Kewajiban Shalat Jum’at Pada Hari Raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha

Selasa, 23 Oktober 2012 (9:13 pm) / Ibadah

Dalam hal ini ada dua pendapat. Dimana masing-masing pendapat memberikan dalil-dalil yang menjadi hujjah atas pendapat mereka.

Muhammad Shiddiq Al Jawi mengutip pendapat dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A’immah karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa:

“Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih, bahwa shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jumat. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, gugur Jumatnya. Demikian menurut pendapat Imam Asy Syafi’i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat.

Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, bagi penduduk kampung wajib shalat Jumat.

Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Menurut ‘Atha’, zhuhur dan Jumat gugur bersama-sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.”

Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Disebutkannya bahwa,“Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat,”Jika berkumpul hari raya dan Jumat, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya….”

Wajib Shalat Jum’at

Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadi). Demikian dinyatakan Ustadz Muhammad Tuasikal.

Dalil dari pendapat ini adalah:

1.  Keumuman firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)

2. Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at.

Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.” (HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhamri, hasan shahih)

Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.” (HR. Abu Daud no. 1067)

3. Karena shalat Jum’at dan shalat ‘Id sama-sama wajib

Sebagian ulama berpendapat bahwa Shalat ‘Id itu wajib, sehingga shalat Jum’at dan shalat ‘Id tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Id.

4. Keringanan meninggalkan shalat Jum’at khusus untuk ahlul bawadi

Dalilnya adalah,

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘Id sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘Id). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari no. 5572)

Boleh Tidak Shalat Jum’at

Menurut Dr Muhammad Asri Zainul Abidin, para fuqaha (sarjana fiqh) berbeda pendapat dalam hal ini. Di kalangan ulama, terutama dalam Mazhab Hanbali, menyatakan tidak wajib Shalat Jum’at untuk makmum yang sudah menghadiri shalat Hari Raya (shalat ‘Id), kecuali imam. Ini berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Hari Raya ‘Id jatuh pada Hari Jum’at:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Telah berkumpul pada hari kamu ini dua Hari Raya ‘Id, siapa yang mau maka cukuplah baginya shalat Hari Raya ‘Id bagi shalat Jum’at (tidak wajib Jum’at), adapun kami (Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) akan menunaikan Shalat Jum’at.” (Riwayat Abu Daud, Ahmad, Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Al Hakim dan dipersetujui oleh Adz Dzahabi. Al Albani juga menyatakan shahih).

Berdasarkan hadits di atas, maka seseorang diberi pilihan baik hendak menunaikan shalat Jum’at setelah menunaikan Shalat Hari Raya ‘Id, atau cukup dengan shalat ‘Id berkenaan. Maka dengan itu dia wajib menunaikan Shalat Zhuhur.

Menurut Al Albani, hadits ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at yang dilakukan setelah, shalat ‘Id hukumnya rukhshah (diringankan) untuk setiap orang, seandainya semua orang meninggalkannya, maka sungguh mereka telah mengamalkan keringanan tersebut, dan jika sebagian-nya melakukan, maka mereka mendapatkan pahala, shalat tersebut sama sekali tidak wajib baginya tanpa membedakan antara imam dan yang lainnya.

Hadits ini telah dishahihkan oleh Ibnul Madini dan dihasankan oleh An Nawawi. Ibnul Jauzi berkata, “Hadits tersebut adalah yang paling shahih dalam bab ini.”

Diriwayatkan dari Wahab bin Kaisan, beliau berkata:

اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَأَخَّرَ الْخُرُوجَ حَتَّى تَعَـالَى النَّهَارُ ثُمَّ خَرَجَ فَخَطَبَ فَأَطَالَ الْخُطْبَةَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ النَّاسُ يَوْمَئِذٍ الْجُمُعَةَ فَذُكِرَ ذلِكَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ.

“Pada masa Ibnu Az Zubair dua ‘Id (‘Id dan Jum’at) berbarengan, lalu beliau mengakhirkan keluar sehingga matahari meninggi, kemudian beliau keluar dan berkhutbah, beliau berkhutbah dengan lama sehingga beliau turun, yang dilanjutkan dengan shalat, kala itu orang-orang tidak melaksanakan shalat Jum’at,” kemudian peristiwa tersebut diceritakan kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, lalu beliau berkata, “Ia telah melakukannya sesuai dengan Sunnah.” (HR Abu Dawud, An Nasa’i dan Al Hakim, shahih)

Terdapat pendapat di kalangan ulama bahwa Zhuhur juga tidak wajib disebabkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun tidak menyebutkan hal ini dan pada Hari Jum’at yang diwajibkan adalah Shalat Jum’at, maka apabila ia digugurkan tidak perlu mengganti apa-apa. Antara yang berpendapat tidak wajib diganti dengan Zhuhur ialah Al Imam Sayyid Sabiq dalam Fiqh As Sunnah (1/267, Beirut: Dar al-Fikr).

Apapun, hadits di atas dan beberapa riwayat yang lain, termasuk amalan pada zaman Umar, Abdullah ibn Al Zubair dan Ibnu ‘Abbas menyebut perbuatan meninggalkan Jum’at pada Hari Raya ‘Id itu sebagai:

أصابت السنة

“Betul dari segi sunnah.” (lihat: Ibnu Taimiyyah, Al Fatawa Al Kubra 2/366, Beirut: Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah).

Hanya saja, mereka kebanyakannya berpendapat wajib shalat Zhuhur. Adapun imam hendaklah menunaikan Jum’at untuk mereka yang hendak menunaikan Jum’at, atau tidak menunaikan Shalat Hari Raya ‘Id, maka wajib dia menunaikan Jum’at.

Tarjih

Dengan demikian diakui ada perbedaan pendapat di kalangan sarjana hukum fiqih, namun Dr Muhammad Asri Zainul Abidin cenderung kepada tidak wajib Jum’at bagi makmum yang sudah menunaikan shalat Hari Raya ‘Id berdasarkan hadits di atas dan beberapa riwayat yang lain, juga sifat Islam itu sendiri yang meringankan apabila ada ruang kelonggaran.

Apa lagi, maksud berkumpulnya kaum Muslimin telah tertunai pada hari tersebut, maka perhimpunan shalat Hari Raya ‘Id sudah dapat memenuhi maksud perhimpunan shalat Jum’at.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014