Konsekuensi Cinta

Selasa, 2 Oktober 2012 (4:37 pm) / Opini

Dari Abdullah bin Hisyam ra. bahwa dia berkata: Kami pernah bersama Nabi sementara beliau menggandeng tangan Umar bin Khatthab ra, maka Umar berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku”. Maka Nabi bersabda: “Tidak, demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Hingga kamu lebih mencintai aku dari pada dirimu sendiri”. Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Nabi bersabda: “Sekarang wahai Umar”. (HR Bukhari).

Berita tawuran pelajar akhir–akhir ini merebak menjadi isu yang hangat diberitakan oleh seluruh Media Nasional, seluruh masyarakat dan para pakar mengomentari sebab musabab terjadinya tawuran tersebut dan apa kerugian yang ditimbulkan darinya.

Hampir seluruh tawuran pelajar berawal dari pertikainan antara dua orang pelajar lalu salah satu yang teraniaya melakukan pembelaan terhadap dirinya, kemudian berujung kepada pembelaan sahabat kepada temannya dan berhujung pada harga diri kelompok bahkan hingga sekolah. Namun itu semua berawal dari satu hulu yaitu pembelaan terhadap diri sendiri. Kenapa kita melakukan pembelaan diri? karena kita cinta terhadap diri kita, kita tidak akan membiarkan orang menginjak–injak harga diri kita.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah di antara kalian beriman sehingga aku lebih dicintai dari pada orang tua dan anaknya”.(HR Bukhari).

Kemudian bagaimana jika bukan dirimu yang dihinakan? Tetapi bisa jadi saudara kandungmu, orang tuamu, bahkan anakmu sendiri. Sudah pasti semua orang tua akan membela anak–anaknya yang dianiaya oleh anak orang lain. Walaupun anak kita mengawali kenakalan tersebut, kita akan tetap melakukan pembelaan terhadap anak kita, minimal dia menerima hukuman seringan mungkin. Semua ini terjadi karena ada cinta di setiap hati orang tua, cinta orang tua kepada anaknya.

Dari Umar bin Al Khaththab ra berkata: didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah, maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu, ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad  SAW bersabda: “Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab: “Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya”. Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Seorang anak akan marah jika nama orang tuanya disebutkan tanpa embel–embel “bapak” dan “ibu”. Hal ini lazim terjadi di antara kenakalan anak-anak, seorang teman kita akan di anggap menghina orang tua jika menyebutkan nama orang tua kita tanpa menyertakan kata penghormatan mengawali namanya. Katakanlah nama bapak kita adalah Hasan. Jika teman kita hanya menyebutkan “Hasan” bukan dengan “Pak Hasan”, itu adalah ejekan yang mendalam, sebegitu marahnya kita akan tindakan teman kita itu. Semua reaksi yang kita lakukan adalah atas dasar cinta. Karena cinta kita akan membela, dan memperjuangkan yang layak untuk orang tua kita.

Bagaimana jika penghinaan itu datang kepada Rasulullah? Apakah yang akan kita lakukan  ketika orang yang begitu mencintai kita dihinakan? Apakah kita akan menjawab cintanya dengan pembelaan, atau bungkam seribu bahasa?

Penghinaan Rasulullah melalui film “an innocence of muslims” telah mendapatkan reaksi yang sangat keras oleh umat muslim diseluruh dunia dan juga Indonesia. Umat muslim yang terdapat cinta kepada Rasulullah di dalam hatinya melakukan pembelaan dengan apa saja yang bisa ia lakukan. Yang bisa menggunakan tangan akan ia gunakan tangannya itu, yang bisa menggunakan lisan akan ia lantangkan suaranya untuk membela Rasulullah, dan yang hanya bisa berdoa akan ia panjatkan doa itu di sepertiga malam dengan tangisan penuh cinta kepada Rasulullah.

Ironis ketika masih banyak Warga Negara Indonesia yang jelas tertera Islam di kartu tanda penduduknya (KTP) malah bungkam tak melakukan apapun. Presiden bungkam, pejabat negara bisu , dan bahkan kepolisian menjadi musuh  bagi orang–orang yang membela Rasulullah di depan keduataan AS. Mereka mengecam kaum mukmin atas dasar ketertiban semu, atas dasar hubungan bilateral. Tanpa sadar mereka telah mengutamakan Amerika di atas Rasulullah, dan meninggikan hukum manusia di atas hukum Allah.

Apakah tidak jelas apa yang disebutkan dalam Al Qur’an? “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara- saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul- Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS At Taubah: 24).

Lalu kenapa mereka kini hanya diam? Apakah tidak ada cinta didalam diri mereka. Padahal jika orang tua, anak, dan dirinya dihina dia akan marah atas penghinaan itu. Kemudian kenapa orang–orang yang membela Rasulnya mereka beri cap anarkis, teroris, tidak toleran, radikal, dan sebagainya, padahal diri mereka senantiasa menjadi anarkis ketika keluarga dan dirinya dihinakan. Lalu siapakah yang lebih anarkis, orang yang memulai penghinaan, atau orang yang menuntut hak atas penghinaanya? Semua akan bisa dijawab jika didalam dirimu ada cinta. Tetapi tidak cukup hanya cinta, kamu harus paham apa itu konsekuensi cinta. Cinta Rasulullah.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
(Buya Hamka)

Oleh: Muhamad Ihsan – Bekasi
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Facebook
 – Blog – twitter

Redaktur: Fimadani

Copyright © 2011 – 2014