Bagaimana Menghadapi dan Mengatasi Konflik? Para psikolog bersepakat bawah konflik haruslah diselesaikan demi mencegah timbulnya kebuntuan dan tuduhan, serta untuk melancarkan (kembali) komunikasi dan hubungan baik. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana?” Sederhana. Berikut ini, enam model pendekatan yang berbeda, sebagai bentuk respon dalam menyelesaikan konflik: penyelamatan diri, bertarung, menyerah, menghindari tanggung jawab, kompromi, atau mencapai kesepakatan.

1. Kabur

Ini sama dengan menyelamatkan, meloloskan, atau melarikan diri. Dalam hal ini, konflik tidak diselesaikan, maka menyisakan situasi yang sama dengan kondisi semula. Mudah disimpulkan, bahwa kedua belah pihak tidak mendapatkan hasil apa pun. Situasinya: kalah-kalah.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

2. Bertarung

Dia menghadapi konflik dengan agresif, hanya untuk satu tujuan: MENANG. Tapi, menang sendirian di satu pihak saja, dengan mengalahkan pihak lain, tidaklah cukup (baik). Pendekatan satu ini terjadi dengan menaklukkan pihak lain, sembari menegaskan posisi/kepentingannya saat ia menghadapi penolakan dari pihak lain. Hasil akhirnya berupa situasi menang-kalah.

3. Menyerah

Dia mengambil posisi menyerah, menyelesaikan konflik dengan mengundurkan diri. Hasilnya berupa situasi kalang-menang.

4. Menghindari tanggung jawab

Dia merasa kewalahan mengatasi konflik, karenanya dia sering hanya mendelegasikan wewenang –beserta dengan potensi konfrontasi yang mungkin terjadi– kepada otoritas (pihak) lainnya, biasanya ke pihak yang lebih berwenang. Pemegang otoritas baru ini menyelesaikan konflik untuknya, tapi tidak secara bijaksana. Atau lebih buruk lagi, tidak sesuai dengan harapan ideal si pemberi wewenang. Ada resiko buruk yang bisa terjadi, yakni masing-masing pihak akan merasa kalah. (Situasi: kalah-kalah).

5. Berkompromi

Bergantung pada bagaimana Anda memahami, sebuah kompromi adalah solusi yang “dapat diterima” oleh kedua belah pihak. Sering dirasakan meskipun solusinya tidaklah ideal, tapi kondisi ini memang beralasan, mengingat adanya pergolakan yang ada (menang-kalah/menang-kalah).

6. Gapai kesepakatan

Konsensus, kesepakatan bersama, sebagai hasil dari pengembangan solusi baru dari kedua pihak. Hasilnya berkebalikan dengan kompromi, berbentuk situasi menang-menang bagi kedua pihak. Ini dapat terjadi, karena tak satupun pihak yang diharuskan untuk mundur, untuk kemudian menyerah atau putus asa. Bahkan, kedua pihak mengembangkan kerangka persetujuan dari “alternatif ketiga” secara bersama-sama.

Seorang trainer Public Speaking dan pembicara dengan prinsip pelatihan yang menghibur, memberdayakan, dan menggerakkan, sekaligus seorang penulis yang terus menajamkan inspirasi menuju lingkaran pengaruh seluas mungkin. Tulisan dan aktivitas beliau bisa dilihat di websitenya; http://riopurboyo.com/

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI