Setelah Kondom untuk Remaja, Menkes Kampanyekan ‘Pacaran Sehat’

Jumat, 13 Juli 2012 (1:48 pm) / Uncategorized

Di tengah era keterbukaan informasi, model pacaran anak remaja mulai banyak yang mengarah ke pergaulan bebas. Menyambut hari anak nasional 23 Juli 2012, Menteri Kesehatan mengingatkan bahwa remaja harus menjaga model pacaran yang sehat. Seperti apa model pacaran yang dimaksud?

Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Mboi, SpA(K) mengatakan, masa pacaran adalah masa untuk saling mengenal sebelum memasuki tahapan selanjutnya yakni pernikahan. Jangan sampai karena tidak saling kenal, setelah menikah justru bertengkar lalu terpaksa bercerai.

Pacaran dikatakan tidak sehat apabila pada tahapan tersebut masing-masing tidak bisa menahan nafsu kemudian mulai menyimpang dari tujuan semula yakni saling mengenal lebih dekat. Mulai dari saling raba, lama kelamaan mengarah pada hubungan yang berisiko termasuk di antaranya seks bebas.

“Pacar yang baik adalah pacar yang bikin kita lebih baik. Kalau perempuan jadi calon istri yang baik, laki-laki jadi calon suami yang baik,” pesan Menteri Kesehatan usai membuka seminar Peringatan Hari Anak Nasional 2012 di gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (13/7/2012).

Seks bebas dan seks pranikah dikatakan sebagai perilaku berisiko karena memang banyak risikonya. Bukan cuma bisa menularkan HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan infeksi seksual lainnya, tetapi juga berisiko menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Menteri Kesehatan menambahkan, kehamilan di usia yang terlalu muda akan merampas salah satu hak anak yang paling mendasar yakni untuk tumbuh dan berkembang secara wajar. Jika kemudian terjadi aborsi, maka janin yang menurut undang-undang juga sudah dikategorikan sebagai anak yang harus dilindungi haknya, juga akan terampas hak hidupnya.

Mengenai jumlah remaja yang sudah terlibat seks bebas, Menteri Kesehatan mengaku tidak memiliki data yang pasti. Beberapa penelitian memang pernah dilakukan dan salah satunya menunjukkan bahwa 10 persen remaja sudah melakukan seks bebas, tetapi data tersebut belum tentu relevan untuk menggambarkan kondisi di daerah lain.

Pacaran Islami Seperti Apa?

Ustadz Ahmad Sarwat, dalam konsultasi syariahnya mengenai kasus orang tua yang menginginkan anaknya pacaran daripada menikah memberikan gambaran mengenai “pacaran Islami”.

“Maka yang kita perlukan sekarang ini adalah cara bagaimana ‘pacaran Islami’. Sesungguhnya dalam syariah Islam, seorang laki-laki itu dibolehkan pergi bersama wanita calon isterinya, dengan syarat disertai oleh ayah atau salah seorang mahramnya.

Dbiolehkan mengajaknya ke tempat yang boleh dikunjungi untuk mengetahui, dengan tujuan untuk mengetahui kecerdikannya, perasaannya dan kepribadiannya. Semua ini termasuk kata sebagian yang disebut dalam hadis Nabi di atas yang mengatakan: `... kemudian dia dapat melihat sebagian apa yang kiranya dapat menarik dia untuk mengawininya.`

Dibolehkan juga si laki-laki melihat perempuan dengan sepengetahuan keluarganya; atau sama sekali tidak sepengetahuan dia atau keluarganya, selama melihatnya itu bertujuan untuk meminang. Seperti apa yang dikatakan Jabir bin Abdullah tentang isterinya: `Saya bersembunyi di balik pohon untuk melihat dia.`

Bahkan dari hadis Mughirah di atas kita tahu, bahwa seorang ayah tidak boleh menghalang-halangi anak gadisnya untuk dilihat oleh orang yang berminat hendak meminang dengan dalih tradisi. Sebab yang harus diikuti ialah tradisi agama, bukan agama harus mengikuti tradisi manusia.

Namun di balik itu, seorang ayah dan laki-laki yang hendak meminang maupun perempuan yang hendak dipinang, tidak diperkenankan memperluas mahramnya, seperti yang biasa dilakukan oleh penggemar-penggemar kebudayaan Barat dan tradisi-tradisi Barat. Ekstrimis kanan maupun kiri adalah suatu hal yang amat ditentang oleh jiwa Islam.”

Jadi, menurut Ustadz Ahmad Sarwat, “pacaran Islami” hanya dapat dilakukan saat pihak laki-laki akan melamar pihak perempuan.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih