Salafi Mesir: Sepakbola Profesional Hukumnya Haram

Rabu, 8 Februari 2012 (12:19 pm) / Uncategorized

Seorang ulama Salafi Mesir terkemuka, Syekh Abdul Mun’im Asy Syahat, mengeluarkan klarifikasi atas pernyataan sebelumnya, dimana ia mengatakan bahwa ketika ia dikutip mengatakan “sepak bola dilarang dalam Islam” yang ia maksud adalah sepak bola profesional yang memiliki nilai komersial.

Ulama itu juga membantah mengatakan bahwa korban pembantaian sepak bola yang berlangsung Rabu lalu bukanlah syahid. Dia mengatakan korban adalah subyek pembunuhan tidak adil, tetapi tidak semua orang yang tidak adil terbunuh adalah syahid.

Juru bicara Gerakan Dakwah Salafiyah di Mesir, Syekh Abdul Mun’im Asy Syahat, yang gagal untuk memperoleh kursi di parlemen pada pemilu setelah Revolusi 25 Januari, mengatakan mereka yang meninggal di stadion Port Said di Mesir Utara, sebagian besar adalah anggota kelompok penggemar sepakbola Ultras yang tidak mengorbankan hidup mereka untuk Allah.

“Mereka tidak dalam perang demi Allah, mereka hanya bersenang-senang. Kesenangan tersebut mengalihkan perhatian umat Islam dari beribadah pada Allah,” katanya dalam khotbah yang dia berikan hari Senin di sebuah masjid di kota Mediterania Alexandria.

Syaikh Asy Syahat menambahkan bahwa “kesenangan” yang membawa korban ketika mereka pergi ke stadion dilarang dalam Islam adalah persoalan utama.

“Hanya tiga olahraga yang diperbolehkan dalam Islam: memanah, berenang, dan menunggang kuda. Olahraga lain dilarang. “

Syaikh Asy Syahat menambahkan bahwa sepak bola adalah olahraga yang diimpor dari Barat dan mengkritik pemain sepak bola yang bergabung klub asing. “Sayangnya, seperti di Barat, pemain sepak bola bermain di klub luar negeri dan mendapatkan gaji yang sangat tinggi, sementara banyak ulama yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan.”

Syaikh Asy Syahat berpendapat bahwa uang yang dihabiskan untuk sepak bola seharusnya digunakan untuk kompetisi membaca Al Quran.

Syaikh Asy Syahat dikenal kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial, terutama yang tentang menutupi patung yang dianggapnya “berhala” dengan lilin dan menggambarkan tulisan-tulisan pemenang Nobel Sastra dari Mesir, Naguib Mahfouz, sebagai “sastra prostitusi.”

alarabiya | fimadani

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014