Surat Untuk Suamiku

Sabtu, 11 Juni 2011 (9:19 am) / Oase

Suamiku… Hari ini aku ingin berterima kasih padamu.

Karena tanpamu tak ada hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita.

Suamiku… Mengingatmu di 12 tahun yang silam, aku lupa bahwa aku belum berterima kasih padamu. Padahal kamu yang mengajariku, dengan mengucapkannya setiap hari padaku, karena katamu rumah ini selalu terlihat indah sebab aku tak pernah berhenti senyum jika melihatmu.

Suamiku… Tahukah, aku tak pernah sekalipun punya alasan marah padamu. Kau tak pernah berhasil melakukannya. Jika aku lalai dengan berbuat salah, kau menasihatiku tanpa ku merasa ternasehati olehmu. Kisah-kisah kekasih Rasulullah, selalu membuatku terpukau. Sering aku bertanya, bagaimana kau bisa begitu sempurna bercerita padahal disaat yang sama kau sedang menasihati istrimu yang banyak kekurangan ini.

Suamiku… Mengenang masa lalu sungguh membuatku malu. Kau menerima kekuranganku. Aku yang kurang pandai memasak, aku yang kurang pandai mengurus rumah, aku yang kurang pandai bergaul dengan teman-temanmu, banyak sekali kekuranganku. Tapi kau, rajin sekali mengajariku dalam banyak hal. Hingga ibumu memuji masakanku karena kau rela menjadi bahan percobaan resep-resep baruku, lalu rumah kita yang rapi karena kau selalu membantu memisahkan baju kotor atau menata ulang ruangan kita, dan kau pun yang rajin mengajakku bersilaturrahim ke keluarga besar atau ke teman-teman kita sampai teman-teman akhwatmu pun kini bersahabat denganku.

Ah suamiku… Sekarang si sulung dan si bungsu yang mambantuku memasak, merapikan rumah dan mereka yang rajin mengajak bersilaturrahim. Apa kubilang, kamu jago sekali mendidik mereka. Kadang aku cemburu, karena setiap malam mereka memintaku menceritakan masa mudamu (hanya beberapa kali mereka menanyakan seperti apa bundanya dulu). Sebagian cerita itu aku mengarangnya dan sisanya aku bertanya pada ibumu juga sahabat-sahabatmu seperti apa kamu dulu. Mereka penolongku, karena kita tidak mengenal sebelumnya kecuali beberapa bulan sebelum akad nikah.

Suamiku… Hari itu indah ya. Mungkin aku yang paling beruntung, karena ternyata kamu begitu pintar membuatku mengerti banyak hal tentang dunia yang aku tidak pernah tahu sebelumnya. Setiap katamu selalu penting bagi ku. Buku sajak yang kau berikan padaku malam itu, sampai sekarang masih tersimpan di rak buku kita yang 60 hari lalu kau tata ulang.

Suamiku… Sepertiga malam di 60 hari yang lalu membuatku jadi istri paling beruntung. Karena kamu bilang, di surga kelak hanya satu bidadari yang kamu pilih yaitu aku. Aku cemberut, karena aku tahu kamu bohong. Di surga pasti bidadarinya tak sejelek aku. Lalu kenapa kamu memilihku.

Pagi itu, usai subuh. Kamu memintaku mengantar anak-anak pergi ke sekolah karena kau mengeluh tidak enak badan dan memilih tidur sejenak sebelum berangkat ke kantor. Tidurmu begitu pulas, hingga anak-anak yang berpamitan ke padamu tak kau gubris. Rupanya waktu itu kau sedang berhadapan dengan maut. Badanmu keluar banyak keringat dingin, dan tiba-tiba si sulung mengambilkanku Al Qur’an dan membukakan surah Yasin untukku. Si sulung menjagamu ketika aku menghubungi keluarga besar kita lalu bergegas mengambil air wudhu. Kamu tak pernah sakit, tapi mengapa pagi itu Allah menatakan hidup yang baru untukku begitu cepat. Sedang anak-anak kita masih membutuhkan kasih sayangmu.

Jadi benar kamu sekarang di  surga sedang menghindari para bidadari itu, lalu memilih menungguku? Aku berusaha percaya padamu karena itu alasanku untuk berhenti menangisimu.

Suamiku… Si bungsu akan di wisuda TK. Dia mengafal Surah kesayanganmu di acara pelepasan. Ah suaramu masih kalah enak dengan si bungsu. Oh ya aku merekamnya, kata si bungsu “bunda setelah surah Ar Rahman, surah kesayangan ayah yang lain apa ya bunda, kan waktu itu ayah belum sempat bilang?” sudah lama aku tak menangisimu, mendengar pertanyaan yang tak mampu ku jawab, air mata leleh lagi. Untung ada si sulung yang mengalihkan pertanyaan si bungsu.

Bulan depan si sulung akan melanjutkan pendidikan menengahnya di pondok pesantren pilihanmu. Aduh ayah, testnya susah sekali. Untung si sulung cerdas sepertimu.

Suamiku… Aku tahu, maut bukan memisahkan kita.

Tapi menyatukan kita di masa yang lebih kekal.

Asal kau janji, jangan lirik bidadari yang lain yah disana.

(Kau tidak berhasil membuatku marah, tapi dengan sukses kau membuatku cemburu. Ah ayah)

 

-terinspirasi dari cerita sesosok bunda yang tegar, terimakasih untuk berbagi di 21 Mei 2011-

Fayza sari

facebooktwitter

 

Redaktur: Tata Rifa

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih