gimage

Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta’ala adalah untuk beribadah kepadaNya. Ibadah adalah hakikat tauhid, sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah[1] kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala inilah sebenarnya makna firman Allah, “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun: 3)

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Hikmah diutusnya para Rasul adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat, jadi bukan hanya untuk Bangsa Arab saja. Ajaran para Nabi tersebut adalah satu, yaitu tauhid, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut[2].’” (QS. An Nahl, 36).

Masalah yang sangat penting adalah, bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thaghut. Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).

Pengertian thaghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).

Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah,  “Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).

Dan diakhiri dengan firmanNya, “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).

Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya, “Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).

Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am tersebut menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.

Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan di dalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya,  “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).

Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di saat akhir hayat beliau.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata,

“Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.”[3]

Kita sebagai kaum Muslim harus mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan, dan mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya hak-hak Allah tersebut.

Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata,

Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku, “ Wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?”

Aku menjawab,  “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”

Kemudian beliau bersabda, “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya, ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab, “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

Dengan demikian kita boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah, tetapi tetap dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama Muslim. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa khawatir terhadap sikap seseoranga menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.

Selain itu kita melihat kerendahan diri dari Rasulullah maupun Muadz. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya. Dan Muadz pun berbesar hati untuk mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui, sehingga ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Inilah salah satu keutamaan Muadz bin Jabal.

_______________________________


[1] Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

[2] Thaghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thaghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

[3] Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.


Redaktur: Shabra Syatila
Sumber: Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI