstall program yang menjadi pondasi dari jiwa kita ibarat tanaman yang mencabut akarnya sendiri. Tak bisa membuang programnya, maka jiwanya sendirilah yang dicampakkan.

Tidak seorang pun manusia yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Tidak Nietzsche (“God is dead”), tidak Karl Marx (“Religion is opium for the people”), tidak juga Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”). Ketika ombak hampir menelan tubuhnya, Fir’aun pada akhirnya dipaksa mengaku juga bahwa ia hanyalah tulang, darah, daging, kulit, dan rambut. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Meski sudah ke mana-mana mendakwakan bahwa Tuhan telah mati, pada akhirnya Nietzsche juga yang mati. Marx, yang punya ‘misi suci’ membebaskan umat manusia dari ‘opium’ yang membelenggu hidup mereka, pada akhirnya mati juga, sementara mereka yang beriman tetap saja beriman. Merekalah contoh manusia yang gagal menulis ulang program dirinya, karena sejak awal mereka memang tidak mengenal kode program yang sesuai.

Tidak ada seorang manusia pun yang sungguh-sungguh beriman akan ketiadaan. Pada hakikatnya semua manusia diciptakan dengan ego yang pasti akan menolak klaim bahwa dirinya tidak lebih daripada seekor hewan yang hidup tanpa tujuan pasti selain makan, berkembang biak dan bertahan hidup. Tak ada juga manusia yang mau menyamakan dirinya dengan benda mati yang tercipta dan hancur tanpa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kematianlah yang memberi makna pada kehidupan, dan kehidupan sesudah matilah yang memberi makna pada kematian.

Mereka yang percaya bahwa kematian itu ada, tapi kehidupan sesudah mati itu tidak ada, akan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dengan kaum yang beriman. Jika kehidupan di dunia ini adalah satu-satunya yang mereka miliki, amboi betapa kacaunya dunia ini. Tak ada kebaikan, tak ada kemurahan hati, tak ada yang saling menolong, tak ada yang saling mendahulukan, dan tak ada yang saling mencintai. Semua orang hidup untuk dirinya sendiri-sendiri, memenuhi syahwat perut dan kelaminnya. Mereka memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri; jika tak lagi berguna, maka siapa pun bisa disingkirkan. Demikianlah peradaban manusia yang ‘tanpa tuhan’.

Dalam peradaban paling biadab sekalipun, iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat masih tetap ada. Itulah yang menjaga manusia dari perilaku keji dan haus darah. Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak meng-install program yang terkoneksi langsung dengan-Nya dalam diri kita (dan juga menciptakan program lain yang mencegah siapa pun untuk meng-uninstall-nya), maka manusia sudah sejak dulu punah karena saling bunuh. Sementara binatang yang hanya punya syahwat tanpa akal saja jika terjepit bisa menjadi kanibal, apalagi manusia yang bukan hanya punya syahwat, tapi juga punya akal. Hewan buas yang kanibal hanya akan memangsa sesuai kapasitas lambungnya, sementara manusia yang ‘kanibal’ akan menciptakan kulkas untuk menyimpan korban-korbannya dalam jumlah banyak dan museum untuk memamerkan tulang-belulangnya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. Beriman kepada Allah itu adalah hal yang terlalu terang untuk diterang-terangkan. Justru penolakan terhadap-Nya itulah yang begitu rumit untuk dijelaskan. Itulah sebabnya mereka yang keras kepala menolak Allah disebut “kafir” yang artinya “ingkar”. Mereka tak dapat mengubah kenyataan, melainkan hanya mengingkarinya saja.

Redaktur: Akmal Sjafril

Copyright © 2011 – 2014