Tidak Mampu Bayar Denda Hamil, Ibu di Cina Diaborsi Paksa

Senin, 18 Juni 2012 (1:03 pm) / Uncategorized

Sebuah foto bayi yang diduga merupakan korban aborsi, menghebohkan para peselancar dunia maya Cina.

Hal itu membuat Kepolisian Cina menggelar penyelidikan, untuk mengetahui siapa ibu yang tega membunuh buah hatinya sendiri. Setelah melakukan penelusuran, polisi akhirnya menangkap Feng Jiamei, di Desa Zhenping, Kabupaten Shaanxi.

Ia diduga menggugurkan janinnya kala usia kandungan mencapai tujuh bulan.

Namun, para aktivis pembela Hak Asasi Manusia (HAM) menilai, perilaku Feng hanya merupakan ekses dari kebijakan satu anak yang diterapkan Pemerintah Cina.

“Cerita Feng Jianmei menunjukkan bagaimana kebijakan satu anak mendorong perempuan melakukan hal itu,” ujar Chai Ling, seorang aktivis HAM Cina, seperti dikutip dari BBC, Kamis (14/6/2012).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Cai, Feng bersama suaminya, Deng Jiyuan, dipaksa oleh otoritas setempat untuk menggugurkan kandungan Feng. Hal itu untuk mencegah Feng memiliki anak lebih dari satu. Namun, seorang pejabat lokal membantah hal tersebut.

Pemerintah Kota Angkang menyatakan telah menskors tiga pejabat Desa Zhenping, China lantaran memaksa seorang ibu hamil, untuk menggugurkan kandungannya.

Di hari Kamis (14/6/2012), mereka secara prubadi juga telah meminta maaf kepada ibu malang itu, Feng Jiamei, juga kepada keluarganya, atas insiden itu.

Pemerintah Cina membantah menerapkan kebijakan aborsi paksa menyusul kemarahan publik terkait munculnya foto seorang perempuan berbaring di samping bayi yang diaborsi.

Para pengguna internet di Cina meluapkan kemarahan atas berita aborsi paksa yang menimpa Feng Jiamei, seorang warga di Provinsi Shaanxi.

Media setempat melaporkan sejumlah pejabat di daerah Zhenping, tempat aborsi itu, membantah telah memaksa Feng melakukan aborsi. Namun penyelidikan awal yang dilakukan oleh Komisi Keluarga Berencana dan Kependudukan Provinsi Shaanxi mengukuhkan aborsi paksa tersebut memang terjadi.

Tanpa menyebut nama Feng Jiamei, Komisi Keluarga dan Kependudukan menyebutkan perempuan tersebut mengandung tujuh bulan. “Praktik seperti itu secara serius melanggar kebijakan-kebijakan terkait yang ditetapkan Komisi Keluarga Berencana tingkat pusat dan provinsi, yang mencoreng citra pencapaian keluarga berencana, dan menyebabkan pengaruh buruk di masyarakat,” demikian pernyataan Komisi Keluarga Berencana.

Komisi meminta pemerintah daerah menghukum para pejabat terkait yang melanggar hukum. Undang-undang Cina melarang tegas aborsi janin di atas enam bulan. Namun para aktivis mengatakan Feng Jiamei dipaksa menjalani aborsi.

Alasannya, dia tidak mampu membayar denda besar karena melanggar kebijakan satu anak di Cina. “Kisah Feng Jianmei menunjukkan bagaimana kebijakan satu anak terus melibatkan kekerasan terhadap kaum perempuan setiap hari,” kata Chai Ling dari kelompok aktivis yang berkantor di Amerika Serikat, All Girls Allowed.

Kelompok itu menyatakan telah berbicara dengan Nyonya Feng dan suaminya Deng Jiyuan setelah berita aborsi muncul. Deng mengatakan istrinya dibawa paksa ke rumah sakit dan dikekang sebelum menjalani aborsi.

Wartawan BBC di Shanghai Jon Sudworth melaporkan tuduhan seperti itu bukan hal baru di Cina, tetapi hal yang berbeda kali ini adalah menyebarnya foto seorang perempuan di samping bayinya.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014