Indonesia masih punya harapan untuk bangkit, ketika para generasi penerus bangsanya masih memiliki rasa kebanggaan terhadap tanah airnya. Mengenal kisah perjalanan para pejuang adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap Indonesia. Rasa bangga akan membentuk pribadi yang optimis, berjiwa besar, dan berpikir besar.

Rahim ibu pertiwi telah banyak melahirkan pejuang–pejuang sejati, salah satunya adalah Mohammad Natsir. Bagi umat Islam, Buya Natsir adalah tokoh kebangkitan Islam yang fenomenal. Buya Natsir tak hanya pahlawan bagi Indonesia, dunia Islam pun mengakui peran dan pemikiranya.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Banyak orang lebih mengetahui Buya Natsir sebagai tokoh politik, dan juru dakwah. Sebenarnya pada  masa–masa awal perjuangan beliau, Buya Nastir bergerak di bidang pendidikan terlebih dahulu. Pada tahun 1930 Buya Natsir mendirikan sekolah di Bandung yang ia namai “ Pendidikan Islam” (Pendis).

Motivasi Buya Natsir terjun kelapangan pendidikan adalah keinginan beliau membangun sistem pendidikan yang lebih sesuai dengan hakikat ajaran Islam. Di tengah dominasi sekolah–sekolah kolonial Pendis berusaha eksis dalam mencerdaskan rakyat Indonesia dikala itu.

Menurut Buya Natsir, pendidikan Islam ditujukan untuk membentuk manusia yang seimbang. Keimanan terhadap Allah dan Rasulullah harus di seimbangi oleh kecerdasan otak. Seimbang pula ketajaman akalnya dengan kemahiran tanganya untuk bekerja. Manusia yang percaya pada kekuatan sendiri, akan mampu berdiri sendiri dan tidak akan selalu bergantung pada harga ijazah untuk “makan gaji” sebagai pegawai.

Kenyataan hari ini manusia lebih menghargai kecerdasan di atas kertas (rapot, ijazah, sertifikat, dll) dibandingkan dengan kenyataan yang mereka lihat. Realita hari ini telah menggeser pemahaman masyarakat dalam menuntut ilmu menjadi lebih sempit.

Pendis memiliki metode pendidikan tersendiri, para murid tidak di ajarkan dengan cara menghafal. Murid–murid diajarkan untuk aktif, tidak pasif dan hanya menerima semuanya dari guru. Sekolah Pendis mempelopori pelaksanaan shalat berjamaah di sekolah. Untuk menjadi khatib, ditunjuklah murid–murid kelas tinggi kweekschool secara bergiliran sebagai ajang latihan bagi mereka.

Buya Natsir memang sangat mengedepankan praktik di lapangan, beliau tidak ingin ilmu itu hanya sebatas teori tanpa aplikasi. Ilmu akan membawakan manfaat jika kita mengamalkanya, dan agar dalam pengamalanya bisa sempurna tentu kita perlu banyak latihan. Untuk memberikan wadah kepada para murid, setiap setahun sekali Pendis mengadakan acara “Malam Ibu Bapak”. Pada acara tersebut para siswa akan menunjukkan hasil belajarnya selama ini, mulai dari penampilan teater, musik, tari–tarian, hingga berbagai macam kerajinan tangan. Banyak orang tua murid yang membeli hasil kerajinan tangan murid–murid Pendis.

Pendis hari ini memang tinggal sejarah, namun hasil karya Buya Natsir senantiasa menjadi pondasi dasar pendidikan di Indonesia. Pendis, Muhammadiyah, Pesantren, Taman Siswa, dan Sekolah Rakyat adalah warisan intelektual para pendiri bangsa ini. Semuanya telah teruji menghasilkan generasi hebat yang membawa Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Lalu kenapa hari ini kita takut menjadi diri sendiri, dan mengimport sistem serta kurikulum pendidikan dari negara lain. Indonesia justru harus bisa menemukan kekuatan sendiri, dengan berlandaskan pada kebudayaannya, termasuk dalam pelaksanaan pendidikan (Prof HAR Tilaar). Jika bukan kita yang melestarikan hasil karya mereka , lalu siapa lagi ?

Oleh: Muhamad Ihsan, Bekasi
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Facebook
 - Blogtwitter


Redaktur: Fimadani

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI