Tersesat, Bukan Berarti Tanpa Manfaat Tersesat, Bukan Berarti Tanpa Manfaat

Tersesat, Bukan Berarti Tanpa Manfaat

yuanapurnama

Segerombolan orang  ini mengendarai motor beriring–iringan. Hampir semua berboncengan dengan motor yang sudah prima karena telah diinfokan akan medan yang akan mereka lalui. Tujuan mereka adalah desa di punggung gunung. Bukan lagi kaki gunung, karena ini sudah menjadi desa terakhir dan teratas sebelum hutan belantara yang menyelimuti pasak bumi.

Berdasarkan instruksi, mereka harus melewati Ketep Pass, ambil kanan, ketemu gapura, masuk, naik sampai menemukan desa terakhir di atas. Sesuai instruksi, beberapa ratus meter setelah pertigaan Ketep Pass mereka menemukan kantor desa, ada gapura langsung masuk dan menyusuri setiap tikungan, tanjakan dan batu terjal yang tak jarang memaksa motor menderu lebih kencang dan lebih kencang lagi. Tak jarang ada yang slip hingga terjatuh.

Kanan kiri tebing dan jurang bergantian. Senja mulai menyapa dan kabut pun mulai turun. Panorama luar biasa, hijau luas membentang. Kebun, sawah, tebing, jurang dan kabut yang makin turun membuat mereka terkagum – kagum. Awesome!

Hingga sekitar dua jam menyusuri, belum ada tanda-tanda bahwa mereka sampai di tempat tujuan. Hingga akhirnya, alamat didapat dan bertanyalah beberapa dari mereka ke warga. Dan sungguh tak disangka, mereka tersesat! Harusnya mereka masuk ke gapura hijau, bukan biru di bawah tadi. Akhirnya rombongan ini harus turun kembali, menyusuri jalan aspal yang sudah mulai gelap dan menemukan gapura hijau yang dimaksud untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke desa yang dituju. Lagi – lagi melewati track yang jauh lebih terjal, batu yang lebih runcing, dan tanjakan, turunan serta tikugan yang lebih tajam hingga sampai di lokasi yang tepat.

Keesokan harinya mereka menceritakan pada rombongan yang telah datang sebelumnya, dan sesama “rekan tersesatnya” tentang indahnya panorama yang mereka lihat di senja yang makin gelap, jalanan yang menantang, dan suasana cemas bersanding dengan kebersamaan dan harapan yang mereka rasakan. Tak ada yang disesali, karena toh pada akhirnya mereka menemukan desa yang telah menjadi tujuannya..

Begitulah kawan, hampir setiap manusia pernah mengalami ketersesatan. Sebesar dan sekecil apapun itu. Segagah dan selemah apapun dia, setiap insan tak pernah luput dari khilaf dan dosa masa lalu. Mungkin juga maksiat masa lalu yang masih berusaha ditinggalkan hingga kini. Mungkin ada yang meretapi betapa tak beruntungnya masa lalunya, membandingkan hidupnya dengan orang – orang yang telah menemukan jalan lurus dari kecil hingga saat ini. Namun masa ‘tersesat’ itupun adalah ilmu, bahwa kita pernah melihat pemandangan dari sudut yang berbeda, pernah merasakan apa yang belum pernah dirasakan orang kebanyakan. Dan yang lebih penting adalah mengetahui letak kesalahannya dan tak akan mengulanginya lagi. Hingga akhirnya…ini bisa diwariskan dan menjadi pelajaran untuk manusia di sekitarnya atau generasi penerusnya agar mereka tak lagi tersesat di jalan yang sama.

Jangan menyesal jika pernah tersesat, karena bisa jadi darinya banyak pelajaran yang didapat. Jangan menyesal jika pernah tersesat, tetaplah bersyukur dan tak henti bermunajat..agar Allah anugerahkan kita keistiqomahan meniti jalan yang tepat..

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.
QS. Ali Imran : 8

Oleh : Yuana Purnama Sari

FacebookBlog

 

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI

KEEP READING:

 

Write For Us

Artikel yang sedang Anda baca saat ini merupakan salah satu kontribusi karya tulis yang dikirimkan ke redaksi Fimadani. Jika tertarik untuk ikut berpartisipasi, silahkan ikuti petunjuknya di sini.

 

BERIKAN TANGGAPAN:

 
 

Copyright © 2011 - 2012 Madani Cyber Media | Bersatu Dalam Bingkai Madani