Fundamentalis-Radikalis

Sabtu, 14 Juli 2012 (10:29 am) / Pemikiran Islam

Prof. Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar yang sudah kadung dikenal sebagai ‘profesor paling liberal’, menjelaskan Islam liberal dengan cara sederhana dalam acara bedah buku Islam Liberal 101. Ia mengutip penjelasan yang didapatnya dari situs Jaringan Islam Liberal (JIL), yaitu bahwa Islam liberal adalah respon terhadap Islam fundamental. Demikianlah cara JIL memandang dirinya sendiri, dan rupanya perspektif inilah yang dipilih oleh sang profesor.

Dengan memilih perspektif ini, sebenarnya Prof. Qasim sudah memperlihatkan keberpihakannya. Sebab, bagaimana pun Islam liberal – dalam pernyataannya itu – tengah menilai dirinya sendiri secara subyektif dan menilai kelompok lain secara subyektif pula. Apa memang betul Islam liberal lahir untuk merespon Islam fundamental? Apa yang dimaksud dengan Islam fundamental? Siapa yang dirujuk dengan nama ‘Islam fundamental’? Dalam uraiannya, Prof. Qasim tidak tertarik sama sekali mendengarkan pendapat (mereka yang disebut sebagai) Islam fundamental terhadap Islam liberal, atau juga mengenai dasar-dasar pemikiran mereka yang (dianggap) fundamentalis. Dan tentu saja, penjelasan ini juga tidak menjawab pertanyaan yang sejak awal diajukan, yaitu “Apa itu Islam liberal?”

Definisi ilmiah tentang Islam liberal memang sampai sekarang belum ada. Luthfi Assyaukanie, tokoh JIL yang juga anggota dewan pembina Maarif Institute, menjelaskan bahwa Islam liberal adalah wajah Islam yang non-ortodoks, kompatibel dengan perubahan jaman dan berorientasi ke masa depan. Ini hanya sekedar klaim, sebab tidak ada harakah atau mazhab mana pun yang mengaku ortodoks, tidak kompatibel dengan jaman dan tidak berorientasi ke masa depan. Ada juga yang mengatakan Islam liberal itu adalah Islam yang tidak kolot, tidak melakukan kekerasan, dan tidak memusuhi umat lain. Penjelasan ini sama saja seperti di atas, yaitu sekedar menjelaskan bahwa “Islam liberal adalah yang bukan fundamentalis”. Penjelasan dengan motede ‘yang bukan-bukan’ seperti ini sesungguhnya tidak menjelaskan sama sekali. Sama saja halnya seperti anak yang bertanya tentang laptop, kemudian diberi jawaban “Laptop itu bukan kursi, bukan meja, bukan jendela, bukan buku, bukan untuk dilempar-lempar, bukan untuk digelindingkan,” dan seterusnya. Apa ada anak yang bisa mengerti dengan penjelasan seperti itu?

Hal menarik yang dapat kita garisbawahi di sini adalah bahwa nampaknya mereka yang terlanjur terinfeksi dengan virus Islam liberal memang benar-benar percaya bahwa Islam ini terbagi ke dalam dua kutub: liberalis dan fundamentalis. Kalau tidak liberalis ya fundamentalis. Logikanya tidak jauh beda dengan George W. Bush dengan ‘perang melawan terornya’ yang dijelaskan dengan kata-kata: “It’s either you’re with us or against us.

Dengan doktrinasi demikian, maka para pengikut Islam liberal percaya sepenuhnya bahwa di luar kelompok mereka semuanya adalah penjahat, pemuja kekerasan, tukang pukul, tukang bikin onar dan semacamnya. Kalau tidak Islam liberal, berarti tidak intelek. Fundamentalis. Radikalis. Ortodoks. Konservatif.

Menurut penjelasan di kamus, “fundamentalis” berarti “orang yang reaktif, berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang dimilikinya”. Bagian “reaktif” mungkin masih bisa diperdebatkan, tapi bagian selanjutnya justru mengundang pertanyaan. Jika fundamentalis berarti berpegang teguh pada prinsip, maka: (1) apa salahnya menjadi seorang fundamentalis, dan (2) siapa yang tidak fundamentalis?

Dari sini, kita bisa melihat kenyataan bahwa pemberian label ‘fundamentalis’ memang dilakukan secara sepihak saja. Sebab, jika maknanya memang sesuai penjelasan di dalam kamus, maka kata ini sama sekali tidak punya konotasi buruk (kecuali pada bagian “reaktif” tadi). Dan, tentu saja, karena manusia pasti punya prinsip, maka semua manusia dipastikan fundamentalis. Hanya saja, label ‘fundamentalis’ biasanya diberikan pada mereka yang memegang teguh prinsip berdasarkan agamanya. Padahal, yang ngotot memegang prinsip sekuler-liberal secara membabi-buta pun semestinya pantas disebut sebagai fundamentalis. Di negara-negara sekuler, sebagai contoh, mudah saja mengenakan bikini, tapi susah mengenakan hijab. Artinya, para penguasa di negeri-negeri itu benar-benar berpegang teguh pada prinsip sekulernya.

Tidak lama setelah Prof. Qasim mencoba menjelaskan tentang fenomena Islam liberal, muncul tanggapan dari seorang mahasiswa UIN Makassar yang nampaknya ingin menjadi seorang liberalis sejati. Menurutnya, Islam liberal itulah yang ilmiah. Sebab, katanya lagi, semua buku-buku referensi kuliahnya ditulis oleh orang-orang yang berhaluan Islam liberal.

Sebenarnya, mahasiswa malang tadi baru saja menjelaskan dua hal penting. Pertama, bahwa Islam liberal sesungguhnya sangat fundamentalis. Saking ketatnya berpegang teguh pada prinsip-prinsip sekuler-liberalnya, sampai-sampai mahasiswa pun dicekoki oleh buku-buku rujukan yang semuanya berhaluan Islam liberal. Jika mahasiswa UIN Makassar menjadi liberalis, maka itu tidak lain karena proses indoktrinasi yang dijalankan oleh pihak kampus.

Pada hakikatnya, Islam liberal sama sekali tidak liberal (baca: bebas). Sebab, meskipun para aktivisnya senantiasa mengaku membuka pintu perbedaan, namun pada kenyataannya mereka juga menyalahkan yang lain dan menganggap dirinya sendiri yang benar. Sebab, sebagaimana dijelaskan dalam ‘definisi’ sebelumnya, Islam liberal adalah respon terhadap Islam fundamental. Di luar Islam liberal, semuanya dianggap fundamentalis. Konotasi buruk yang biasa digunakan pada kata “fundamentalis” memberikan makna bahwa Islam liberal menganggap semua di luar kelompoknya itu buruk.

Itulah sebabnya para aktivis Islam liberal biasanya merasa paranoid saat diundang ke dalam sebuah acara diskusi atau debat terbuka. Abd. Moqsith Ghazali, misalnya, beberapa kali meminta jaminan keamanan sebelum menerima undangan dari Hard Rock FM dalam acara Provocative Proactive beberapa waktu yang lalu (namun akhirnya ia pun tak datang). Guntur Romli, yang diminta untuk datang menggantikan rekannya, juga mengatakan bahwa ia tidak tertarik berdiskusi dengan orang-orang yang cuma bisa ngotot dan tidak bisa ngotak. Prof. Qasim pun, menurut penjelasan panitia bedah buku, awalnya tidak mau datang, karena merasa acara itu cuma mengundang keributan. Padahal, yang hadir dalam kesemua acara tersebut tidak berniat jahat atau menginginkan terjadinya kericuhan. Sebaliknya, di salah satu kampus UIN pernah digelar ajang debat seputar pro-kontra Islam liberal, dan memang pernah terjadi keributan. Hanya saja, korbannya adalah ust Hartono Ahmad Jaiz, yang jelas kontra Islam liberal. Jadi, tuduhan kelompok Islam liberal terhadap sikap keras kaum yang mereka sebut sebagai fundamentalis itu seringkali tidak berdasar, sebab mereka memang didoktrin untuk berpikir bahwa yang tidak liberalis pastilah fundamentalis. Parahnya lagi, mereka gagal memahami bahwa yang disebut liberalis itu pun fundamentalis, bahkan pernah juga melakukan kekerasan karena berpegang teguh pada prinsipnya itu.

Hal kedua yang dapat disimpulkan dari pernyataan mahasiswa UIN Makassar tadi adalah bahwa kampusnya memang merupakan tempat kaderisasi Islam liberal. Meskipun Prof. Qasim senantiasa menekankan bahwa dirinya dan para pengajar lainnya di UIN Makassar tidak mengarahkan mahasiswa-mahasiswanya untuk menganut mazhab atau pendapat tertentu (Prof. Qasim menyebutnya sebagai ‘paket-paket Islam’ yang sangat banyak ragamnya), namun kenyataannya para mahasiswanya memang diarahkan ke suatu pemikiran tertentu, yaitu pemikiran Islam liberal.

Selain “fundamentalis”, nama lain yang sering disebut adalah “radikalis”. “Radikal” juga biasanya selalu dialamatkan kepada mereka yang memegang teguh prinsip agamanya, sehingga radikalisme dianggap sebagai konsekuensi logis dari fundamentalisme agama. Bagaimana dengan fundamentalisme sekuler? Mengapa tindak-tindak kejahatan yang dilandasi oleh pemikiran yang fundamentalis terhadap prinsip-prinsip sekuler tidak dikatakan radikal? Faktanya, dibanding kejahatan yang terjadi akibat pemahaman yang salah terhadap ajaran agama, jauh lebih banyak kejahatan yang terjadi akibat pemahaman yang tidak berlandaskan pada agama. Para pencuri, pembunuh, pezina, pengguna narkoba, preman jalanan, tukang palak, koruptor dan diktator biasanya bukan orang yang religius. Meski demikian, radikalisme tetap saja diidentikkan dengan fundamentalisme, dan fundamentalisme diidentikkan dengan agama.

Pemahaman semacam ini telah menjadi doktrin yang tak boleh dibantah dalam wacana pemikiran Islam liberal. Karena itulah Islam liberal sangat pantas untuk disebut sebagai ideologi yang sangat fundamental dan sangat radikal.

Redaktur: Akmal Sjafril

Copyright © 2011 – 2014