Sambut Ramadhan, Ahli Waris Sunan Kalijaga Gelar Larung Sesaji

Senin, 9 Juli 2012 (6:55 am) / Uncategorized

Menyambut datangnya bulan Ramadhan, keluarga Ahli Waris Sunan Kalijaga menggelar Larung Sesaji di pantai Utara Jawa, Minggu (8/7/2012). Ritual yang diikuti oleh 612 Sukerta atau peserta ruwatan dilaksanakan setiap tahun, sebagai salah satu prosesi ruwatan, dengan maksud menghilangkan sesuker atau sial maupun sengkala.

Larung sesaji ini adalah prosesi terakhir setelah ruwatan yang diselenggarakan pada bulan Sura dan Rajab beberapa waktu lalu. Menurut Ketua Panitia Larungan, Drs H Suwadi MM , dalam kepercayaan masyarakat Jawa, anak yang memiliki sengkala atau aura negatif perlu diruwat supaya selamat dan terhindar dari makhluk jahat maupun nasib buruk yang menimpa mereka.

Sukerta perlu diruwat seperti Ontang-anting (anak tunggal), anak kembar, Pendhawa, Kedhana- kedhini (dua anak laki-laki dan perempuan) dan masih banyak lagi istilah jawa untuk para Sukerta yang harus diruwat. Larung Sesaji dilepas pantai ini, dimaksudkan untuk menyempurnakan prosesi ruwatan yang telah diikuti oleh para Sukerta. Sehingga Sengkala atau aura negatif yang telah dihilangkan melalui ruwatan benar-benar sirna ditelan samudera.

“Momentum ini juga menandai kesiapan para Sukerta memasuki bulan Ramadhan supaya jiwa mereka bersih. Sehingga puasa lebih sempurna dan mendapatkan berkah di bulan Ramadhan,” terang Suwadi.

Ubo rampe yang dilarung ke tengah laut tersebut berupa rambut, kuku, kain mori putih dan tali lawe yang dikenakan Sukerta saat mengikuti ruwat. Selain itu barang-barang pribadi diibaratkan sebagai sesuker atau sebel-sial juga turut serta dibuang di laut lepas.

“Semoga setelah acara ini kesulitan hidup yang selama ini mengitari para Sukerta benar-benar hilang. Mereka yang diruwat berikut segenap panitia juga terhindar dari balak dan malapetaka serta terhindar dari pengaruh buruk Sang Kala, termasuk wartawan yang ikut meliput kegiatan ini,” kata Suwadi, lantas tersenyum.

Tradisi Hindu

Menurut Yahoo Answers, Larung sesaji adalah tradisi/kebiasaan masyarakat untuk mengucapkan rasa syukur atau menghilangkan kesialan pada diri orang-orang tertentu. Tradisi ini merupakan salah satu cara ibadah agama Hindu di Indonesia sejak masa lalu, namun tetap dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Islam, terutama kalangan Islam Abangan.

Kebiasaan itu lahir pada saat masyarakat belum memahami konsep ketuhanan yangg sebenarnya, karena yang mereka kenal adalah dewa-dewa, termasuk dewa penguasa laut, gunung, dan lain-lain, maka rasa syukur itu mereka terjemahkan dengan memberikan sesuatu kepada penguasa (contoh:penguasa laut) dengan cara dihanyutkan, dilepas, atau dilarung.
Konsep kepercayaan ini jelas bukan merupakan inti ajaran Islam, bahkan sangat bertentangan.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih