Islamisasi vs Kristenisasi di Papua, Ada Apa?

Minggu, 1 Januari 2012 (4:39 am) / Uncategorized

Ternyata benar sekali ungkapan yang menyatakan di daerah yang mayoritas Muslim warga non-muslim dapat hidup dan beribadah dengan tenang, sebaliknya jika muslim yang minoritas mereka akan menderita. Bukan hanya tak tenang beribadah, mereka bahkan bisa dibantai.

Di Bogor, dalam persoalan GKI Yasmin yang jelas-jelas didirikan dengan bekal KTP Palsu untuk proses mendapatkan IMB-nya, mereka teriak-teriak ke penjuru dunia bahwa Walikota Bogor Diani Budiarto telah bertindak intoleran dan melanggar HAM. Mereka juga kampanye bahwa mereka tidak bisa menjalankan ibadah. Mereka tuduh Walikota melawan putusan Mahkamah Agung (MA), dan tuduhan-tuduhan lainnya. Persoalan itu bahkan diinternasionalisasikan. Itulah gaya kalangan Kristen.

Sekarang bandingkan dengan apa yang mereka lakukan di Papua. Apakah mereka memberikan ketenangan kepada umat Islam?. Apakah mereka tidak mencurigai adanya Islamisasi di Papua?.

Peneliti STAIN Al-Fatah, Safiudin, dalam makalah ilmiahnya yang dipresentasikan di acara The 11th Annual Conference on Islamic Studies (ACIS), di Bangka Belitung (10–13/10/2011) lalu membeberkan sejumlah penolakan Kristen terhadap kegiatan Islam di Papua. Termasuk kecurigaan mereka terhadap program pemerintah yang dianggap sebagai bagian dari Islamisasi Papua.  Apa saja yang mereka tolak dan tentang?.

Pertama,
kebijakan transmigrasi oleh Pemerintah Pusat dituding oleh penduduk asli yang beragama  Kristen sebagai missi Islamisasi secara terselubung dan sistematis. Pada tahun 2010  sekelompok masyarakat di Jayapura menghadang 5000 penduduk transmigrasi yang berasal dari  pulau Jawa karena dianggap sebagai misi Islamisasi di Papua.

Kedua,
pada tahun 2005, rencana pendirian kampus STAIN Al-Fatah ditolak oleh masyarakat karena dikalim sebagai “Islamic Center”, walaupun mereka  memahami bahwa STAIN merupakan lembaga pendidikan. Pernyataan penolakan STAIN Al-Fatah dinyatakan secara tegas oleh Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Papua. Mereka  melarang penjualan tanah adat untuk keperluan pembangunan Kampus STAIN Al-Fatah.

Ketiga, pada tahun 2006, reaksi penolakan terhadap pendirian STAIN kembali diperjuangkan  oleh API. Penolakan STAIN oleh API pada akhirnya berujung pada keluarnya surat  keputusan Majelis Rakyat Papua (MRP) yang menyatakan menolak pendirian STAIN di  Jayapura. Hingga saat ini STAIN Jayapura masih dianggap sebagai Islamic Center yang dalam pandangan umat Kristen dikonotasikan bagian dari Islamisasi Papua secara sistematis  dan terselubung.

Keempat, pada 4 Agustus dan 4 November tahun 2008, Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) melakukan demonstrasi dengan menghadirkan ribuan masa di  Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP). Kelompok ini  menolak pemberlakuan syariat Islam di Indonesia, terutama di Papua. Forum ini menganggap bahwa keberadaan Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, dan STAIN Al-Fatah di Kota Jayapura merupakan bentuk penerapan syariat Islam di tanah Papua.

Kelima,
mereka juga tidak jujur dalam mempublikasikan data penduduk berdasarkan agama yang dianut. Pada tingkat provinsi, penduduk Papua berdasarkan pemeluk agama tercatat Kristen sebanyak 1.503.124 jiwa, penduduk yang beragama Islam berjumlah 583.628 jiwa, Katolik sebanyak 422.126 jiwa, Hindu sebanyak 3.258 jiwa, Budha sebanyak 1.914 jiwa, dan Konghucu sebanyak 331 jiwa.

Data ini menurut Safiudin sebenarnya berbeda dengan jumlah sebenarnya. Secara ril, jumlah penduduk yang beragama Islam di Papua lebih banyak bila dibandingkan dengan penduduk yang beragama lain. Analis kependudukan Provinsi Papua Dr. Lapona mengatakan bahwa Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Papua sedang memainkan peran politisasi data statistik. “BPS tidak dapat mempublikasikan angka yang sebenarnya, dengan tujuan untuk mencegah konflik”, tulisnya.

Islamisasi atau Kristenisasi?

Tabloid Kristen Reformata pada edisi Desember 2011 menuding  Yayasan Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) telah melakukan Islamisasi di tanah Papua. Tudingan itu ditanggapi dingin oleh Ketua AFKN Ustadz Fadzlan Garamatan.

“Kenapa mereka mesti takut?. Mereka punya helikopter. Kita hanya punya kapal kecil saja ditakuti”, jawab Ustadz Fadzlan kepada Suara Islam Online, Rabu lalu (28/12/2011).

Ketakutan kalangan Kristen terhadap Islamisasi Papua tidak hanya pada AFKN saja. Bahkan program resmi pemerintah turut mereka curigai. “Program transmigrasi itu mereka curigai sebagai bagian dari Islamisasi Papua”, lanjut Ustadz Fadzlan.

Padahal, faktanya, selama ini pihak Kristenlah yang terus berusaha mengKristenkan tanah Papua alias melakukan Kristenisasi. Peneliti dari STAIN Al-Fatah, Jayapura, Safiudin, mengungkapkan sejumlah upaya pengKristenan Papua itu dalam makalahnya yang dipresentasikan pada acara The 11th Annual Conference on Islamic Studies (ACIS), di Bangka Belitung (10–13/10/2011) lalu.

Pada tahun 2001, para pimpinan Gereja telah menetapkan Manokwari sebagai kota Injil. Dengan alasan daerah ini merupakan tempat pertama kali missionaris Jerman Ottow dan Geisler menginjakan kaki di tanah Papua, dalam rangka missi zending.

Tahun 2006, masyarakat juga telah mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang penetapan Manokwari sebagai ‘Kota Injil’. Tahun 2007, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (KMKI) Papua melakukan demonstrasi untuk menuntut Pemerintah Daerah agar menetapkan Manokwari sebagai kota Injil. Menurut Safiudin, usaha masyarakat untuk menjadikan Manokwari sebagai kota Injil berlangsung hingga tahun 2009.

Sebagai kelanjutan menjadikan Manokwari sebagai Kota Injil, lanjut Safiudin, tahun 2011 Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke telah meresmikan patung Bunda Maria dengan slogan ‘Merauke Sebagai Gerbang Hati Kudus’.

“Sikap Pemerintah Daerah Merauke untuk membuat patung Bunda Maria kemudian mendapat protes dari Majelis Muslim Papua (MMP)”, tulisnya dalam makalah yang berjudul “Analisis Peran Majelis Muslim Papua (MMP) dalam Membina Kerukunan Antara Islam-Kristen di Kota Jayapura” itu.

Kalangan Kristen juga mengkalim Papua sebagai ‘tanah yang diberkati’. Artinya mereka mengklaim bahwa tanah Papua adalah milik Kristen baik Protestan maupun Katolik. Buktinya, Gereja Pengharapan Jayapura membentangkan spanduk dengan slogan ‘Tanah Papua Milik Yesus Kristus’.

“Simbol salib dalam bentuk patung dipampang pada berbagai tempat di kota Jayapura, juga memicu sentimen dari kalangan umat Islam”, tulis Safiudin.

suaraislam | fimadani

Redaktur: Shabra Syatila

Sebarkan Pada Sesama

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih