Menjadi Ayah yang Baik

Rabu, 22 Juni 2011 (6:29 am) / Keluarga

Menjadi seorang Ayah terkadang dirasakan bukan menjadi satu hal yang  sederhana, karena selain dihadapkan pada tanggung  jawab memberikan kesejahteraan pada keluarga, sang ayah juga dituntut untuk memiliki kesadaran akan kewajibannya dalam mendidik anak.

Dalam Sebuah sabda Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Ath-Tirmidzi, dari Ayyub bin Musa dari kakeknya :

Dari Sa’id bin Ash, Rasulullah bersabda : “Tidak ada pemberian yang lebih utama seorang ayah kepada anaknya selain budi pekerti yang baik.”

Tidak jarang ada orang tua yang mengeluhkan bahwa anak mereka sedang mengalami masalah bahkan ada yang sampai pada prilaku menyimpang. Dan justru setelah ditelusuri, sering kali awal dari sebagian besar masalah yang dialami anak bersumber dari orang tua.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, perilaku anak tidak akan jauh dari perilaku orang tuanya.

Jika kalimat tersebut kita kupas dari sudut pandang ilmu hypnosis, maka kita bisa uraikan dari pola pembentukan prilaku manusia bahwa proses belajar manusia adalah dari memodel (mencontoh).  Apapun yang sering dilihat, didengar dan dirasakan oleh seorang anak, maka bisa dipastikan semua informasi yang terekam tersebut akan menjadi sistem di dalam kehidupannya.

Sederhana saja, kita bisa simulasi dengan sebuah imajinasi.

Cobalah Anda membayangkan bahwa saat ini dihadapan Anda ada selembar kertas putih, dan saya meminta Anda untuk menuliskan kata “KIRI” di sebelah kiri, dan kata “KANAN” di sebelah kanan.

Kemudian, Anda boleh mengimajinasikan bahwa sekarang Anda melingkari kata “KIRI” dengan gambar hati, dan kemudian kata “KANAN” Anda lingkari dengan gambar lingkaran.

Bagus sekali, Anda hampir selesai…

Sekarang saya minta Anda mengambarkan seekor bebek diantara tulisan “KIRI” dan “KANAN” .

Sudah?

Terimakasih, jika Anda berhasil melakukan simulasi diatas artinya imajinasi Anda sangat bagus. Tapi coba perhatikan saat Anda menggambar seekor bebek tadi, kemana arah kepala bebek itu?

Sebagian besar dalam pelatihan yang saya pandu hampir semua peserta menggambarkan bebek dengan kepada menghadap kesebelah “KIRI”.

Bagaimana dengan Anda?

Jika Anda termasuk yang menggambar bebek dengan kepada menghadap ke selain “KIRI”,  itu point bagus untuk Anda.

Bagi Anda yang ternyata menggambarkan bebek dengan kepala menghadap ke sebelah “KIRI”, maka yang sebenarnya terjadi adalah kerja otomatis dari sistem yang tebentuk dalam kesadaran Anda dari pengalaman yang Anda ulang-ulang dari masa lalu. Pertanyaan saya apa iya kalau menggambar itu selalu kepada harus menghadap ke sebelah “KIRI”. Atau karena sejak kecil Anda telah terprogram oleh gambar kepala burung Garuda di depan kelas Anda yang menoleh kesebelah kiri Anda?!

Begitulah kira kira sebuah sistem itu terbentuk sehingga semua bekerja menjadi otomatis. Dalam konteks tugas Ayah dalam mendidik anak dengan perilaku yang baik sebagaimana yang diamanahkan Rasulullah SAW, maka menjadi PR tersendiri bagi seorang Ayah agar senantiasa mensholehkan dirinya, senantiasa konsisten dalam perkataan baiknya dan selaras pula dengan prilaku baiknya dihadapan anak.

Mari fahami rumusnya : “Anak melihat  =  Anak meniru.”

Sebagai Ayah yang baik tentu sangat penting untuk memperhatikan cara berkomukasi di dalam rumah. Jika seorang Ayah sering meluapkan kemarahan dihadapan istrinya, maka Anak akan belajar bagaimana berperilaku kasar dan merendahkan Ibunya. Begitupula sebaliknya jika seorang Ayah dengan sangat pintar memuliakan istrinya, sebenarnya disaat yang sama Anak sedang belajar bagaimana menghargai seorang wanita.

Seolah sepele, tapi kadang tidak sederhana dalam aplikasinya.

Saat seorang Ayah pulang dari urusan pekerjaan di sore hari, dalam penat yang sangat, tentu ingin beristirahat sejenak. Tidak jarang Anak dengan cepat mendekat, seperti mendapatkan mainan baru, mereka mulai memanjat Ayahnya, menginjak injak kaki hingga punggung, menjambak rambutnya, tidak jarang pula ada yang duduk di atas perut dan memperlakukan Ayah mereka bagai kuda tunggangan.

Jika egoisme pribadi yang dikedepankan tentu paling mudah untuk marah dan berteriak pada Anak, menyuruh mereka untuk menjauh. Namun seorang Ayah yang baik dituntut untuk dengan siaga mengaktifkan kesadarannya sebelum merespon semua situasi yang terjadi dihapannya.

Jika direnungi, sesungguhnya anak-anak rindu pada Ayah mereka setelah sering ditinggal. Saat pertemuan dengan Ayah mereka adalah kesempatan yang mahal. Sebagai Ayah perlu untuk menghadirkan kesadaran ini.

Apa alasan kita untuk menolak Anak, bukankah letihnya kita bekerja adalah untuk kebahagiaan mereka juga? Jika Allah sekarang mendekatkan mereka pada Anda wahai para Ayah, untuk Anda bahagiakan, apakah mungkin Anda menunjukan egoisme Anda dihadapan anak anda?

Sekali lagi perilaku kita sebagai Ayah di hadapan anak adalah contoh dan bagi mereka. Sering kali lebih mudah bagi mereka belajar dari perilaku kita daripada kalimat-kalimat yang keluar dari lisan kita.

Maka mulai hari ini dan seterusnya, mudah mudahan kita bisa menjadi seorang Ayah yang baik bagi anak-anak kita, mari menginstall software yang baik didalam sistem pikiran mereka, dengan senantiasa berkata dan berperilaku baik dihadapan mereka. Agar kelak mereka benar benar bisa menjadi penyejuk mata dan mampu menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa. Aamiin..

Wallahu’alam.

 

Redaktur: Riva Sakina

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih