Ghirah

Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana: cemburu. Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin merebut kembali, bukan cemburu namanya. Itulah sebabnya orang bilang cemburu adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu. Nah, yang disebut ghirah itulah perasaan memiliki / mencintai agama secara mendalam yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihinakan orang.

Buya Hamka mengambil sebuah perspektif yang menarik ketika bercerita tentang ghirah. Sementara pada masanya orang banyak mengelu-elukan Mahatma Gandhi, beliau justru mengingatkan semua orang bahwa Gandhi adalah tokoh yang anti Islam, dan kita sebagai Muslim tidak sepatutnya melupakan hal itu.

Dalam tulisan-tulisan atau ucapan-ucapannya, Gandhi senantiasa menampilkan sosok yang bersahaja, santun dan toleran, bahkan kontradiktif dalam beberapa hal. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa ia menghormati semua agama sebagaimana agamanya sendiri, walaupun ia merasa bahwa agamanyalah yang paling tinggi. Di tempat lain, ia mengatakan bahwa di atas agama-agama ada pula ‘Agama’ (dengan ‘A’ besar) yang mengatasi semua agama itu, yang bersemayam di hati seluruh manusia, apa pun agama formalnya. Kali lain, ia berkata pula bahwa semua agama itu benar, dan semua agama itu juga salah.

Kontradiksi Gandhi dalam menyikapi agama-agama diberi catatan tersendiri oleh Hamka. Di satu sisi, Gandhi selalu mengatakan bahwa semua agama sama-sama mulia, sama-sama mengajarkan kebaikan, sama-sama mengantar kita ke surga. Namun ketika orang-orang dekatnya memutuskan untuk memeluk agama Islam, ia melakukan suatu hal yang dikenal luas sebagai ciri khasnya sendiri: mogok makan! Sayangnya, sebagian dari orang-orang terdekatnya itu tidak tega dan akhirnya kembali ke agama asalnya.

Meskipun muncul dalam sebuah prilaku yang hipokrit dari pribadi seorang Gandhi, ghirah adalah suatu hal yang fitrah. Cemburu memang fitrah; semua manusia merasakannya. Anak kecil pun akan menangis jika mainannya direnggut paksa. Orang dewasa apalagi, karena mereka sudah menyelami seluk-beluk cinta dalam hatinya sendiri.

Catatan lain yang diberikan oleh Buya Hamka seputar ghirah adalah betapa ghirah ini menjadi suatu hal yang paling menakutkan bagi kaum penjajah dahulu. Mereka terheran-heran menyaksikan bangsa yang cuma punya rencong atau keris di tangan namun bisa tampil begitu gagah di hadapan bedil yang terkokang hanya karena satu kalimat takbir. Mereka tidak habis pikir mengapa masih ada saja bangsa yang siap mati bersimbah darah membela agamanya, karena agama memang sudah sejak lama mati di Eropa.

Jangankan soal agama, soal perempuan saja umat Islam itu begitu besar rasa cemburunya. Pernah ada seorang perempuan yang diam-diam dipacari oleh lawan jenisnya. Pada masa itu, berpacaran dengan perempuan, apalagi backstreet, adalah penghinaan yang serius terhadap keluarganya. Kakak lelakinya pun bertindak membela kehormatan keluarga. Ditikamlah lelaki tak berbudi tadi, matilah dia.

Sudah barang tentu, hukum sekuler yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa itu mengharuskan sang kakak lelaki menjalani bertahun-tahun hukuman di penjara. Dalam logika kaum sekuler, habislah sudah keluarga itu; anak perempuannya terhina, anak lelakinya dipenjara. Apa dinyana, setelah belasan tahun dipenjara, ia malah dijemput oleh seluruh keluarga dan sanak saudaranya layaknya rombongan yang mengantar jemaah pergi berhaji. Shalawat dialunkan, tangis haru berderai, ia disambut bagai pahlawan. Tidak peduli apa kata Belanda; di mata keluarganya, sang pemuda adalah pembela kehormatan mereka.

Menghadapi bangsa yang ghirah-nya menyala hebat adalah persoalan yang runyam buat Belanda. Ingat Bandung Lautan Api? Banyak orang hanya ingat lagunya, namun kurang menghayati sedahsyat apa kejadian itu sebenarnya. Bukan 1-2 bangunan dibakar, melainkan hampir seisi kota. Jika Bandung dibakar sebagai bagian dari teror penjajah terhadap rakyat, maka akal kita masih bisa mencernanya dengan mudah. Namun sebenarnya kota itu justru dibakar oleh warganya sendiri. Apa sebab? Karena lebih baik dibumihanguskan daripada dinikmati tuan-tuan penjajah!

Betapa runyam urusan kaum Zionis di tanah Palestina, lantaran putri-putri Al-Quds memiliki ghirah yang sangat tinggi. Lebih baik mati semua daripada Masjidil Aqsha dinistakan. Lebih baik suami pulang menjadi mayat daripada harus mengalah pada bangsa penjahat. Ada ibu yang dikaruniai keturunan yang banyak, namun satu persatu menjemput syahid, dan itulah hal yang membuatnya tetap hidup dengan kepala tegak penuh kebanggaan; rahimnya telah melahirkan para penghuni surga!

Sebagai bagian dari strategi penjajahan, umat Islam di mana-mana ditekan agar tidak pernah mengobarkan ghirah-nya lagi. Jangan pernah marah lagi jika agamanya dihina. Jangan pernah cemburu lagi jika kehormatannya direnggut. Karikatur Rasulullah saw dibuat dengan nuansa penghinaan yang begitu kental, dan kita tidak boleh marah. Jika Yesus saja sudah dijadikan komoditi humor, mengapa Muhammad saw tidak boleh? Mereka mengharapkan umat Islam akan kehilangan ghirah sebagaimana mereka telah kehilangan ghirah-nya berabad-abad yang lampau. Mereka ingin umat Islam tidak lagi cinta pada agamanya sendiri, sebagaimana mereka sendiri telah mencampakkan rasa cinta pada agamanya entah berapa abad yang lalu.