onislam | republika | tribune

Konflik puluhan tahun di Selatan Thailand, melonggarkan tali persaudaraan antara komunitas muslim Pattani dan masyarakat Thailand yang mayoritas Buddha. Sejatinya, keduabelah pihak tentu tidak menginginkan tali persaudaraan lebih banyak diisi dengan saling benci dan curiga.

Beragam upaya dilakukan untuk mempererat kembali tali persaudaraan itu. Salah satunya melalui olahraga, khususnya sepakbola. Mengapa sepakbola? Sebab bahasa dalam sepakbola dianggap memudahkan kedua belah pihak yang berbeda secara budaya untuk saling berbaur satu sama lain.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

“Kami tidaklah berbeda, baik Muslim, Budha atau Kristen,” ungkap Samae Samak, salah seorang muslim muda, seperti dikutip onislam.net, Senin (21/5). “Kita semua adalah teman,” tambah dia.

“Di Pattani, tidak peduli seberapa jauh orang hidup atau jika ada kejadian, mereka datang untuk menonton pertandingan sepak bola,” kata Pitsarok Rujakat, pemain Buddha yang berasal dari utara negara itu menimpali koleganya itu.

Dalam pertandingan itu, komunitas muslim bergabung dalam klub Pattani FC, dan saudara mereka, yang beragama Buddha tergabung dalam tim Narathiwat FC. Pertandingan berlangsung di Stadion Rainbow, Pattani.

Presiden Asosiasi Perempuan Selatan untuk perdamaian, Huda Longdewaa mengatakan permasalahan yang terjadi di Selatan adalah terlalu banyak tentara. “Perdana Menteri memerintahkan adanya darurat militer, tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah apapun,” katanya.

Sebagai respon dari berbagai pihak, milter Thailand coba melakukan pendekatan lain. Tepatnya, sebulan yang lalu, tentara-tentara Thailand mulai mengunjungi sebuah masjid di desa Bangma di Pattani setiap Ahad guna membahas masalah konflik dengan para imam. Tidak hanya membahasa masalah konflik, para imam juga memberikan penjabaran tentang dasar Islam dan bahasa Melayu.

“Mereka tidak tahu banyak. Tugas kami untuk memberikan mereka pengetahuan tradisi lokal,” kata salah seorang imam, Kono Samae.

Thailand memiliki populasi Muslim sekitar 9,5 juta, banyak dari mereka tinggal di daerah pedesaan. Mereka umumnya beretnis melayu.

Lebih dari 5.000 orang tewas di Thailand selatan sejak kekerasan meletus hampir delapan tahun lalu.


Redaktur: Shabra Syatila

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI