nasionalblitz.com

Target pemerintah membebaskan Indonesia dari narkoba tahun 2015 sulit dicapai jika tidak ada kemauan politik dan tindakan tegas aparat terkait. Bahkan, kini Indonesia justru berubah menjadi pasar narkoba jenis sabu terbesar di dunia setelah Thailand.

Eksekusi puluhan terpidana mati kasus narkoba masih tertunda hingga belasan tahun, sementara sejumlah pengungkapan dan penuntasan kasus ini masih terkendala miskoordinasi dan terbentur sejumlah kepentingan elite.

Demikian rangkuman wawancara terpisah dengan Direktur Narkotika Alami Brigjen (Pol) Benny Josua Mamoto, Ketua Umum DPP Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat, dan komisioner Komnas HAM, Syafrudin Ngulma Simeulue, Rabu (25/1/2012).

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Benny mengakui, BNN tidak memiliki data valid mengenai peta pasar dunia narkoba jenis sabu. ”Namun, dari pengakuan para bandar kelas dunia yang kami tangkap, terutama dari seorang bandar sabu Thailand, mereka menyebut Indonesia saat ini sebagai pasar sabu terbesar di dunia setelah Thailand.”

Presiden

Henry berpendapat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan lembaga tinggi negara penegak hukum belum memiliki kemauan politik memenuhi target Indonesia bebas narkoba pada 2015. ”Nyatanya sampai sekarang puluhan terpidana mati kasus narkoba tertunda eksekusi matinya. Ironisnya, mereka inilah yang membangun bisnis sabu dari balik penjara.”

Kepala BNN Gories Mere, sebelumnya, mengatakan, saat ini 58 terpidana mati masih menunggu eksekusi. Ironisnya, setelah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika berlaku, tak seorang pun terpidana mati itu dieksekusi. Padahal, sebanyak 58 terpidana mati ini divonis sebelum berlakunya UU tersebut.

Sumirat Dwianto dari Humas BNN menambahkan, jumlah semua terpidana mati ada 72 orang. Namun, entah mengapa, sebagian mendapat remisi, sebagian lain bahkan dibebaskan.

Syafrudin mendesak para penegak hukum tegas, termasuk mengeksekusi mati para terpidana mati bandar narkoba. ”Sejauh itu langkah penegakan hukum, Komnas HAM justru mendesak Presiden dan para penegak hukum bertindak keras dan cepat terhadap para bandar narkoba.”

Pekan ini, Henry berencana mengerahkan ribuan anggota Granat untuk mendesak Kejaksaan Agung mengeksekusi para terpidana mati.

Kompas | Fimadani


Redaktur: tamyiz

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI