Mengeroposnya Kualitas Da’i Karena Teknologi

Selasa, 7 Februari 2012 (8:15 am) / Opini

Seperti yang kita ketahui bahwasanya teknologi sekarang mempengaruhi segala aktivitas dalam keseharian kita. Hampir setiap orang menggunakan teknologi terbaru dalam kehidupannya. Mulai dari HP sampai I-pad. Bukan hanya pemuda, bahkan orang tua pun mulai menggunakannya, bukan hanya mahasiswa, bahkan anak-anak TK pun banyak yang mengenal terknologi informasi.

Sebenarnya ini merupakan buah simalakama untuk pengguna teknologi. Ada banyak keuntungan dengan menggunakan teknologi informasi seperti semua terasa dekat, bahkan hanya dengan sekali pencet saja, orang tua yang jauh di rumah merindukan ananda yang sedang melaksanakan study di luar kota, akhirnya dapat berhubungan layaknya dekat, dan suara yang terdengar sangatlah jelas, bahkan untuk aktivis, teknologi seperti HP sangat lah bermanfaat, bayangkan dengan adanya HP, koordinasi bisa lebih cepat, komunikasi lancar, sehingga ketika mencari keberadaan anggota yang tidak ada di dalam forum dapat dilaksanakan dengan mudah.

Namun tidak sedikit permasalahan yang diakibatkan oleh teknologi yang semakin marak ini, efek negatif yang paling kecil akibat teknologi ini contohnya adalah semakin jauh jarak ukhuwah yang sebenarnya dekat. Seperti halnya ketika berada di dalam kontrakan yang satu atap, karena malas untuk menghampiri saudaranya, akhirnya jalan yang digunakan adalah SMS. Mungkin ini dianggap paling efektif, tapi lihat akibat dari ini, kita jadi jarang untuk berziaroh ke kamar saudara kita, semakin jauh saja saudara-saudara kita yang sebenarnya dekat.

Kembali lagi kepada kemajuan teknologi informasi yang semakin maju dewasa ini, seperti yang dijabarkan diatas, ada efek negatif dan efek positif. Semua itu kembali kepada kita lagi, apakah kita memanfaatkan teknologi dengan benar atau tidak.

Karena teknologi, hampir semua orang mengenal yang namanya FB dan twitter. Bahkan kedua alamat ini terkadang menduduki peringkat pertama ketika seseorang menyalakan internetnya. Oleh karen itu, tidak heran kalau wabah FB ataupun Twitter susah dihilangkan dari mindset pemuda. Apalagi sekarang bisa dikatakan bahwasanya mereka yang tidak punya FB atau twitter, dikatakan kuno atau tidak modern.

Kedua jejaring sosial tersebut sangat berpengaruh besar terhadap masyarakat dunia. Coba kita lihat, hampir semua iklan mencantumkan alamat FB atau Twitter mereka. Entah kenapa jejaring sosial yang membatasi karakter percakapan hanya sampai 140 karakter ini bisa menjadi trend saat ini, munkin ini dapat menjadi analisis kita bersama. Mungkin karena kemudahan mengaksesnya, atau bahkan karena banyaknya yang menggemari jejaring ini sehingga dapat dengan mudah untuk bertemu dengan teman-teman yang sama-sama mempunyai kesibukan namun berbeda agenda.

Di kedua jejaring tersebut, kita dapat bertemu dengan teman-teman lama yang sudah lama tidak kita ketahui kabarnya, tiba-tiba saja namanya muncul dan siap kita hubungi. Hal tersebut termasuk efek positif dari jejaring social juga. Karena populernya, banyak operator selular yang memberikan subsidi kepada penggunanya untuk mengakses twitter atau FB secara gratis, hal tersebut memberikan peluang untuk membuka FB lebih sering daripada membuka Surat Cinta dari Allah, membuka FB atau twitter lebih lama daripada membaca Al-Quran.

Lalu ada lagi alamat yang sering dan pasti dikunjungi, google.com. Kita dapat menemukan apapun dengan google, kecuali tanggal kematian kita, karena itu semua masih menjadi rahasia Allah. Beasiswa, info lomba, ataupun lowongan kerja dapat dicari dengan mengakses google. Sungguh sangat mudah sekali teknologi abad 21 ini. Bahkan tugas kuliah yang semestinya menggunakan buku sebagai referensinya, dapat ditemukan dengan google. Subhanallah.

Semoga efek negatif dari facebook ataupun twitter tidak menyerang aktivis dakwah kampus, semoga amanah ADK tidak berubah menjadi aktifis dakwah facebook ataupun twitter. Yah tidak ada yang salah memang dengan memanfaatkan teknologi, tapi sadar atau tidak, kelamaan berhadapan dengan facebook atau twitter dapat membuat kita nantinya lepas kendali atau bahkan lupa tujuan awal, sehingga jejaring sosial yang seharusnya bisa dipakai untuk berdakwah, malah digunakan untuk bercanda. Kebanyakan bercanda akan mengakibatkan hati kita lalai, lalai dari kebenaran. Membuat hati kita keras, keras dari kebenaran sehingga susah untuk diingatkan. Tidak sedikit dari kita yang mengalami kefuturan hanya karena FB atau Twitter, tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, bahkan yang lebih parah, jarang mengobrol dengan saudara di sebelahnya hanya karena saling bermain facebook ataupun twitter.

Kembalilah ke bentuk dimana kalian pertama kali mengenal dakwah, kembalilah dimana kita merasa banyak dosa, merasa perlu bimbingan dalam sebuah lingkaran kecil yang dinamakan halaqah.

Berubah menjadi baik itu penting, tapi janganlah merasa bahwa diri ini yang paling baik, berhati-hatilah dengan itu semua. Semoga hati kita diistiqomahkan seperti dulu, seperti kita pertama kali mengenal yang namanya dakwah, bukan seperti kita yang sekarang yang sok kenal dengan dakwah sehingga terlalu meremehkan semua. Shalat malam, shalat dhuha, shalat wajib berjamaah, targetan membaca Al-Quran, Al-Ma’tsurat, dan sebagainya. Semoga hati kita tetap tunduk ibarat padi yang mulai menguning. Aamiin.

 Oleh: Izzur Rozabi Mumtaz, Malang
Facebook

Redaktur: Riva Sakina

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih