Sebuah Dimensi Cinta

Kamis, 14 Juli 2011 (8:01 am) / Tsaqafah

Cinta memang universal, kaya dengan dimensi, ragam dengan corak. Cinta menyimpan berjuta pesona dalam kehidupan, sehingga dengan cinta, apa yang ada akan terus terasa indah. Demikianlah, keindahan cinta tidak terbayangkan oleh ilustrasi khayalan. Sajak-sajak puisi dan kata-kata mutiara para pujangga sekalipun tidak akan sanggup menggambarkan keelokan cinta.

“Sungguh Kami telah menjadikan apa yang ada dalam bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al Kahfi : 7)

Isi dari indahnya cinta hanya dapat dirasakan oleh mereka yang sedang dilanda cinta. Jalaludin Rumi menggambarkan dahsyatnya cinta sebagai berikut;

“Cinta dapat mengubah rasa getir menjadi semanis madu. Bisa mengubah kekeruhan hidup menjadi bening yang menyejukkan. Luka yang menganga menjadi sembuh seketika. Sakit yang teramat menyiksa menjadi tak terasa. Bongkahan baja bisa menjadi lebur. Batu yang kokoh bisa menjadi debu.”

Dengan cinta, seseorang akan melakukan apa saja demi sesuatu yang dipuja, baik dan buruk, hitam dan putih, halal dan haram akan dilakukan. Inilah yang biasa mereka sebut “bagaikan pisau bermata dua”. Satu sisi berguna, sisi yang lain dapat menjerumuskan pada hal-hal berbumbu berdosa.

“Adapun yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, sesungguhnya neraka menjadi tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut pada kebesaran tuhan dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah tempat tinggalnya.” (An Naziat: 37-40)

Orang-orang yang beriman dapat mencintai segala sesuatu, yang awal dan akhir, mencintai kepedihan musibah sebagaimana mencintai limpahan nikmat. Mencintai kematian sebagaimana mencintai kehidupan. Mencintai suka sebagaimana mencintai duka.

“Sungguh indah urusan orang yang beriman, semua urusan yang ada padanya adalah kebaikan. Yang demikian itu hanyalah dimiliki oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kegembiraan, maka ia bersyukur dan syukur itu menjadi kebaikan baginya. Demikian juga ketika ia mencapatkan cobaan, maka ia bersabar, dan sabar itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Begitulah, dengan cinta semuanya terasa indah, kesulitan tidak terasa sebagaimana beban karena memang disikapi dengan sabar. Pada saat orang lain berputus asa dan bersedih, ia malah berperangai lembut dengan kesabaran.

Dengan sorotan cinta dan senyum kasih sayang ia sapa segala kenikmatan dengan tidak membusungkan dada. Ia menikmati kehidupan ini dengan penuh ketawadhu’an.

Redaktur: Farid Zakaria

Copyright © 2011 – 2014