Lima Amalan Ringan Pengantar ke Surga
Jumat, 24 Oktober 2014 (13:50) / Ibadah

Tidak ada satu pun yang tahu kapan dan bagaimana kematian datang menjemput, yang pasti akan ada dua tempat yang telah disediakan setelah kematian itu datang: surga dan neraka. Memasuki surga adalah dambaan setiap insan, siapapun bisa memasukinya. Tidak membedakan kaya-miskin, pejabat-rakyat, muda-tua, sehat-sakit, asal ia mau mengikuti anjuran Allah, maka jalan ke surga selalu terbuka. Surga bukanlah tempat yang diberikan cuma-cuma, tempat tersebut merupakan karunia dari bentuk kasih sayang Allah setelah kita berusaha mengamalkan perintah-Nya.

Sayangnya tidak setiap kita tersadar bahwa amalan kebaikan yang tampak pun rupanya berkadar tinggi di sisi Allah. Seperti amalan ringan sehari-hari yang bisa jadi beberapa menganggapnya biasa-biasa saja. Bukankah dunia ini adalah ladang pencarian amal? Tak memandang seberapa dan amalan apa yang dilakukan, karena yang paling utama adalah keikhlasan, dan tiada yang lebih berhak menilainya selain Allah semata.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah kamu meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Hadis riwayat Muslim).

Siapa sih yang tidak ingin masuk surga? Kalau terlontar pertanyaan seperti itu dapat dipastikan semua mukmin pasti menginginkannya. Di surga jelas tidak ada rasa sakit, tidak ada kata-kata yang menjengkelkan, tidak ada percecokan dan peperangan yang membuat sedih hati. Di surga hanya akan ada himpunan kebaikan, di mana para syuhada dan perindu nabi bercengkrama bersama. Luar biasa indah bukan?

Sebagai seorang muslim yang mengharap dapat kembali di tempat terbaik tersebut, kita tentu akan berupaya untuk meraihnya. Beberapa upaya yang dapat mengantar kita ke dalam surga Allah adalah dengan menghidupkan amalan-amalan ringan yang tinggi nilainya di hadapan-Nya. Dalam buku Amalan-Amalan Ringan Pembuka Pintu Surga disebutkan beberapa amalan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mengatakan Kebaikan

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al Ahzaab [32]: 70-71)

Ayat yang diawali dengan panggilan cinta “Yaa ayyuhalladziina aamanu.. (Hai orang-orang yang beriman)” seperti di atas menyampaikan inti pemahaman kepada kita bahwa al-qaul as-sadid atau ‘perkataan yang benar’ itu merupakan praktik nyata dari keimanan seseorang. Perkataan yang senantiasa diperbaiki tersebab rasa takut pada Allah dan berharap akan manisnya iman yang semakin terhujam di dalam hati manusia menjadi salah satu amalan untuk membuka pintu surga, karenanya dalam ayat tersebut orang-orang mukmin diajak untuk senantiasa memperbaiki perkataannya dengan berkata yang baik (benar).

2. Memberi tangguh kepada orang lain

Maksud tangguh di sini adalah memberi keluangan waktu sampai saudaranya yang berhutang sanggup membayar hutangnya atau si pemberi pinjaman membebaskan hutang peminjam tersebab si peminjam memang tak sanggup mengembalikan. Dalam selang waktu untuk menangguhkan hutang saudaranya tersebut, maka Allah akan senantiasa mengalirkan pahala bagi si pemberi pinjaman. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: ”Sesiapa yang memberi tangguh kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya atau mengurangkan bayaran jumlah hutangnya, niscaya Allah menaunginya di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah.”( HR. Riwayat Muslim dan Imam Ahmad)

3. Memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim

Berikanlah kegembiraan atau kebahagiakan kepada sesama muslim, karena Allah tidak ridha memberikan balasan untuknya kecuali surga. Masyaa Allah.. Siapa yang tidak bahagia apabila mengetahui dirinya akan mendapat balasan surga?  Membahagiakan saudara ke sesama muslim bukanlah hal yang berat, kita dapat menghulurkan sedekah yang paling mudah dan murah, tetapi sangat besar nilainya ketika berjumpa: sekuntum senyuman manis. Tiada yang lebih manis dari senyum yang mengharap Ridha Illahi. Selain itu Bagi sesiapa yang berkemampuan lebih dalam hal materi tentu memberikan bantuan berupa materi akan jauh lebih berarti bagi saudaranya yang membutuhkannya.

Dalam sebuah Hadist Riwayat At-Tabrani disampaikan: “Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah selepas amalan-amalan yang fardhu ialah menggembirakan seorang muslim, engkau berikan pakaian untuk menutup auratnya, atau engkau mengenyangkannya ketika dia kelaparan, atau engkau tunaikan hajatnya.”

Bentuk selanjutnya adalah dengan menghubungkan saudaranya kepada seorang penguasa sehingga hajatnya terpenuhi, memberi ucapan selamat kepada saudaranya yang tengah berbahagia serta memperlihatkan perhatian kepada sesama muslim dengan meminta saran dan doanya. Sederet amalan tadi nampaknya memang tak begitu berat, akan tetapi tetap saja membutuhkan perjuangan. Bila salah satu di antaranya dapat kita kerjakan Insyaa Allah akan menjadi amalan yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

4. Berterima kasih kepada orang lain

Berterima kasih kepada orang lain adalah perangai yang terpuji, bentuk ucapan tersebut bukan semata ucapan yang keluar dari lisan saja. Sempurnanya ketika kita membalas kebaikan mereka dengan memberikan sesuatu yang sebanding atau lebih baik, namun bila tidak mampu cukuplah terus menerus mendoakannya hingga kita telah merasa yakin bahwa kita telah membalas kebaikan saudara sesama muslim.

Selain itu anjuran agama juga menyampaikan untuk memberikan pujian kebaikan kepada saudara kita yang telah berbuat baik, salah satunya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menceritakannya kepada orang lain. Hal ini memang membutuhkan sebuah pengontrolan diri, sehingga niat senantiasa diluruskan dan si pemberi tidak terjerumus dalam riya. Mungkin ada benarnya anjuran ini: pujilah secukupnya dan jadikan motivasi bagi kita untuk ikut terus berbuat kebaikan seperti mereka.

Dalam QS. Al-Qasas : 25, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. 28 : 25)

Selain itu apabila kita sudah menerima pemberian dari saudara kita, usahakan agar jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang dapat menyinggung si pemberi. Tidak meremehkan atau menghina pemberiannya, terlebih mengeluarkan kata-kata yang memaksa si pemberi agar harus mengeluarkan tambahan pemberian kepada kita.

5. Memberi maaf kepada yang bersalah

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat pemaaf. Ketika beliau melewati berjalan dan diganggu oleh seseorang yang tidak menyukainya, beliau selalu memaafkan. Sampai akhirnya ketika orang yang suka mengganggu itu sakit maka Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Dalam sebuah potongan sejarah, beliau juga pernah mendapat perlakuan yang buruk dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat datang dan menanyakan apakah perlu masyarakat yang berlaku buruk tersebut dihukum, Nabi meminta untuk memaafkan mereka karena mungkin mereka belum tahu. Masyaa Allah, begitu luar biasa perangai Sang Rasul Allah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad.

Memberi maaf memang bukan hal yang mudah bila dikaitkan sampai pada keikhlasan, meski begitu kebiasaan ini patutlah kita biasakan, karena perihal keikhlasan hanya Allah saja yang berhak menilai. Memberi maaf juga bukan menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Suka memaafkan justru menunjukkan sifat kemuliaan seseorang karena ia bercermin langsung dari sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, karena seberapa besar pun kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya, Allah senantiasa membukakan pintu maaf yang lebar bagi kita. Bila dikaji lebih dalam, sikap ini menunjukkan seseorang telah berhasil memilih jalan yang dekat dengan keridhaan Allah, meski boleh jadi mereka bisa menuntut balas atas kesalahan orang kepadanya.

Sebagai seorang muslim yang senantiasa berharap surga-Nya, semoga kita mampu mengamalkan beberapa amalan di atas, sehingga saat kematian datang menjemput, kita pantas meraih kasih sayang Allah Azza wa jalla berupa surga yang dirindu setiap umat manusia.

Allahu a’lam bisshawab.

Astaghfirullahal ‘adzim.

Redaktur: Asni Ramdani

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih