Memaknai Haji Kita

Selasa, 23 Oktober 2012 (10:41 am) / Oase

Saat bersiap-siap menuju padang arofah, kita disunnahkan mandi, mengenakan kain ihram lalu shalat sunnah. Adakah itu mengingatkan kita, bahwa kelak kita juga akan dimandikan seperti saat itu kita masih mampu mandi sendiri, dikafani dengan kain putih seperti pakaian ihram yang kita kenakan, dan dishalatkan sementara saat ini kita masih mampu shalat sendiri?

Atau, kita hanya melakukan rangkaian ibadah itu, sebatas ritual saja?

Saat seharian kita berwukuf di arofah, dengan banyak berdoa dan mendengarkan khutbah. Maka, seperti penamaan gurun itu, arofah, kita diharapkan ma’ruf, mengenal. Lalu sudahkah kita mengenal hakikat diri, mengenal Rabbul izzati, dan mengenal saudara-saudara kita dengan baik, hingga terjalin ukhuwah yang indah?

Atau, kita justru hanya sibuk berdoa untuk diri sendiri, juga sibuk mengurusi diri, sambil mengusir hawa dingin yang menusuk tulang di padang arofah yang gersang?

Saat malam hari kita bergerak menuju Muzdalifah dengan perbekalan secukupnya, lalu diminta merenungi diri di sepertiga atau duapertiga malam di padang itu; apakah itu mampu mengingatkan diri kita, jika kelak kita akan digiring di padang mahsyar yang entah bagimana gesangnya, dan memerlukan bekal amal yang cukup agar selamat di sana?

Ataukah kita hanya menghabiskan malam di Muzdalifah itu, dengan bersendau gurau dan tidur belaka?

Saat kita melempar jamarat dengan batu kerikil, bukan dengan melambungkan tapi melempar. Sekuat-kuat lemparan dengan tangan-tangan kita yang kecil, bersamaan dengan kalimat takbir di tiap lemparannya; apakah setan-setan yang bersemayam dalam diri kita juga sudah ikut terlempar? Sadarkah kita bahwa pertempuran haq dan bathil itu tiap saat terjadi pada diri ini? Lalu, siapa yang biasanya kita menangkan dalam pertempuran batin penuh gemuruh itu?

Ataukah kita justru melempar dengan semangat dan tertawa, karena menganggap setan telah mati gara-gara lemparan kita?

Saat kita harus melempar sebanyak tujuh kali di jamarat, dan harus diulang dalam tiga waktu yang berbeda, apakah ini menyadarkan kita, bahwa setan jauh lebih lihai dari manusia? Hingga untuk melepas setan-setan yang bersemayam dalam diri dan tidak pernah mati itu, perlu proses yang berkesinambungan dan tidak sekali jadi?

Ataukah kita justru bersemangat melempar, karena menganggap penjahat-penjahat itu berada jauh di seberang sana?

Saat kita thawaf dengan tujuh kali putaran berkeliling rumah Allah, adakah itu mengingatkan kita akan hakikat penciptaan? Tentang gambaran tata surya dan planetnya yang setia. Tentang gambaran ketundukan semua makhluk pada pusat-Nya.

Ataukah justru kita hanya berjalan saja mengikuti arus manusia, dan hanya terobsesi untuk bisa mencium hajar aswad?

Saat kita berlari-lari kecil bolak-balik tujuh kali antara Shafa & Marwa, apakah itu mampu mengingatkan  kita pada perjuangan seorang ibu, bunda Hajar yang mulia? Dia yang tak kenal lelah berlari kesana-kemari, sendirian di padang tandus, demi kelangsungan hidup si jabang bayi Ismail?

Ataukah kita justru asyik menikmati sejuknya Shafa-Marwa yang kini ber AC, sambil melihat-lihat beragam bangsa di kanan kiri yang bercampur-baur?

Lalu, saat tahun demi tahun itu berlalu, masihkah kita dapat memaknai ibadah haji itu? Merasakan tiap tahun seolah ruhiyah kita terbang bersama mereka, para tamu Allah yang mulia. Meski raga kita ada di sini?

Rabbi, betapa indahnya ajaran-Mu. Ijinkan kami memaknai kembali detil-detil ibadah itu, sebagaimana kami dulu berada di tempat-tempat penuh hikmah itu.

Redaktur: Mukti Amini Farid

Copyright © 2011 – 2014