Tips Mandiri Manajemen Tugas

Rabu, 23 Mei 2012 (11:19 am) / Pengembangan Diri

Wahai adik-adikku, memang seringkali beban atau amanah dipundak ini terasa berat, amanah-amanah yang pastinya akan dituntut semua yang menyaksikannya, terutama kepada Yang Maha Kuasa. Tapi percayalah, “Tuhan tidak akan memberikan beban yang tidak bisa dipikul hamba-hambanya”, mungkin hanyalah kalimat itu yang dapat menentramkan hati kita, yang dapat menjadi sebuah dorongan automatic dari dalam diri sendiri sebelum motivasi dari luar ikut menyokong perjalanan ini.

Kadang diri kita dengan sendirinya berfikir, “Saya sendiri saja belum tentu bisa mengurus diri sendiri, bagaimana mengurus orang lain?”. Ternyata kita masih meragukan kemampuan diri masing-masing. Seringkali terbesit fikiran, “Belum amanah ini, belum tugas itu, belum kewajiban sebagai anak, belum kewajiban sebagai Mahasiswa,…. dll”. Wah!! Ternyata kewajiban kita lebih banyak ya dari waktu yang diberikan…!! Mungkin kalimat tersebut terlihat cukup simple, namun lagi-lagi sebuah kalimat tidak sesederhana apa yang diucapkannya. Bagaimanakah sebagai manusia kita dapat mensiasati atau mencari solusi terhadap permasalahan klasik ini? Disinilah letak kebijaksanaan seseorang diuji.

“Manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya akal dan fikiran, melebihi apa pun mahluk lainnya, dengan begitu kita dituntut untuk kreatif untuk menyelesaikan suatu problema.”

Begitu juga dengan hal yang dibahas sebelumnya, tugas/amanah sering kita biarkan menjadi beban bukan menjadi sebuah anugrah karena telah dipercayakan untuk mengembannya, dengan begitu kita akan menjadi lebih positive menyikapinya. Dari positif sikap, akan muncul efektifitas dan maksimalisasi kerja yang tentunya berefek kepada hasil yang memuaskan.

Mungkin dalam kasus ini saya akan coba ambil masalah dalam organisasi. Dalam organisasi kadang muncul kelelahan terhadap tugas yang membombambir suatu individu, karena tuntutan proker dari sang empunya Himpunan. Maka dengan berbagai keluhan dari individu tersebut, akhirnya program tersebut gagal terlaksana dengan matang. Nah.. maka dari itu diperlukan suatu jalan keluar yang solutif, yaitu membagi tugas-tugas yang berat itu dengan adik-adik dan teman-teman seperjuangan yang tentunya sesuai dengan porsi-porsinya.

Lihatlah sekumpulan semut merah yang melihat putusnya ranting, apakah mereka membatalkan untuk menyebrang ke ranting berikutnya? Ternyata tidak kawan, mereka malahan membuat jembatan dengan tubuh-tubuh mereka dan dengan rela membiarkan tubuh-tubuh mereka diinjak oleh teman-teman seperjuangannya. Begitulah arti sebuah pengorbanan, disini nilai kebersamaan bisa terasa sangat manis. Merelakan kepentingan pribadi demi terwujudnya cita-cita bersama.

Apakah sebuah plat bisa kuat menahan beban diatasnya dengan hanya satu batang tulangan”

Saya kira kalimat diatas sudah menjadi keseharian masyarakat Sipil. Ternyata alam sudah mengajarkan kita tentang arti sebuah kerjasama! kerja berjamaah! Dan dengan tidak disangka, dengan tidak sadar manusia pun mengaplikasikannya lewat teknologi plat yang saya bahasakan sebelumnya. Keteraturan pergantian malam dan siang pun bisa memberikan pelajaran bagi kita pentingnya koordinasi, bayangkan jika matahari muncul sebelum bulan hilang (walaupun memang bukan matahari dan bulan yang menghilang, tetapi bumi yang berputar), akan terjadi kekacauan yang sangat dahsyat didalamnya. Disinilah kekreatifan manusia diiuji untuk mengambil pesan-pesan yang tersirat dari alam dan lingkungan sekitar.

Namun bukan berarti dengan membagi tugas kepada adik-adik atau teman seperjuangan dengan seenak perut kita itu hal yang bijaksana, bisa jadi mereka yang kita bagi tugas tersebut juga mempunyai hajat yang lebih penting dibanding mengerjakan tugas dari anda. Lagi-lagi kesempurnaan akal kita diajak untuk menelusuri lebih jauh kemampuannya.

Begini, kadang kita memberikan sebuah tugas kepada seseorang tanpa tahu dasarnya. Apakah orang tersebut mampu? apa dia berpengalaman? Disini letak kesalahan kita, secara tidak sadar kita memberi sebuah tugas kepada seseorang tanpa tahu kapabilitas orang tersebut, malahan lebih sering kita menuntut hasil yang maksimal daripada memberikan pengertian kenapa ia yang harus mengemban tugas tersebut. Dari sini akan terjadi reaksi yang baik terhadap sang pengemban tugas ketika ia diberi pemahaman tentang tugas yang ia emban, dan lebih baik lagi ia akan mengerjakan tugas tadi dengan positive thinking (juga hasil yang maksimal). Tentunya didasari dengan kata-kata yang baik, memotivasi serta dengan siap memback-up segala kebutuhan sang pengemban tugas (tempat bertanya dll), maka Inysa Allah akan terjadi simbyosis mutualisme di dalam tubuh organisasi tersebut.

Itu semua mungkin bisa menjadi awal dan langkah yang baik untuk memulai sebuah kerjasama yang menguntungkan, kerja jamaah. Dan tentunya dengan niat ikhlas saling mengingatkan dan saling mengajarkan. Sekiranya itulah yang bisa saya sampaikan dari berbagai pengalaman yang saya lalui di organisasi-organisasi sebelumnya, sifat saling memaafkan, saling memahami kepribadian orang lain, dan keasyikan memperbaiki diri yang juga sangat menunjang.

Oleh: Riant Raafi, Jakarta
FacebookTwitterBlog

Redaktur: Fimadani

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih