Mengapa Pembicara Bercerita

Kamis, 27 September 2012 (8:39 pm) / Pengembangan Diri

“Pernahkah Anda temukan, apa kesamaan dari semua pembicara publik yang andal?” Ya, benar. Seperti yang mudah Anda tebak, ialah kemampuan bercerita guna menjelaskan gagasan. Dengannya, Anda dapat merasakan dampak dari sebuah cerita. Tapi, kenapa pakai cerita, kenapa tidak “Langsung saja, tembak ke sasaran”? mungkin begitu pertanyaan Anda.

Tahukah Anda? Steve Denning, menulis “Springboard” pada 2001. Ia mengabdikan sisa hidup sekeluarnya dari Bank Dunia, untuk menyebarkan pelajaran yang didapatnya mengenai cerita. Salah satu keuntungan utama dari cerita, ialah cerita itu melawan sikap skeptis dan menciptakan penerimaan. Cerita memungkinkan orang lain untuk melihat sebuah masalah yang ada dapat diubah. Cerita membuat orang-orang melihat berbagai kemungkinan.

Meski begitu, pada awalnya Denning merasa bercerita bertentangan dengan intuisinya. Ia selalu percaya manfaat dari sikap yang terus terang, dan ia khawatir cerita itu terlalu kabur, terlalu berputar-putar, berasa “kebanyakan bumbu”. Ia –dan mungkin seperti Anda– berpikir, “Mengapa nggak uraikan pesannya secara langsung?”

“Mengapa perlu bersusah payah mencoba membangkitkan pemikiran pendengar secara tidak langsung, ketika jauh lebih sederhana jika saya bisa berbicara secara langsung?”

Masalahnya adalah, ketika Anda menembak langsung ke sasaran, pendengar cenderung melawan. Cara Anda menyampaikan sebuah pesan kepada mereka, adalah petunjuk tentang bagaimana mereka akan bertindak. Jika Anda membuat argumen, Anda secara tersirat meminta mereka untuk mengevaluasi argumen Anda: menilainya, memperdebatkannya, mengkritiknya, dan lalu berargumentasi balik, setidaknya dalam pikiran mereka.

Tapi dengan sebuah cerita, Anda melibatkan pendengar. Anda melibatkan pendengar dengan gagasan itu, dan meminta mereka untuk ikut serta bersama Anda. Denning berbicara tentang melibatkan “suara kecil di dalam pikiran”. Suara yang secara normal memperdebatkan poin-poin yang diajukan pembicara.

“Pandangan konvensional tentang komunikasi, adalah mengabaikan suara kecil di dalam kepala. Dan mengharapkannya untuk diam dan ingin bahwa pesan yang Anda sampaikan, dengan cara tertentu, mampu melewatinya,” kata Denning. Tapi, ia memiliki rekomendasi yang berbeda:

“Jangan abaikan suara kecil itu. Sebaliknya, bekerjalah secara harmonis dengannya. Libatkan suara itu dengan memberikannya sesuatu untuk dikerjakan. Ceritakan sebuah kisah dengan cara yang memancing cerita kedua dari suara kecil itu”.

Catatan di atas mengingatkan saya pada kisah seorang pemuda, yang merasa putus asa. Ia ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup. Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan sahabat akrabnya, seorang petani.

“Mas,” katanya. “Apakah sampean bisa memberi saya satu alasan terbaik, untuk tidak berhenti hidup dan menyerah?”

Jawaban sang Petani sangat mengejutkan. “Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu?” “Ya,” jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, aku merawat keduanya dengan sangat baik. Aku membantu keduanya mendapatkan cahaya. Menyirami setiap hari. Terbukti, pakis tumbuh sangat cepat. Daunnya yang hijau segar segera menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi, aku tidak menyerah.

Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi, aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu. Tapi, aku tidak menyerah. Di tahun keempat, masih juga belum ada apa pun dari benih bambu.”

“Aku tetap tidak menyerah,” tegas petani.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil. Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna. Tapi 6 bulan kemudian, kamu bisa bayangkan, bambu itu menjulang sampai 30 meter.”

“Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup. Bukankah kau masih ingat, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?”” kata petani kepadanya.

“Tahukah kamu, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat itu, kamu sesungguhnya sedang menumbuhkan akar-akar?”

“Jangan membandingkan kelemahan diri dengan kekuatan orang lain,” kata petani.
“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi lebih indah.”

“Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.”

“Saya akan menjulang setinggi apa?” tanya pria itu.
“Setinggi apa pohon bambu bisa menjulang?” jawab petani.
“Setinggi yang bisa dicapainya,” jawab pria itu.

Ya, benar. Bertumbuhlah, senantiasa!

 

NB.
Untuk kuasai kiat efektif menuturkan cerita yang berdampak, Anda dapat ikut berlatih di dalam workshop “Public Speaking Magically”.

Redaktur: Rio Purboyo

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih