Selamat Berbuka Puasa

Sabtu, 25 Februari 2012 (5:01 pm) / Journal Redaksi

Bismillah,

Kumulai tulisan ini dengan menyebut nama Allah. Agar tulisan yang sedikit ini, membawa manfaat sebanyak–banyaknya. Jika di dalamnya terdapat kesalahan, maka hal itu pasti. Karena penulisnya hanyalah manusia biasa. Kata Radja, “ Aku … hanyalah .. manusia biasa, yang tak pernah lepas dari kesalahan.”. Oleh karenanya, mohon dimaafkan dan dikoreksi, untuk kebaikan bersama.

Baiklah,

Setelah Basmalah, aku ingin berdoa, bagi pembaca, silahkan mengamini, “Barokallahu lakuma, wa baroka alaikuma, wa jama’a bainakumaa fii khoir. Semoga Allah memberi  keberkahan kepadamu, keberkahan atas kalian berdua dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Amiin Ya Robbal ‘alamiin. Doa inilah doa terbaik bagi saudaraku Ibrahim Vatih (CEO Fimadani) dan Dewi Lestari (HRD Fimadani) yang hari ini melaksanakan akad nikah. Semoga setelah ikatan suci ini, keduanya semakin bertambah kebermanfatannya untuk diri juga umat seluruhnya.

Ini, kutulis untuk kedua mempelai, yang sudah menjadi suami istri dan yang belum juga menemukan belahan hati -juga diriku di dalamnya. Ya, ini adalah nasehat untuk diri sendiri. Nasehat yang sangat dianjurkan diberikan kepada saudara sesama muslim, juga saudara sesama umat manusia. Karena sabda Nabi, “Agama adalah nasehat.”

Saudaraku,

Menikah bukanlah akhir. Ia adalah permulaan. Maka, permulaan sangatlah menentukan baik dan buruknya proses berikutnya. Jika menikah yang dijalani hanyalah diniatkan untuk meraih Ridho Allah, maka yakinlah ! Bahwa sesudahnya adalah Barokah. Begitupun sebaliknya, Jika menikah hanya karena ingin memuaskan nafsu, atau atribut duniawai lainnya, maka bersiaplah berada dalam kecewa. Tentunya, kita berharap, semoga niat kedua mempelai dan niat kita kelak dalam menikah adalah karena Allah bukan yang lainnya.

Menikah itu berubah. Yang tadinya lajang, sekarang menjadi sepasang. Maknanya, setelah menikah, kita akan mempunyai pendamping. Dimanapun kita berada. Entah di kamar, di dapur, di rumah, di jalan, di masjid, ketika ke pasar, ketika pergi haji dan seterusnya. Maka, kebersamaan ini jangan hanya dimaknai kebersamaan fisik. Karena bagaimanapun, fisik sangatlah terbatas. Maknailah ia dengan kebersamaan ruhani. Kebersamaan jiwa. Meski diri berpisah, tapi hati selalu berpelukan. Oh, Indahnya! Jadi, ketika suami tugas ke luar negeri, tugas ke luar kota atau ada urusan diluar, sang istri bisa terus membersamainya, baik dengan doa juga bertemunya dua hati dalam naungan cinta ilahi. Lalu bertanyalah, “ Jika kita sudah menikah tapi masih merasa sendiri?”, Bisa jadi ada yang salah dengan diri kita.

Menikah itu asyik. Ups! Maaf, kayaknya salah ketik. Maksud saya, “Menikah itu nikmat.” Hmmm, sama saja ya? Iya. Menikah itu nikmat. Tanya saja kepada yang sudah menikah. Ketika lelah, ada yang mijitin. Ketika mau makan, ada yang nemenin, ketika bosan ada yang menghibur, ketika nyuci, ada yang bantuin. Ketika masak, ada yang bantu menghabiskan. Hahaha. Oh iya, ketika lagi gak punya uang, ada yang minta uang. Hehehe. Singkatnya, setelah menikah ada sandaran untuk berbagi, tanpa batas, dimana dan kapan saja. Semoga kita dikaruniai pasangan yang selalu menikmati kebersamaan dengan kita, apapun kondisinya, hingga kita benar-benar berpisah dengan dia yang kita cintai untuk kemudian bersatu dalam reuni akbar di JannahNya, Aamiin.

Saudaraku,

Menikah adalah seni. Ia adalah seni mengolah kehidupan. Seni itu indah, begitupun dengan nikah. Ia akan bertabur keindahan, kapan dan dimana saja, tergantung kemauan kedua pasangan nikah itu. Contohnya? Begini : “Saya pulang kerja. Waktu itu kerjaan lagi sepi. Tanggal tua pula. Dipastikan, saya pulang dengan kantong kosong. Namun, hati saya dipenuhi cinta. Sesampainya di rumah, ada bidadari berjilbab pink yang menyambut dengan senyum manja. Ia menjawab salamku dengan lembut, lebih lembut dari es krim yang paling lembut. Kemudian ditariklah tanganku untuk dia salami. Dicium dikeningnya. Katanya, “Mau makan apa, Mas?” Suaranya merdu sekali. Semerdu kicauan burung di pagi buta. Jawabku, “Emang Adik masak apa ?” tanyaku, agak galau karena pagi tadi aku tidak meninggalkan uang untuk masak sore hari. Uangku habis. Apa jawab istriku? “Ada sayur asem, campur tempe disambeli. Meski seadanya, Adik memasaknya dengan bumbu cinta lho mas,” Subhanallah …

Menikah adalah ekspresi cinta. Jangan ragu untuk mengatakan, “Aku cinta padamu” kepada pasangan halalmu. Ungkapkan kebaikan setiap berjumpa dengannya. Tegur ia jika terbukti bersalah dan melanggar aturan Allah. Nasehati dengan cinta, sentuh ia dengan kasih sayang. Hindari sentuhan fisik ketika marah. Karena itu adalah perbuatan keji, tidak disukai Nabi juga dilarang oleh norma. Maka, cintailah pasanganmu sepenuh jiwa niscaya ia akan mencitaimu, seperti cintamu padanya.

Saudaraku,

Pasanganmu bukanlah malaikat. Ia adalah manusia biasa seperti halnya dirimu. Jangan berharap kesempuranaan darinya. Karena itu sia-sia dan tidak mungkin bisa. Maka, terimalah kekuranganya sebagaimana kau menerima kekuranganmu sendiri. Kemudian jadilah kedua insan yang senantiasa setia dalam setiap kondisi. Saling menasehati. Baik nasehat dalam kebenaran, nasehat dalam kesabaran, maupun nasehat dalam kasih dan sayang. Jika kau bisa melakukan ini, maka riak gelombang kehidupan, tidak akan membuat perahu kalian goyah. Gelombang dan badai itu, hanya akan membuat pelukan kalian semakin kencang. Kemudian kalian berdua akan bersegera berlari menuju Allah, karena Dialah Maha Penolong atas setiap persoalan hambaNya.

Saudaraku,

Keluarga pasanganmu adalah keluargamu juga. Hargai mereka sebagaimana kau menyayangi keluargamu. Jangan anggap mereka orang asing. Bagaimanapun, keberadaan keluarganya, telah berperan dalam menghadirkan dirinya sehingga menjadi pasanganmu. Maka, setelah itu, kau akan memiliki keluarga baru. Semoga ia juga menerima keluargamu apa adanya. Dan belajarlah dari mereka. Rajutlah tali silaturahim dengan mereka sehingga hidupmu berkah, rizkimu berlimpah dan umurmu panjang dalam keberkahan pula.

Saudaraku,

Tak baik jika aku berlama lama menulis ini. Karena aku, sama sepeti dirimu : masih belajar. Mudah mudahan yang sedikit ini, banyak manfaatnya.

Pesan terakhir, “Hadirkan kenikmatan-kenikmatan ruhani diantara kalian berdua.” Menikah, tak dipungkiri siapapun , pastilah menghadirkan kenikmatan fisik bagi kedua pasangan. Jika menikah hanya untuk mendapat kenikmatan itu, maka alangkah meruginya kita. Karena hewanpun mendapatkan kenikmatan serupa. Maka, ciptakanlah kenikmatan-lennikmatan ruhani dalam tiap jenak kehidupan kalian berdua. Agar dunia serasa surga.

Bangunkan pasanganmu untuk tahajud bersama. Rasakan indahnya suara suamimu ketika ia melantunkan ayat-ayat Allah disepertiga  malam terakhir. Minta ia untuk membaca dengan tartil. Maka, air matamu dan air matanya, akan bertemu dalam ketaatan. Rasakan indahnya, ketika isak tangis kalian berdua bertemu dalam mentadabburi ayat – ayat Allah. Subhanallah ….

Kemudian, ajak ia untuk menikmati santap sahur bersama. Ajak ia untuk rutin dalam berpuasa sunnah, semampu kalian. Maka, nikmat sahur berdua, akan membuat kalian semakin bertaqwa, karena ada yang mau menyiapkan makanan bagi kita ketika sahur. Dimana sebelumnya, kita hanya ditemani “Magic Jar” ketika melahap makanan penuh berkah itu.

Belum lagi ketika kalian berdua menanti buka puasa bersama. Suamimu menyiapkan es teh, sedangkan istrimu sibuk memasak menunya. Sesekali, kalian bergantian dalam mengulang–ngulang hafalan al-Qur’an. Allahu Akbar Walillahil hamd. Kupastikan, masakan kala itu akan lebih nikmat dibanding hari biasanya. Buktikanlah !

Jangan lupa pula dengan tilawah bersama. Bergantianlah. Kau membaca, istrimu mendengarkan. Ketika pasanganmu membaca, maka nikmati indah suaranya dalam melantunkan ayat –ayat Allah. Jika di tengah jalan ia salah baca ayat, cubitlah sedikti dan katakan padanya, “Mikirin saya ya, Cin? Kok bacaannya salah ?”

Ups! Ada yang lupa, jangan lupa bedoa agar anak yang terlahir adalah sholih dan sholikhah. Azamkan untuk menghasilkan keturunan terbaik dengan jumlah terbanyak. Karena kita hanya boleh memilih dua hal : Menjadi pelaku kebaikan atau pelaku keburukan. Semoga yang terlahir dari pernikahan kalian juga kami kelak, adalah Pelaku Kebaikan. Minimal, pendukung kebaikan. Amiin.

“Di jalan cinta para pejuang, kesetiaan bukanlah pada istri atau suami kita. kesetiaan di jalan ini, hanya kepada Allah, Rasul dan Syari’atNya.” Demikian nasehat bijak ustadz Salim A Fillah. Semoga Allah semakin mengokohkan pijakan antum berdua dalam memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah.

“ Selamat Berbuka Puasa …..

Dari Saudaramu di Jalan Dakwah

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014