foto: Iman Herdiana/okezone

Ali Azhar Akbar, penulis buku Lapindo File dikabarkan hilang. Dia tidak hadir di acara peluncuran Buku dan Diskusi Publik Nasional “Lapindo File” Konspirasi SBY-Bakrie? di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB). Ali dikabarkan menghilang sejak tiga hari lalu tanpa alasan yang jelas.

Direktur Penerbit IndoPetro Publishing, penerbit buku berjudul “Lapindo File Konspirasi SBY-Bakrie”, Kusairi mengatakan dia lost contact dengan Ali. Kusairi berusaha menghubungi nomor HP sang penulis, namun selalu mailbox. Kontak terakhir dengan Ali terjadi Selasa 19 Juni lalu. Saat itu Ali menyatakan akan hadir di acara bedah bukunya di ITB.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Sebelumnya, Ali memang dikenal sebagai seorang aktivis yang kerap bersuara lantang mengenai lumpur Lapindo. Siapa dia?

Ali merupakan alumni Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat. “Ali lulusan Teknik Perminykan ITB. Lalu melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Beliau rumahnya di Bekasi,” kata Kusairi, di sela diskusi buku di ITB, Jumat (22/6/2012).

Kusairi yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Indopetro menambahkan, Ali juga sebagai aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan juga di YLBHI.

Buku berjudul “Lapindo File Konspirasi SBY-Bakrie” ini hasil penelitian Ali dan kawan-kawan selama empat tahun, yakni dari 2006-2010. “Dan buku ini setengahnya berisi data yang selama ini tidak dipublish ke publik, data yang sangat sulit mencarinya,” ungkap dia.

Misalnya, laporan harian perusahaan Lapindo, tentang SDM-nya dan pertambangan migasnya. Buku Lapindo File yang ditulisnya pertama kali terbit pada 28 Mei 2012, sehari sebelum peringatan Lumpur Lapindo yang ke-6. Buku ini dicetak sebanyak 15 ribu eksemplar yang disebar ke berbagai toko buku di Indonesia.

Kata Kusairi, setelah bukunya diterbitkan Ali sering menerima teror berupa SMS. “Sejak ajukan judicial review ke MA, dari situ ada ancaman. Misalnya ‘Kalau pemerintah enggak nanggung ya bagaimana, Anda mau nanggung?’. Tak hanya itu Ali juga kerap menerima ancaman teror lain yang bersifat fisik.

Ketika kehilangan kontak, Kusairi mengaku curiga khawatir ada hal yang tidak diinginkan menimpa Ali. “Teror selain terkait buku juga terkait dengan pengajuan judicial review ke MK,” tambahnya.

Dalam judicial review ini, pihaknya dan Ali menggugat pasal 18 UU APBN yang menggelontorkan uang ke korban lumpur Lapindo. Tujuannya, membuktikan bahwa kasus Lumpur Lapindo sebenarnya tanggung jawab perusahaan.

“Dalam pengeboran sendiri ada indikasi pelanggaran SOP dalam pertambangan migas tersebut. Ketika pemerintah menggelontorkan dana APBN, seharusnya sebagai pembayar pajak kita protes. APBN seharunya digunakan untuk kesejahteraan rakyat, ketika itu dilakukan oleh perusahaan, ya perusahaanlah yang menanggung. Bukan kemudian rakyat kebanyakan yang menanggung,” bebernya.

Disinggung mengenai hilangnya penulis buku karena strategi pemasaran supaya buku laku, Kusairi membantahnya. “Enggak. Tidak ada. Kita tidak mungkin mengkhianati publik,” tegasnya.

Meski begitu, dia tidak memungkiri buku setebal 449 itu berdampak politis. Karena menyangkut nama-nama seperti Aburizal Bakrie dan SBY. “Politiknya tidak dipungkiri bagi pihak-pihak yang punya kepentingan politik. Tapi Buku ini sebenarnya pure ilmiah. Bebas diperdebatkan,” tuturnya.


Redaktur: Farid Zakaria
Sumber: okezone.com

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI