Karena Ia Bukan Pendendam

Selasa, 6 Maret 2012 (6:46 am) / Sirah Nabawi

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada sebagian sahabat yang berkata ‘Ya Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang laknat. Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat’” (HR. Muslim, hadits shahih. Dalam Kitabul Birr wash Shilah bab An Nahyi ala’nid Dawwab Wa Ghairiha (45/24/2599))

“Seandainya ia pendendam,” tulis Anis Matta  dalam Serial Cinta, “Ia pasti menerima tawaran Jibril itu. Tapi tidak! Ia seorang pecinta,” mengomentari jawaban manusia  termulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap tawaran yang sangat menarik dari Jibril. Betapa tidak, ketika dakwah yang beliau bawa di Makkah mulai mendapati ganjalan yang besar bahkan menemui jalan buntu. Dan harus mulai mencari pembelaan dari luar kota Makkah.  Ketika konsentrasi kaum muslimin telah  terpencar di Makkah dan Habasyah. Maka  alternatifnya dalah segera mencari daerah sebagi basis pertahanan baru untuk melancarkan dakwah. Thaif adalah tempat yang paling strategis. Ia terletak tidak jauh dari Makkah. Tepat berada di selatan Makkah.

Menghadaplah Rasulullah kepada pemuka Bani Tsaqif di Thaif, sebagaimana yang dituturkan oleh  Ibnu Ishaq dalam Tahdzibus Sirah. Rasulullah menemui tiga bersaudara pemuka Bani Tsaqif : Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr. Beliau jelaskan maksud kedatangannya adalah untuk mencari pembelaan dalam menyebarkan ajaran islam dan menghadapi kaumnya yang telah menentangnya. Namun gayung tak bersambut.

“Dia akan mengurai kain Ka’bah jika benar Allah telah mengutusmu,” komentar salah satu diantara mereka dan kemudian salah seorang yang lain menimpalinya, “Apakah Allah tidak menemukan orang selainmu untuk diutusNya?”

Dan orang ketiga menyahut, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepada-Mu selama-lamanya. Jika benar kamu seorang Rasul sebagimana yang kamu katakana, niscaya aku tidak pantas berbicara denganmu. Jika kamu berdusta kepada Allah maka kami tidak patut kamu ajak bicara…”

Aaaah, betapa angkuh dan sombongnya mereka ini. Namun, Rasulullah adalah pribadi nan mulia, beliau sama sekali tidak marah. “Rahasiakanlah apa yang telah kalian lakukan terhadapku” sabda beliau sembari bangkit meninggalkan majelis mereka.

Namun mereka tidak peduli bahkan mengerahkan orang-orang bodoh dan para budak mereka untuk mencela dan meneriaki beliau. “Kakinya berdarah-darah” tulis Anis Matta, dalam Serial Cinta, “Orang-orang thaif bukan saja menolak dakwahnya. Tapi juga menggunakan kekerasan untuk menolak dakwahnya,” mengomentari peristiwa Thaif ini. Bahkan hingga  Rasulullah harus berlindung di kebun anggur  milik Utbah dan Saibah bin Rabi’ah. Sungguh memang episode terberat yang dialami Rasulullah. Terberat bahkan lebih berat dari perang uhud. Sepertinya  yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dari Urwah bin Az Zubair.

Maka kala tawaran itu datang dari Jibril dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya menurut apa yang kau kehendaki” Malaikat penjaga gunung pun menambahi, “Jika engkau menghendaki untuk meratakan Akhsyabaini, tentu aku akan melakukannya”

Aaah, lagi-lagi tawaran yang menggoda. Allah telah memberikan ijin-Nya. Malaikat pun kini telah siap menjalankan perintah. Tapi sekali lagi, Rasulullah bukanlah seorang pendendam. Ia adalah pecinta. Penebar rahmat. “Aku bahkan memohon penangguhan untuk mereka. Sungguh aku berharap bahwa Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang yang menyembah Allah dan tidak pernah mempersekutukannya” (HR. Bukhari Muslim). Sungguh  tidak mungkin kata-kata ini muncul begitu saja. Ia muncul dari pribadi-pribadi luhur penuh cinta. Mendoakan kebajikan pada orang yang menzhalimi. Laqod kanaa lakum fii rasulillahi uswatun khasanah..

Dakwah Adalah Cinta

“Dakwah adalah cinta,” demikian yang diucapkan KH. Rahmat Abdullah. Memang benar.  Jika dakwah diibaratkan sebagai proses marketing atau pemasaran. Maka kita tahu produknya adalah islam. Benefit atau manfaat yang diperoleh dari produk tersebut adalah rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta.

“Dan tidaklah KAMI mengutusmu kecuali sebagi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’:107).

Karena rahmat bagi semesta, maka haruslah mampu dirasai oleh penduduk bumi. Islam adalah ibarat sebuah bangunan besar nan kokoh. Kuat. Para pemeluknya aman dan nyaman berada di dalamnya. Sementara pemeluk keyakinan lain pun tetap merasa nyaman meski berada diluar bangunan, Mereka turut merasakan barakahnya. Terteduhi oleh bayangan bangunan itu dari sengat panas mentari.  Hingga mereka perlahan-lahan akan takjub dan mulai mendekat ke bangunan islam. Lalu mengetuk pintunya dan bergabung menjadi pemeluk islam. Seperti kisah masuk islamnya seorang yahudi di Mesir. Karena takjubnya akan keadilan islam yang terlihat dari keputusan Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab, ketika memutus sengketa kepemilikan tanah anatara dirinya dengan gubenur Amr bin Al ‘Ash.

Ya, Islam adalah agama kasih sayang. Rahmatan lil alamin. Maka bila kita belajar ushul fiqh, akan dijumpai maqoshid syari’at  tujuan diberlakukannya syariat, yaitu untuk melindungi  Arkan Khamsah Dhururiyah fi Hayat (lima hajat primer) manusia :  (1) Hizhfu Ad-Din (Menjaga Agama), (2) Hizhfu An-Nafs (menjaga  jiwa), (3) Hizhfu Al- Aql (menjaga akal), (4) Hizhfu An-Nasl (Menjaga  Keturunan), (5) Hizhfu Al-Mal (Menjaga Harta).  Adanya pengharaman terhadap khamr adalah bentuk penjagaan terhadap akal manusia. Adanya pengharaman memakan riba. Memakan harta orang lain secara zhalim.  Adanya aturan zakat adalah sebagai pemeratan dan distribusi kekayaan. Adalah bentuk bentuk penjagaan terhadap harta. Apabila tidak ada syariat ini maka kehidupan akan semakin ‘njomplang’ . Jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin lebar. Maka  akan muncul permasalahan social yang luar biasa. Kriminalitas merajalela. Hingga peradaban manusia tak ubahnya seperti peradaban hewani. Saling memangsa satu dan lainnya Tapi Islam adalah agama nan penuh cinta. Ia memanusiakan manusia. Syariatnya menjaga agar perilaku manusia berjaln diatas jalan yang lurus sesuai fithrahnya. Inilah rahmat.

Maka wajarlah bila Anis Matta menuliskan, “Cinta adalah sebuah kekuatan perubahan yang dahsyat.” Hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Misi kenabian itu berhasil membuat sebuah gebrakan nan menakjubkan. Sebuah pemerintahan. Sebuah super-state.  Sebuah kekhalifahan. Sebuah peradaban besar lahir dari sebuah lembah tandus ditengah jazirah Arab. Mengikis habis segala bentuk keangkuhan jahiliyah.

Say teringat sebuah bab pada buku yang ditulis oleh Salim A Fillah,  Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim. Pada Bab yang membahas tentang khilafah. Ustadz Salim membukanya dengn sebuah pernyatan dan pertanyan, “Kenabian itu ‘mempersiapkan’ khilafah selama 22 tahun. Maka, tanpa kenabian berapa lama waktu ayng kita perlukan untuk mempersiapkan khilafah yang semisalnya?”

Maka jika nubuwwah telah berhasil membawa kepada kekhalifahan. Dalam waktu yang relatif singkat. 22 tahun 2 bulan 22 hari. Lalu pertanyaannya, dengan cara apakah kita bias kembali menjayakan islam dan menegakkan khilafah tanpa nubuwah? Jawabnya adalah dengan dakwah ‘ala minhajil nubuwwah. Dakwah dengan konsep-konsep kenabian. Melalui model dakwah yang kita pelajari dari sirah nabawi. Dakwah yang bersumber pada nubuwwah. Adalah dakwah yang  penuh cinta. Ia menjadi sebuah rahmat bagi semesta. Karena Rasulullah bukanlah seorang pendendam, tapi seorang pecinta. Ia Lembut dan penuh kasih.  Maka dakwah pun juga seperti itu, karakter lembut dan penuh kasih haruslah termunculkan dalam pribadi-pribadi da’i yang menyeru kepada Allah.

“Maka disebabkan atas rahmat Allah lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali Imran : 159 )

Oleh : Ardhianto Murcahya, S.Psi – Solo
Facebook - Twitter-Blog

 

Redaktur: Fimadani

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih