Mensyukuri Nikmat Allah Akan Menyempurnakan Tauhid

Jumat, 7 Juni 2013 (7:24 am) / Aqidah

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata “Ini adalah hak-Ku.” (QS. Fushshilat, 50).

Dalam menafsirkan ayat ini Mujahid mengatakan, “Ini adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak memilikinya.” Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan, “ini adalah dari diriku sendiri.”

Ayat di atas menunjukkan kewajiban mensyukuri nikmat Allah dan mengakui bahwa nikmat tersebut semata mata berasal dari Allah, dan menunjukkan pula bahwa kata kata seseorang terhadap nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya, “Ini adalah hak yang patut kuterima, karena usahaku” adalah dilarang dan tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,  “(Qarun) berkata: Sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al Qashash, 78).

Qatadah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Maksudnya: Karena ilmu pengetahuanku tentang cara-cara berusaha.” Ahli tafsir lainnya mengatakan, “Karena Allah mengetahui bahwa aku orang yang layak menerima harta kekayaan itu.” dan inilah makna yang dimaksudkan oleh Mujahid, “Aku diberi harta kekayaan ini atas kemulianku.””

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’Anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu, penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku.”

Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

Ia menjawab, “Unta atau sapi.”

Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan iapun didoakan, “Semoga Allah memberikan berkahNya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya,“Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan di kepalaku ini hilang.”

Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah.

Kemudian malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?”

Ia menjawab, “Sapi atau unta.”

Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”

Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.”

Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya.

Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang paling kamu senangi?”

Ia menjawab, “Kambing.”

Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam berikutnya,

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada Anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.”

Tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.”

Kemudian malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat Anda, lagi pula Anda orang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada Anda harta kekayaan?”

Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.”

Maka malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.”

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama.

Maka malaikat itu berkata, “Jika anda berkata bohong niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.”

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit Anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.”

Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah harta kekayaan Anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada aAnda, dan murka kepada kedua teman anda” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Redaktur: Shabra Syatila

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih