<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Fimadani</title>
	<atom:link href="http://www.fimadani.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.fimadani.com</link>
	<description>Bersatu Dalam Bingkai Madani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2013 10:04:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Tips Menjaga Kesehatan Rambut Untuk Wanita Berjilbab</title>
		<link>http://www.fimadani.com/tips-menjaga-kesehatan-rambut-untuk-wanita-berjilbab/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/tips-menjaga-kesehatan-rambut-untuk-wanita-berjilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 11:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Rifa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan rambut]]></category>
		<category><![CDATA[kulit kepala]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23373</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/muslimah/beauty/" title="View all posts in Kecantikan" rel="category tag">Kecantikan</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/kesehatan-rambut/" rel="tag">kesehatan rambut</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kulit-kepala/" rel="tag">kulit kepala</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/muslimah-2/" rel="tag">muslimah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/rambut/" rel="tag">rambut</a></p>Pengguna jilbab atau hijab pada wanita kini sudah menjadi tren gaya busana kaum wanita. Berhijab saat ini tidak hanya menjadi salah satu busana muslim yang wajib dikenakan kaum wanita muslimah tetapi juga telah bermetamorfosa menjadi tren fashion. Rambut yang tertutupi oleh hijab tetap harus mendapatkan perhatian dan tidak mengabaikan kesehatan rambut karena dengan berhijab tidak [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/tips-menjaga-kesehatan-rambut-untuk-wanita-berjilbab/' title='Tips Menjaga Kesehatan Rambut Untuk Wanita Berjilbab'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pengguna jilbab atau hijab pada wanita kini sudah menjadi tren gaya busana kaum wanita. Berhijab saat ini tidak hanya menjadi salah satu busana muslim yang wajib dikenakan kaum wanita muslimah tetapi juga telah bermetamorfosa menjadi tren fashion.</p>
<p><span style="font-size: 13px">Rambut yang tertutupi oleh hijab tetap harus mendapatkan perhatian dan tidak mengabaikan kesehatan rambut karena dengan berhijab tidak lantas menghindari rambut dari berbagai macam masalah karena rambut yang tertutup dalam waktu yang lama akan kekurangan oksigen, terasa lembab dan panas.</span></p>
<p>Oleh karena itu, <a href="http://www.perawatanrambut.web.id/rekomendasi-10-makanan-terbaik-untuk-kebaikan-rambut/">kesehatan rambut</a> bagi wanita berhijab harus mendapatkan perhatian lebih, karena wanita berhijab justru cenderung memiliki berbagai masalah rambut seperti rambut menjadi lembab, ketombe, rontok atau patah, lepek, dan kulit kepala berminyak. Sehingga harus dilakukan perawatan secara ekstra supaya kesehatan rambut wanita berhijab selalu terjaga dengan baik.</p>
<p>Merawat rambut berhijab sebetulnya tidak susah, asal rutin dilakukan dan perlu diketahui bahwa kondisi alam di Indonesia memiliki tingkat humidity/kelembaban yang tinggi sering menimbulkan penyakit kulit, terutama juga pada kulit rambut. Oleh karena itu, perawatan ekstra untuk menjaga kesehatan rambut bagi wanita berhijab pun tidaklah harus mahal, bahkan merawat rambut yang selalu ditutupi hijab, bisa dilakukan sendiri di rumah.</p>
<p>Berikut adalah beberapa cara supaya rambut dan kulit kepala selalu sehat dengan perawatan sendiri :</p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px">Keramas secara teratur 2-3 hari sekali </span></li>
<li><span style="font-size: 13px">Pilih shampo yang sesuai dengan jenis rambut dan kulit kepala, karena rambut berhijab cenderung berminyak, maka sebaiknya pilih jenis shampo untuk rambut berminyak. </span></li>
<li>Selalu gunakan hair tonik setelah keramas, dan lakukan pijatan ringan pada kulit kepala, karena pijatan ringan ini dapat membantu melancarkan peredaran darah.</li>
<li><span style="font-size: 13px">Creambath seminggu sekali akan sangat membantu dalam menjaga kesehatan rambut apalagi kesehatan rambut bagi wanita berhijab, supaya rambut dan kulit kepala selalu mendapatkan nutrisi, serta menghindari kecenderungan menjadi lembab dan kulit kepala berketombe.</span></li>
<li>Kesehatan rambut juga dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup kita. Untuk itu perbanyak makan makanan yang mengandung rendah lemak serta kaya akan protein, vitamin B-6, vitamin B-12, dan vitamin C, serta zat besi yang mampu memberikan nutrisi bagi rambut secara alami seperti Kacang-kacangan, bayam, pisang, dapat menjadi pilihan.</li>
</ol>
<p>Selain itu, kita sebaiknya memperhatikan kondisi rambut sebelum ditutupi dengan hijab saat ingin berpergian:</p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px">Sebelum mengenakan hijab, rambut harus dalam kondisi sudah kering, karena rambut yang masih basah atau lembab menyebabkan rambut menjadi rapuh, selain itu kondisi rambut basah yang ditutupi akan menimbulkan ketombe dan menyebabkan kulit kepala yang lembab.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px">Untuk rambut yang panjang, jangan mengikat rambut terlalu keras,karena akan menyebabkan rambut menjadi rapuh dan mudah patah.</span></li>
<li>Jangan seharian memakai hijab, maksimal 8 jam, atau setidaknya luangkan sedikit waktu untuk melepas hijab agar pori-pori kulit kepala bisa bernafas.</li>
</ol>
<p>Disamping hal tersebut, pemilihan bahan hijab juga mempengaruhi kesehatan dan kondisi rambut. Untuk itu, berikut adalah tips memilih bahan hijab, sebagai bagian dari perawatan rambut untuk wanita berhijab:</p>
<ol>
<li><span style="font-size: 13px">Pemilihan bahan untuk hijab, cukup berpengaruh terhadap kesehatan rambut, Pilih yang berbahan seperti kaos, katun atau spandek karena bahan-bahan tersebut sangat mudah menyerap keringat, sehingga dapat mencegah terjadinya kelembapan di rambut atau kulit kepala kita.</span></li>
<li><span style="font-size: 13px">Hindari menggunakan hijab warna hitam atau gelap, khususnya di siang hari, karena warna hitam atau gelap sangat mudah menyerap sinar matahari, sehingga membuat rambut atau kulit kepala menjadi lebih panas.</span></li>
<li>Hindari menggunakan hijab yang berlapis-lapis, atau kalaupun berlapis jangan lebih dari empat lapisan, selain membuat kulit sulit bernafas, juga menyebabkan kulit kepala menjadi lembab.</li>
<li>Jangan terlalu sering mengikat kerudung dibagian leher, karena menghambat udara masuk dan rambut susah bernafas.</li>
<li>Jangan pakai hijab yang bahannya terlalu tebal, ketat, atau mengikat rambut kepala terlalu kencang.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/tips-menjaga-kesehatan-rambut-untuk-wanita-berjilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyekutukan Allah dengan Ucapan Sumpahmu</title>
		<link>http://www.fimadani.com/jangan-menyekutukan-allah-dengan-ucapanmu/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/jangan-menyekutukan-allah-dengan-ucapanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 23:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[allah dan]]></category>
		<category><![CDATA[kehendak allah]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[sumpah]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23699</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/aqidah-syariah/" title="View all posts in Aqidah" rel="category tag">Aqidah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/allah-dan/" rel="tag">allah dan</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kehendak-allah/" rel="tag">kehendak allah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kitab-tauhid-alladzi-huwa-haqqullah-alal-ibad/" rel="tag">Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/sumpah/" rel="tag">sumpah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/syirik/" rel="tag">syirik</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/tauhid/" rel="tag">tauhid</a></p>Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhu mengatakan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, maka Nabi bersabda , “Apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata.” Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah?” adalah sebagai bukti [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/jangan-menyekutukan-allah-dengan-ucapanmu/' title='Jangan Menyekutukan Allah dengan Ucapan Sumpahmu'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhu mengatakan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam<i>, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’</i>, maka Nabi bersabda , “Apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata.”</p>
<p>Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah?” adalah sebagai bukti adanya penolakan terhadap orang-orang yang mengatakan kepada beliau, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”.</p>
<p>Jika demikian sikap beliau, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan perkataan, “Wahai makhluk termulia, tak ada seorangpun bagiku sebagai tempatku berlindung kecuali engkau (Muhammad).” Padahal, tempat berlindung adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu  mengetahui (bahwa Allah adalah Maha Esa) ” (QS Al Baqarah: 22).</p>
<p>Ibnu Abbas Radhiyallahu ’Anhu dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “Membuat sekutu untuk Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu seperti ucapanmu, <i>‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai Fulan, juga demi hidupku’</i>, atau seperti ucapan,  <i>‘Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’,</i> atau seperti ucapan, <i>‘Kalau bukan karena angsa yang di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut’</i>, atau seperti ucapan seseorang kepada kawan-kawannya, ‘<i>Ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu’</i>, atau seperti ucapan seseorang, ‘<i>Kalaulah bukan karena Allah dan Fulan’</i>. Oleh karena itu, janganlah kamu menyertakan “Si Fulan” dalam ucapan-ucapan di atas, karena bisa menjatuhkan anda ke dalam kemusyrikan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan.” (HR At Tirmidzi, dan ia nyatakan sebagai hadits hasan, dan dinyatakan oleh Al Hakim: shahih).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur. Dan barangsiapa yang diberi sumpah dengan nama Allah, maka hendaklah ia rela (menerimanya). Barangsiapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)</p>
<p>Bahkan, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ’Anhu berkata “Sungguh bersumpah bohong dengan menyebut nama Allah lebih aku sukai daripada bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selainNya.”</p>
<p>Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu ’Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mengatakan, <i>‘Atas kehendak Allah <b>dan</b> kehendak si Fulan’</i>, tapi katakanlah, <i>‘Atas kehendak Allah <b>kemudian</b> atas kehendak si Fulan’</i>.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang baik)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i bahwa ia melarang  ucapan, “<i>Aku berlindung kepada Allah <b>dan </b>kepadamu”</i>, tetapi ia memperbolehkan ucapan<i>, “Aku berlindung kepada Allah, <b>kemudian </b>kepadamu”</i>, serta ucapan, <i>‘Kalau bukan karena Allah <b>kemudian</b> karena si Fulan’</i>, dan ia tidak memperbolehkan ucapan, ‘<i>Kalau bukan karena Allah <b>dan</b> karena Fulan’</i>.</p>
<p>Qutaibah Radhiyallahu’anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah, lalu berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik, kalian mengucapkan, <i>‘Atas kehendak Allah <b>dan</b> kehendakmu’</i>, dan mengucapkan,  <i>‘Demi Ka’bah’.</i></p>
<p>Maka Rasulullah memerintahkan para Sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, <i>“Demi Rabb Pemilik Ka’bah’</i>, dan mengucapkan, <i>‘Atas kehendak Allah, <b>kemudian</b> atas kehendakmu’</i>. (HR An Nasa’i dan ia nyatakan sebagai hadits shahih).</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa orang Yahudi pun mengetahui tentang perbuatan yang disebut syirik <i>ashghar</i> atau kecil.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Ath Thufail saudara seibu Aisyah Radhiyallahu ‘Anhumma, ia berkata:</p>
<p>Aku bermimpi seolah-olah aku mendatangi sekelompok orang-orang Yahudi, dan aku berkata kepada mereka, “Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum, jika kalian tidak mengatakan, ‘Uzair putra Allah’. “</p>
<p>Mereka menjawab, “Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’.”</p>
<p>Kemudian aku melewati sekelompok orang-orang Nasrani, dan aku berkata kepada mereka, “Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, ‘Al Masih putra Allah’.”</p>
<p>Mereka pun balik berkata, “Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan, “Atas kehendak Allah dan Muhammad’.”</p>
<p>Maka pada keesokan harinya aku memberitahukan mimpiku tersebut kepada kawan-kawanku. Setelah itu aku mendatangi Nabi Muhammad, dan aku beritahukan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasul bersabda, “Apakah engkau telah memberitahukannya kepada seseorang?”</p>
<p>Aku manjawab, “Ya.”</p>
<p>Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang diawalinya dengan memuji nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Amma ba’du. Sesungguhnya Thufail telah bermimpi tentang sesuatu, dan telah diberitahukan kepada sebagian orang dari kalian. Dan sesunguhnya kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang ketika itu saya tidak sempat melarangnya, karena aku disibukkan dengan urusan ini dan itu, oleh karena itu, janganlah kalian mengatakan, <i>“Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad”</i>, akan tetapi ucapkanlah, “<i>Atas kehendak Allah semata’.”</i></p>
<p>Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin ia untuk menerima dan melaksanakannya, apabila ia dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Sebagaimana orang-orang Yahudi tadi, mereka mengerti kebenaran, tetapi dia tidak mau mengikuti kebenaran itu, dan tidak mau beriman kepada Nabi yang membawanya.</p>
<p>Ucapan seseorang, <i>“Atas kehendak Allah dan kehendakmu,”</i> termasuk syirik<em> ashghar</em>, tidak termasuk syirik akbar, karena beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang karena kesibukanku dengan ini dan itu aku tidak sempat melarangnya.” Jika ia merupakan syirik besar, tentu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarangnya meskipun ada kesibukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/jangan-menyekutukan-allah-dengan-ucapanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melepas Kegalauan Dengan Iman</title>
		<link>http://www.fimadani.com/melepas-kegalauan-dengan-iman/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/melepas-kegalauan-dengan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 01:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mukti Amini Farid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqafah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Ubay]]></category>
		<category><![CDATA[galau]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang]]></category>
		<category><![CDATA[yang membuat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23693</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/tsaqafah/" title="View all posts in Tsaqafah" rel="category tag">Tsaqafah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/abdullah-bin-ubay/" rel="tag">Abdullah bin Ubay</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/galau/" rel="tag">galau</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/iman/" rel="tag">Iman</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/orang-yang/" rel="tag">orang yang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/yang-membuat/" rel="tag">yang membuat</a></p>Seorang pemuda muslim nan taat itu tercenung. Wajahnya murung. Nampak jelas ada permasalahan berat yang menggelayuti hatinya. Seperti  buah simalakama, dan sungguh tak ia kira sebelumnya. Ayah yang dicintainya sepenuh hati, ternyata mengambil sikap kurang terpuji. Dia menelikung kaum muslimin dengan fitnahan yang keji. Akibatnya, terdengar kabar santer bahwa ayahnya akan dibunuh, sebagai hukuman atas [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/melepas-kegalauan-dengan-iman/' title='Melepas Kegalauan Dengan Iman'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pemuda muslim nan taat itu tercenung. Wajahnya murung. Nampak jelas ada permasalahan berat yang menggelayuti hatinya. Seperti  buah simalakama, dan sungguh tak ia kira sebelumnya. Ayah yang dicintainya sepenuh hati, ternyata mengambil sikap kurang terpuji. Dia menelikung kaum muslimin dengan fitnahan yang keji. Akibatnya, terdengar kabar santer bahwa ayahnya akan dibunuh, sebagai hukuman atas perbuatannya. Sebagai anak, alangkah sedih hatinya. Tak dapat ia bayangkan jika ayahnya dibunuh. Namun sebagai muslim yang taat, dia juga sangat malu dengan perbuatan ayahnya. Ini benar-benar simalakama! Persoalan pelik ini membuat dia galau luar biasa.</p>
<p>Lama ia berpikir dan merenung. Kegalauannya yang sangat membuat ia memutuskan untuk segera menghadap pada sang pemimpin tertinggi, Rasulullah SAW. Di hadapan rasul, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, dia lirih berkata, &#8220;<em>Wahai Rasulullah. Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa Anda ingin membunuh ayahku karena konspirasi yang Anda dengar darinya. Demi Allah, kaumku mengetahui bahwa mereka tidak memiliki orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya, selain aku. Sesungguhnya aku takut, bila Anda menyuruh orang lain untuk membunuh ayahku, maka jiwaku akan tidak kuat melihatnya berjalan bebas di tengah kaum muslimin, hingga aku membunuhnya untuk balas dendam. Jika demikian ya Rasul, aku akan menjadi pembunuh seorang mukmin karena dia membunuh seorang kafir, dan akhirnya aku masuk neraka.&#8221;</em></p>
<p>Terdiam sejenak, lalu setelah menghela nafas panjang, dia menguatkan diri untuk berkata, &#8220;<em>Oleh karena itu, ya Rasulullah, bila Anda, mau tidak mau harus mengambil kebijakan itu, maka perintahkanlah tugas itu kepadaku. Pasti aku akan membawa kepalanya kepadamu.</em>&#8221;</p>
<p>Kini, sebongkah beban berat di hatinya seperti terangkat sudah. Tak tahu lagi dia harus bersikap bagaimana, selain mengadu tentang kegalauan hatinya, kepada pemimpin yang ia anggap akan bijak menyikapi permasalahannya.</p>
<p>Mendengar penuturan si pemuda, dengan lembut Rasulullah berkata, &#8220;<em>Tidak, nak. Bahkan kami akan bersikap lembut kepadanya, dan berlaku baik kepadanya dalam bergaul, selama dia masih hidup berdampingan dengan kita.</em>&#8221;</p>
<p>Mendengar jawaban Rasulullah, meneteslah air mata si pemuda. Ayahnya selamat, tidak akan dibunuh. Meskipun ia sangat malu dengan tindakan ayahnya, dia masih ingin ayahnya hidup bersamanya. Dia masih ingin berbakti padanya, dan siapa tahu seiring waktu ayahnya akan bertaubat, mengakui kekeliruannya.</p>
<p>Ini pelajaran pertama. Pemuda itu, meskipun namanya tak begitu dikenal dalam sejarah, sesungguhnya telah memberikan pelajaran sangat berharga pada kita semua. Tentang mengatasi rasa galau, yang sering kali menghinggapi jiwa para pemuda. Kegalauan yang sifatnya sangat manusiawi, namun karena cahaya Islam telah menyelimuti hatinya, maka dia berani mengambil keputusan yang luar biasa: menawarkan diri sebagai algojo pembunuh ayahnya! Ketaatannya pada Islam mampu membuat dia berpikir jernih, di tengah gejolak hati yang hebat berkecamuk. Wahai, apakah kita para pemuda di jaman ini, sanggup memiliki sifat ksatria seperti ini?</p>
<p>Tak berhenti di sini.  Saat hampir memasuki Madinah, si pemuda berjaga di depan gerbang. Dia siaga menghunus pedangnya, meneliti satu-persatu orang yang yang akan masuk Madinah. Ketika dia temukan wajah ayahnya, yang sangat ia cintai, ada diantara rombongan, tegas ia berkata sambil menghunuskan pedangnya, &#8220;<em>Kembalilah ayah ke belakang!</em>&#8221;<br />
Ayahnya, tentu terlonjak kaget. Tak menyangka anaknya berani melakukan perlawanan. Lebih membela Rasul daripada ayahnya. Spontan Ayahnya berkata, &#8220;<em>Memang siapa kamu kok melarang ayahmu masuk? Kasihan sekali ya kamu itu.</em>&#8221;<br />
Sang anak dengan tegas menjawab, &#8220;<em>Demi Allah, Ayah tidak boleh melewati tempat ini, hingga Rasulullah mengijinkanmu masuk. Karena sesungguhnya, beliaulah yang lebih kuat dan perkasa sedangkan engkau adalah orang yang lebih lemah dan lebih hina.</em>&#8221;</p>
<p>Ucapan nan sederhana, namun telak. Membalikkan fitnahan yang terlontar keji dari mulut sang ayah, yang jauh hari sebelumnya dengan pongah berkata, “Apakah mereka (kaum muhajirin) telah berlepas dari diri kita dan merasa lebih banyak dari kita, di negeri kita sendiri? Demi Allah, kita tidak membekali diri kita dan kantong2 orang Quraisy melainkan sebagaimana dikatakan oleh orang-orang terdahulu, <em>“gemukkanlah anjingmu, maka ia pasti memakanmu’</em>. Oleh karena itu, demi Allah, bila kita telah kembali pulang ke Madinah, maka benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”.</p>
<p>Ucapan yang membuat panas telinga kaum muslimin. Ucapan yang membuat Umar yang duduk di samping Rasul saat ada aduan tentang ucapan tersebut, segera bereaksi, “Ya Rasul. Perintahkan Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya”. Namun dijawab Rasul dengan lembut, “Lalu bagaimana wahai Umar, bila orang-orang lalu berkata bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya?”</p>
<p>Duhai siapa dia, sang pemuda yang begitu mengagumkan dalam mengatasi kegalauannya? Dialah Abdullah, anak dari Abdullah bin Ubay, seorang tokoh Madinah yang disegani. Tokoh yang hampir saja mendapatkan mahkota penguasa, andai Rasul tidak hijrah ke Madinah. Tokoh yang membuat sebab turunnya ayat-ayat yang terbungkus dalam satu surat, dengan nama yang membuat tubuh bergidik; Surat Al-Munafiqun. Ya, surat yang khusus ditujukan pada Abdullah bin Ubay dan komplotannya, tapi tentu bukan untuk anaknya yang sangat taat.</p>
<p>Pelajaran kedua. Mari lihatlah ucapan pongahnya. Ucapan yang menjadi sebab turun ayat. Ucapan yang membuat geram kaum muslimin dan berhak membunuhnya, andai mau. Lalu mari bandingkan ucapan itu dengan ucapan-ucapan jaman kini. Terlihat, ucapan <a href="http://pkspringsewu.org/2011/07/pelajaran-dari-kematian-tokoh-munafiq-abdullah-bin-ubay-bin-salul/">Abdullah bin Ubay</a> terlihat masih ‘mendingan’. Tapi itu pun telah berefek luar biasa. Lalu bagaimana dengan ucapan-ucapan kita sendiri? Merasa muslim, lalu seenaknya memaki, merasa sebagai orang yang paling baik? Sungguh jerat-jerat kemunafikan bersiap menghadang, jika kita tak hati-hati. Berangkat dari hati yang sakit, lalu lisan menjadi pembantu setia untuk mengeluarkan kata-kata keji. Sementara, ayat Quran tentu takkan pernah turun lagi, untuk menjelaskan siapa saja yang munafik.  Maka, pantaslah Allah mengancam sifat kemunafikan dengan siksaan abadi di keraknya neraka. Karena perilaku munafik yang menelikung, seolah-olah ada dalam barisan tapi menggunting dalam lipatan. Sulit sekali dicari celah salahnya, karena terbungkus dalam kata-kata dan perilaku licin berbisa. Mari, bersama kita hati-hati menyikapi. Juga dengan sepenuh doa, agar kita terhindar dari sifat munafik. Juga doa sepenuh pasrah, saat ada badai kemunafikan memutarbalikkan fakta sedemikian rupa. Karena doa, bagi orang-orang yang teraniaya, tidak ada lagi pembatas antara dirinya dengan Rabb-nya.</p>
<p>Allahumma arinal haqqo haqqon, war zuqnat tibaa’ah. Wa arinal bathila bathilan, warzuqnaj tinaabah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/melepas-kegalauan-dengan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mabda&#8217; Tasattur dan Opini Umum</title>
		<link>http://www.fimadani.com/mabda-tasattur-dan-opini-umum/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/mabda-tasattur-dan-opini-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 09:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[aib]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[dusta]]></category>
		<category><![CDATA[hal hal]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang]]></category>
		<category><![CDATA[Saief Alemdar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23683</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/jendela/opini/" title="View all posts in Opini" rel="category tag">Opini</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/aib/" rel="tag">aib</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/bohong/" rel="tag">bohong</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/dusta/" rel="tag">dusta</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/hal-hal/" rel="tag">hal hal</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kebenaran/" rel="tag">Kebenaran</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/media/" rel="tag">Media</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/opini-2/" rel="tag">opini</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/orang-yang/" rel="tag">orang yang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/saief-alemdar/" rel="tag">Saief Alemdar</a></p>Ada orang mengatakan, “Berbohonglah, berbohonglah, dan berbohonglah, maka kebohongan itu akan jadi sebuah kebenaran.” Saya setuju dengan statement orang tersebut, kalau sebuah ide bohong terus saja diulang-ulangi, maka ide itu akan menjadi hal biasa dan seakan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran, tanpa ada keraguan dari mereka untuk me-recheck-nya. Sebut saja, kebohongan besar dalam Cerita [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/mabda-tasattur-dan-opini-umum/' title='Mabda' Tasattur dan Opini Umum'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ada orang mengatakan, “Berbohonglah, berbohonglah, dan berbohonglah, maka kebohongan itu akan jadi sebuah kebenaran.”</p>
<p>Saya setuju dengan statement orang tersebut, kalau sebuah ide bohong terus saja diulang-ulangi, maka ide itu akan menjadi hal biasa dan seakan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran, tanpa ada keraguan dari mereka untuk me-<i>recheck</i>-nya.</p>
<p>Sebut saja, kebohongan besar dalam <i>Cerita 1001 Malam</i>, dimana pembohong itu menggambarkan khalifah Harun Ar Rasyid sebagai seorang raja yang suka main perempuan, suka mabuk-mabukan dan sangat mudah dikibuli oleh tokoh fiktif jenaka dan kocak, Abu Nawas. Padahal, ulama-ulama yang hidup pada masa itu dan para pakar sejarah Islam sepakat mengatakan, “Harun Ar Rasyid adalah khalifah yang mendermakan hidupnya demi Islam dan umat Islam, setahun dia ibadah dan setahun berjihad.”</p>
<p>Atau kebohongan teori yang ditawarkan Charles Darwin tentang <i>The Origin of Species</i>, bahwa semua makhluk hidup itu ada dalam bentuk sangat sederhana dan terus berevolusi ke arah yang lebih sempurna, dari monyet menjadi manusia, kita manusia hari ini kapan berevolusi lagi? Kok, masih begini-begini saja?</p>
<p>Ini adalah efek dari opini umum, ternyata sebuah kebohongan dan kepalsuan bisa diubah menjadi sebuah kebenaran yang diterima (meskipun itu bukan kenyataan) oleh masyarakat apabila kita bisa mengemas kebohongan itu sedemikian rupa dan kita pasarkan di masyarakat, sehingga bisa menjadi opini umum. Ide yang bagus kalau punya <i>bargain</i> dan daya persuasif yang tinggi, sehingga keta-kata orang bijak tadi bisa direalisasikan, “Berbohonglah, berbohonglah, berbohonglah, maka kebohongan itu akan jadi kebenaran.”</p>
<p>Itu efek negatifyang tersebar lewat opini umum yang menyesatkan. Dan bisa dipastikan orang yang menyebarkan itu akan mendapatkan efek dari <i>sunnah sayyiah</i> atau <i>jariyah suu</i>’ yang ditanamnya itu, berupa dosa selama kebohongan itu masih dipakai. Sama halnya dengan orang yang menanam kebaikan, dia akan selalu menuai pahala selama kebaikan itu masih dipakai manusia. Jadi, berhati-hatilah dalam berbuat, apalagi perbuatan yang berhubungan dengan sesama manusia. Dia terlihat kecil, tapi efeknya besar.</p>
<p>Dalam Islam, ada sebuah prinsip mendasar yang diajarkan, yaitu <em>mabda’ tasattur</em>, prinsip menutupi hal-hal negatif. Prinsip ini adalah intisari dari sebuah hadits yang bermakna bahwa Allah tidak akan menyayangi dan sangat benci terhadap orang yang berbuat maksiat pada malam hari, dan Allah menutupinya, tetapi malah dia sendiri besok pagi yang membuka perbuatan itu kepada manusia.</p>
<p>Dalam hadits tersebut, si pelaku diancam dengan ancaman cukup berat, yaitu mendapatkan kebencian Allah dan dijauhkan dari kasih sayang Allah besok di akhirat. Kalau Allah sudah benci, tidak ada gunanya mendapatkan simpati dan kasih sayang penduduk bumi dari Nabi Adam sampai manusia terakhir sebelum kiamat! <em>Anta maqsudi wa ridhaka matlubi</em>… Engkaulah Tuhan tujuanku, dan ridha-Mulah yang ku mau….</p>
<p>Prinsip ini dimulai dari kejahatan pribadi, kemudian pakar hukum membakukannya menjadi sebuah prinsip dalam Islam,<i>mabda’ tasattur</i>, yaitu menutupi kejahatan dan nilai-nilai negatif dalam masyarakat agar tidak merusak opini umum, sehingga hal negatif yang terbentuk menjadi opini umum akan menjadi hal biasa yang tidak diingkari lagi, padahal hal negatif yang dianggap biasa itu adalah musuh social.</p>
<p>Islam sangat menjaga hal itu, sebut saja contohnya kenapa Islam sangat memberatkan hukuman bagi orang yang murtad dari agama Islam secara terang-terangan, hukumannya adalah <em>death penalty</em>. Karena, saat dia keluar dari Islam secara terang-terangan dan menodai kesucian agama, dia telah membuat sebuah opini baru, sehingga terkesan beragama itu adalah tindakan main-main. Lihatlah penodaan agama (apapun agamanya) di negeri kita sudah menjadi hal-hal biasa, bahkan kadang-kadang sesuatu yang sakral dalam agama cuma menjadi bahan olok-olokan.</p>
<p>Dalam hukum, menurut Imam Abu Hanifah, apabila seorang &#8220;Presiden&#8221; melakukan pelanggaran hudud, maka boleh eksekusinya tidak dilakukan di depan umum seperti halnya masyarakat lain. Kenapa? Karena wibawa presiden harus lebih dijaga, karena presiden itu berbeda dengan masyarakat biasa. Lihatlah presiden kita, semua orang memiliki kebebasan mengungkapkan “isi perutnya” terhadap presiden, mau buat karikatur silahkan, mau mengeluarkan cacian silahkan, semua bebas.</p>
<p>Ide penambahan materi baru di sekolah di Indonesia, materi “Anti Korupsi”. Ide bagus, bagus untuk mengajarkan anak-anak muda sejarah koruptor, trik-trik mereka korupsi, dan lahan-lahan subur untuk korupsi. Materi itu tidak lain hanya akan melahirkan koruptor-koruptor masa depan yang lebih handal. Karena mereka dikenalkan dengan korupsi dan tokoh-tokohnya. Itu adalah salah satu cara mengajarkan kejahatan di sekolah. Kalau mau mendidik generasi yang anti korupsi, jangan mengajarkan materi anti korupsi, tapi ajarkan mereka akhlak, tanamkan dalam diri mereka kejujuran, dan sifat amanah. Kalau anak-anak dicekoki dengan akhlak, amanah dan kejujuran, maka bukan saja korupsi yang teratasi, tapi juga kolusi, nepotisme, prostitusi, pengangguran dan ratusan tindak kriminal lain akan hilang.</p>
<p>Siaran televisi seperti gosip dan acara-acara tayangan tentang criminal lainnya juga salah satu perbuatan yang melanggar mabda’ tasattur. Lihat saja dalam acara <em>“Siluet”</em> misalnya, bagaimana mereka menceritakan kronologis pembunuhan, pemerkosaan dan perampokan, bukankah itu sebuah cara untuk mengajari yang nonton? Gosip perselingkuhan, perceraian, bukankah itu menyebarkan aib yang tidak seharusnya dibanggakan!</p>
<p>Oke, kita terima alasan, “Mengetahui kejahatan bukan untuk melakukannya, tapi agar kita bisa menghindari”, tapi apakah semua orang berpikiran bagitu? Ini hal kecil yang dianggap remeh, ternyata efeknya begitu besar. Kenapa kita selalu terpaku dengan sistem pengajaran denga cara negatif? Kenapa kita tidak berusaha membina generasi dengan nilai-nilai positif, bukankah nilai-nilai positif jauh lebih berguna dari pada hal-hal negatif?</p>
<p>Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan sekarang menjadi hal biasa di masyarakat, kenapa sampai pelakunya anak kecil atau korbannya anak kecil? Itu semua karena nilai-nilai negatif yang seharusnya ditutupi, malah dipamer. Sesuatu yang luar biasa, apabila terjadi setiap hari akan menjadi biasa, nggak ada istimewanya lagi. Akhirnya nyawa orang lain tidak berharga, kehormatan orang lain dengan mudahnya dinistai, dan hak milik orang seakan bisa dipakai suka hati.</p>
<p>Itu mungkin contoh untuk ranah yang luas, kita lihat saja ranah yang lebih sempit. <i>Update </i>status-status di Facebook. Banyak orang yang dengan bangganya menuliskan hal-hal yang seharusnya dirahasiakan, di <i>wall</i> dan status-status mereka. Bahkan kadang-kadang hal-hal yang seharusnya tidak boleh keluar “kamar”, hal-hal yang sangat tabu untuk diungkapkan di depan publik, ini malah ditulis di status Facebook.</p>
<p>Salah satu manusia yang terlaknat adalah suami atau istri yang menceritakan kejadian “dalam kamarnya” kepada orang lain. Berapa laknat yang dituai bila di-share hal-hal itu di facebook, ratusan atau bahkan ribuan orang yang membacanya. Isinya nggak terlalu vulgar-vulgar bangat, tetapi menjurus ke sana. Jangan katakan, “Salah yang baca, ngapain fiktor!”, tapi tulisan Anda yang sebodoh apapun orang bisa memahami kemana tujuan yang tersirat itu yang salah.</p>
<p>Sebenarnya, yang ditulis biasa saja, <i>just for fun</i>, nggak serius-serius banget, tetapi apakah ribuan orang yang baca di dunia maya itu memiliki pikiran yang positif semua? Foto-foto yang di-<i>upload</i> yang menurut pelakunya adalah biasa, tetapi bagi orang lain ada “ekornya” yang terus berlanjut tidak hanya sampai disitu saja.</p>
<p>Contoh kecil, waktu jalan-jalan di mall, ada perempuan cantik seksi lewat, Anda lihat, tapi kawanmu tidak melihat. Anda tepuk bahunya, Anda bilang, “Eh, ada perempuan cakep, Coy… Itu lewat!”</p>
<p>Bagi Anda cuma hal biasa, hanya sekedar bercanda melihat perempuan lewat, tapi apa Anda yakin kalau kawan Anda itu hanya sampai di situ? Anda tahu apa yang dibisikkan setan saat kawan Anda berpaling melihat perempuan tadi? Bagi Anda, setelah melihat semua sudah berakhir, Cuma sampai disitu saja, tetapi bagi kawanmu, belum tentu sampai disitu saja, mungkin ada kelanjutannya bersama setan yang menemaninya, entah apa yang terjadi. Itu hal kecil yang Anda lakukan, tetapi setiap dosa yang dihasilkan kawanmu setelah Anda menepuk pundaknya untuk melihat perempuan tadi, bisa dipastikan masuk dalam deposito dosa Anda.</p>
<p>Aurat wanita dalam Islam di depan laki-laki adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, tetapi sesama wanita muslimat lebih longgar, bisa dilegalkan bagian-bagian lain terlihat. Tetapi aurat wanita Muslimat di depan wanita non-Mmuslimat sama seperti auratnya di depan laki-laki.  Itu adalah tindakan preventif agar si wanita non Muslimah tidak bisa menggambarkan keadaan wanita Muslimah pada laki-laki non-Muslim. Bahkan, diharamkan seorang wanita menggambarkan tentang kecantikan wanita lain secara mendetail kepada suaminya. Mungkin bagi wanita itu, yang dilakukannya hal biasa, tapi apa dia bisa menjamin setan tidak membisiki apa-apa kepada suaminya?</p>
<p>Kata-kata, perbuatan, ataupun ide-ide kecil yang Anda kira sepele dalam pergaulan, bisa jadi berefek fatal bagi orang lain. Makanya Islam sangat menganjurkan bagi semua umat Islam agar menjaga hal-hal negatif sekecil apapun itu agar tidak tersebar dalam masyarakat, karena hal-hal kecil itu bisa saja merusak opini umum yang menyebabkan tersebarnya hal-hal negatif yang seharusnya tabu sebagai sebuah fenomena biasa. Aib, dan hal-hal negatifsilahkan ditutup selama masih bisa ditutup, dan aku kira selamanya bisa ditutup kalau mau. Inilah yang disebut dengan <i>“The Butterfly Effect: flap of a butterfly&#8217;s wing in Brazilia set off Tornado in Texas”</i>, Kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brazil bisa membuat Tornado di Texas.</p>
<p>Wallahu A’lam</p>
<p><b>Saief Alemdar, Lc</b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/mabda-tasattur-dan-opini-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri-ciri Khawarij dan Solusi Mengatasinya</title>
		<link>http://www.fimadani.com/ciri-ciri-khawarij-dan-solusi-mengatasinya/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/ciri-ciri-khawarij-dan-solusi-mengatasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 02:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqah]]></category>
		<category><![CDATA[ali bin abi thalib]]></category>
		<category><![CDATA[budi ashari]]></category>
		<category><![CDATA[ciri]]></category>
		<category><![CDATA[fundamental]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok radikal]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[radikal]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin abdul aziz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23677</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/firqah/" title="View all posts in Firqah" rel="category tag">Firqah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/ali-bin-abi-thalib/" rel="tag">ali bin abi thalib</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/budi-ashari/" rel="tag">budi ashari</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/ciri/" rel="tag">ciri</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/fundamental/" rel="tag">fundamental</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kelompok-radikal/" rel="tag">kelompok radikal</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/khawarij/" rel="tag">khawarij</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/radikal/" rel="tag">radikal</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/solusi/" rel="tag">solusi</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/teroris/" rel="tag">teroris</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/umar-bin/" rel="tag">umar bin</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/umar-bin-abdul-aziz/" rel="tag">umar bin abdul aziz</a></p>Sekelompok orang yang berpikir radikal. Mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain. Terlalu murah darah manusia bahkan Muslim untuk mereka tumpahkan. Keberadaan mereka akan melelahkan negara dan menakuti masyarakat. Hari ini, negara dan masyarakat tengah menghadapi masalah tersebut. pembahasannya sedang ramai di mana-mana. Sayang, beribu sayang. Komentar pengamat dan penyelesaian negara belum ada yang tepat sehingga [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/ciri-ciri-khawarij-dan-solusi-mengatasinya/' title='Ciri-ciri Khawarij dan Solusi Mengatasinya'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sekelompok orang yang berpikir radikal. Mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain. Terlalu murah darah manusia bahkan Muslim untuk mereka tumpahkan. Keberadaan mereka akan melelahkan negara dan menakuti masyarakat.</p>
<p>Hari ini, negara dan masyarakat tengah menghadapi masalah tersebut. pembahasannya sedang ramai di mana-mana. Sayang, beribu sayang. Komentar pengamat dan penyelesaian negara belum ada yang tepat sehingga tidak bisa mengatasi masalah. Bahkan mereka yang dianggap sebagai ulama, mengeluarkan pernyataan yang hanya menyulut masalah dan belum memberikan masukan berdasarkan kekuatan ilmu Islam. Sayang!</p>
<p>Tulisan ini akan menyampaikan catatan sejarah yang ditorehkan oleh generasi terbaik; para shahabat Nabi yang mengajari kita bagaimana mengatasi masalah kelompok radikal ini.</p>
<p>Tapi, sebelum uraian tulisan ini dimulai, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:</p>
<ul>
<li>Bacalah tulisan ini dengan utuh menjadi satu kesatuan</li>
<li>Jika dalam sejarah Islam, kelompok yang radikal ini disebut Khawarij. Penulis belum berani mengatakan bahwa kelompok radikal hari ini adalah Khawarij, mengingat penulis belum pernah tahu apa sebenarnya pemikiran asli mereka</li>
<li>Tulisan ini hanya menyikapi berbagai kasus yang bersumber dari pemikiran radikal. Bukan yang merupakan rekayasa, permainan politis dan sebagainya yang bukan merupakan pemikiran radikal sekelompok orang</li>
<li>Kalau solusi yang akan ditawarkan berasal dari pemerintahan shahabat, tentu penulis tidak sama sekali mengatakan bahwa pemerintahan ini sama atau bahkan mirip kehebatan dan kebaikannya dengan pemerintahan para shahabat. Tetapi dalam rangka belajar dari generasi terbaik yang telah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya</li>
</ul>
<h4>Beberapa Hadits Nabi tentang Khawarij</h4>
<p>Rasulullah telah menyampaikan ciri-ciri detail kelompok radikal ini, walaupun beliau tidak menyebutkan namanya. Berikut ini beberapa hadits Nabi yang menyampaikan tentang mereka:</p>
<p align="right">يأتى فى آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان سفهاء الأحلام يقولون من قول خير البرية يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لا يجاوز إيمانهم حناجرهم فأينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن فى قتلهم أجرا لمن قتلهم يوم القيامة</p>
<p>“<em>Akan datang di akhir zaman kelompok </em><em><b>muda usia, lemah pemikiran, menyampaikan perkataan makhluk terbaik</b></em><em>. Mereka melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokan. Di manapun kalian jumpai mereka, maka bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat</em>.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p align="right">يخرج فيكم قوم تحقرون صلاتكم مع صلاتهم وصيامكم مع صيامهم وعملكم مع عملهم&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>“<em>Akan muncul di antara kalian, kelompok yang kalian merasa rendah dengan shalat kalian jika dibandingkan shalat mereka, shiyam kalian dibanding shiyam mereka, amal kalian dibanding amal kalian&#8230;..</em>”  (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p>Masih ada beberapa hadits Nabi yang lain tentang mereka. Tetapi dari dua hadits ini setidaknya terbaca sebagian besar ciri-ciri kelompok ini:</p>
<ol start="1">
<li>Berusia muda</li>
<li>Acak dan pendek pemikiran mereka</li>
<li>Menyampaikan perkataan makhluk terbaik (menguasai hadits Nabi, juga Al Qur’an sebagaimana dalam hadits di bawah ini)</li>
<li>Ahli ibadah, sehingga kita merasa tidak ada apa-apanya jika membandingkan antara ibadah kita dengan ibadah mereka</li>
</ol>
<p>Mereka adalah kelompok yang mudah sekali menyalahkan siapapun, bahkan para ulama sekalipun. Sebagaimana peristiwa yang terjadi pada Rasulullah di dalam hadits berikut ini:</p>
<p align="right">أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قَسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ إِنْ لَمْ أَعْدِلْ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ أَضْرِبْ عُنُقَهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ</p>
<p><em>Abu Sa’id </em><em>Al </em><em>Khudri berkata: Ketika kita sedang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat beliau sedang membagi-bagi harta, datanglah Dzul Khuwaisiroh dia adalah seorang laki-laki berasal dari Bani Tamim. Orang itu berkata: </em><em>“</em><em>Ya Rasulullah,</em><em>berbuat </em><em> adillah!</em><em>”</em><em> </em><em></em></p>
<p><em>Rasulullah berkata: </em><em>“</em><em>Celakalah kamu, siapa yang bisa adil jika aku saja tidak bisa adil. Celaka dan rugilah aku jika tidak bisa adil.</em><em>”</em></p>
<p><em>Umar bin Khattab radhiallahu anhu berkata: </em><em>“</em><em>Ya Rasulullah </em><em>,</em><em>izinkan saya memenggal kepalanya</em><em>.”</em></p>
<p><em>Rasulullah berkata: </em><em>“</em><em>Biarkan</em><em>lah</em><em>. Dia ini mempunyai teman-teman yang seorang di antara kalian akan merasa rendah jika membandingkan shalatnya dengan shalat  mereka, shiyamnya dengan shiyam mereka, mereka membaca </em><em>Al </em><em>Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah mengenai buruan&#8230;</em><em>” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam hadits ini, Rasulullah menyebut bahwa <em>Dzul Khuwaisir</em><em>a</em><em>h</em> adalah cikal bakal kelompok radikal ini. Dan ternyata ada dua hal yang bisa diambil pelajaran di sini:</p>
<ol start="1">
<li>Rasulullah saja tidak selamat dari kekasaran mereka (di hadits ini dia mengucapkan kalimat yang kasar dan tidak layak buat Nabi)</li>
<li>Rasulullah tidak mengizinkan Umar yang ingin membunuhnya</li>
</ol>
<p>Adapun makna kalimat Nabi: keluar dari Islam seperti lepasnya anak panah, juga perintah memerangi dan membunuh mereka, jangan dulu disimpulkan sebelum tulisan ini selesai membahas tindakan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Karena beliau adalah khalifah yang mendapatkan cobaan kelompok radikal ini dan beliau adalah shahabat berilmu tinggi yang pasti lebih paham aplikasi hadits Nabi.</p>
<h4>Hanya Membunuhi Mereka Bukan Solusi!</h4>
<p>Kalau menangkap mereka bisa membuat jera. Dan membunuh mereka bisa menghabisi kelompok ini, mungkin bisa jadi solusi jitu untuk menghentikan penyebaran mereka. Tapi karena pemikiran radikal itu berasal dari keyakinan, penjara tidak akan pernah menghentikan mereka. Kematian tidak akan membuat mereka mundur, apalagi mereka yakin kematian tersebut kematian mulia.</p>
<p>Abdullah bin Umar telah mendengar Rasulullah menyampaikan tentang kelompok Khawarij ini:</p>
<p align="right">كلما خرج قرن قطع أكثر من عشرين مرة حتى يخرج في عراضهم الدجال .</p>
<p>“<em>Setiap hadir generasi baru, dipotong -(Nabi mengulangi berkali-kali kalimat ini lebih dari 20 kali)- hingga Dajjal keluar.</em>” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani)</p>
<p>Sabda Nabi ini semakin menguatkan kita bahwa memenjarakan dan membunuh mereka bukan solusi jitu. Karena mereka akan terus ada. Mereka tidak pernah habis. Setiap datang generasi baru, mereka dihabisi. Tetapi pada generasi berikutnya mereka muncul kembali. Kemudian dihabisi lagi. Muncul lagi. Dihabisi lagi. Muncul lagi&#8230;.dan seterusnya. Hingga Dajjal di akhir zaman nanti muncul.</p>
<p>Mari kita renungi kajian mendalam pakar sejarah Islam; DR. Ali Muhammad Ash Shalabi (Lihat<i>: Sirah Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib</i>, 2/346, MS). Setelah menyampaikan tiga poin kebijakan Pemerintahan Ali bin Abi Thalib terhadap Khawarij, berikut penjelasan Ash Shalabi:</p>
<p>“Amirul Mukminin Ali telah memberikan hak-hak mereka selama mereka tidak memerangi Khalifah dan menyerang muslimin dengan kewajiban mereka untuk tetap menjaga pemikiran mereka dalam kerangka aqidah Islam. Ali tidak mengeluarkan mereka di awal dari Islam. Tetapi dia memberikan hak berbeda pendapat yang tidak menyebabkan perpecahan dan mengangkat senjata.</p>
<p>Amirul Mukminin tidak menangkapi Khawarij untuk dijebloskan ke dalam penjara. Tidak mengawasi mereka dengan intelijen. Tidak membatasi kebebasan mereka. Tetapi dia radhiallahu anhu sangat antusias untuk menjelaskan hujjah dan menampakkan kebenaran kepada mereka dan kepada siapapun yang terpedaya oleh pemikiran dan penampilan mereka.”</p>
<p>Subhanallah, begitulah jika sebuah masalah dianalisa oleh ahlinya. Kekuatan dan kedalaman analisa bersumber dari kekokohan dan kejernihan ilmu.</p>
<p>Khalifah Umar bin Abdul Aziz suatu hari mendapatkan surat dari pemimpin Kota Mausil yang meminta izin untuk menggunakan kekerasan dalam menghentikan penyebaran kelompok radikal.</p>
<p>Umar bin Abdul Aziz menjawab:</p>
<p>“Jika mereka ingin berjalan di negeri manapun asalkan tidak menyakiti umat, silakan mereka pergi kemanapun mereka mau. Tetapi jika mereka menyakiti seorang muslimin atau masyarakat lainnya, maka adukan kepada Allah.”</p>
<p>Dari kalimat-kalimat di atas, jelas bahwa menangkapi, memenjarakan, membunuhi bukanlah jalan pertama dan utama.</p>
<p>Sesungguhnya pemikiran Umar bin Abdul Aziz untuk mengatasi kelompok radikal telah disampaikannya kepada khalifah sebelumnya.</p>
<p>Seorang Khawarij masuk ke majlis Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Sang khalifah sedang bersama para pembesar Syam, di antara mereka ada Umar bin Abdul Aziz.</p>
<p>Al Walid bertanya kepada orang khawarij: Apa pendapatmu tentang aku?</p>
<p>Orang Khawarij: Orang dzalim pendosa, diktator</p>
<p>Al Walid: Apa pendapatmu tentang Abdul Malik?</p>
<p>Orang Khawarij: Diktator</p>
<p>Al Walid: Apa pendapatmu tentang Muawiyah?</p>
<p>Orang Khawarij: Zhalim</p>
<p>Al Walid berkata kepada salah satu stafnya Ibnu Rayyan: Penggal kepalanya!</p>
<p>Orang itu pun mati. Dan majlis bubar.</p>
<p>Al Walid meminta agar Umar bin Abdul Aziz dihadirkan kembali.</p>
<p>Al Walid bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz: Hai Abu Hafsh, apakah tindakanku benar atau salah?</p>
<p>Umar: Anda tidak benar ketika membunuh orang itu. Kalau saja Anda putuskan yang lain, maka lebih tepat dan benar. Yaitu: penjarakan dia hingga dia kembali ke jalan Allah atau dia menemui ajalnya.</p>
<p>Al Walid: Dia telah menghina saya, menghina Abdul Malik, dia juga seorang khawarij, apakah kamu setuju dengan hal itu?</p>
<p>Umar:  Saya tidak setuju. Kalau saja Anda penjara dulu, kemudian lihatlah permasalahannya. Anda bisa menghukumnya atau Anda maafkan dia.</p>
<p>Al Walid marah kepada Umar bin Abdul Aziz. (<i>Sirah Umar ibn Abdil Aziz</i> 1/120-121, MS)</p>
<p>Dan terbukti, Al Walid tidak mampu mengatasi kelompok radikal Khawarij. Sementara saat Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah dia menjalankan konsepnya menghadapi kelompok radikal. Dan terbukti berhasil.</p>
<h4><b>Dengan Keadilan dan Kebenaran, Mereka Berhenti</b></h4>
<p>Di zaman Khalifah adil; Umar bin Abdul Aziz (99 H – 101 H) kelompok radikal ini pun menyebar di beberapa kota. Seperti biasanya, mereka mempunyai pemikiran dan sikap yang meneror masyarakat dan negara.</p>
<p>Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mampu menyelesaikan seluruh permasalah negeri hanya dalam dua tahun setengah saja. Sikapnya menghadapi kelompok radikal harus menjadi pelajaran berharga bagi kita. Berikut sikapnya:</p>
<p>Suatu saat gubernur Khurasan mengirim surat kepada Khalifah untuk meminta izin membasmi kelompok radikal di kota tersebut dengan jalan cepat yaitu menghabisi mereka:</p>
<p>“Mereka ini tidak bisa diperbaiki kecuali dengan pedang dan cambuk!”</p>
<p>Dan inilah jawaban Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menjadi landasan bagi zaman  manapun yang tidak ingin kelompok radikal ini muncul membesar:</p>
<p>“Kamu salah, mereka bisa diperbaiki dengan keadilan dan kebenaran. Maka lapangkan itu untuk mereka. Dan ketahuilah Allah tidak memperbaiki amalnya orang-orang yang merusak.”</p>
<p>Hasil konsep pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ini sangat jitu. Ketika sang pemimpin tertinggi negara tersebut menegakkan keadilan dengan cara mengembalikan semua kedzaliman yang pernah dilakukan oleh negara dan para pejabat kepada masyarakat yang pernah didzalimi, kelompok radikal tersebut berkumpul dan memutuskan: “Kita tidak boleh memerangi orang ini.”</p>
<p>Karena memang sejarah kemunculan kelompok radikal ini dipicu di antaranya oleh parade kekecewaan terhadap dunia Islam. Kelompok Khawarij ini baru muncul besar di zaman Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Kematian Umar bin Khattab, pemimpin adil di tangan seorang majusi. Fitnah di enam tahun kedua pemerintahan Utsman bin Affan. Kematian Utsman di tangan para pemberontak fasik. Peperangan antara Ali dan Aisyah di Perang Jamal. Dan puncaknya adalah peperangan Ali dan Muawiyah di Perang Shiffin.</p>
<p>Akumulasi kekecewaan, menjadi penyebab munculnya sekelompok anak muda yang berpikiran radikal.</p>
<h4><b>Lebih Berat Zaman Ali Dibanding Hari Ini</b></h4>
<p>Sebenarnya, ketika kita bandingkan kelompok radikal ini sekarang dengan zaman kekhilafahan Ali bin Thalib, masih jauh lebih berat zaman Ali.</p>
<p>Jumlah mereka saat memisahkan diri dari negara yang dipimpin oleh Ali sepulang dari Shiffin ke Kufah, belasan ribu orang. Kemudian mereka membuat <i>tandzim</i> (struktur) jamaah mereka, hingga mereka menentukan pemimpin dan menjaga kerahasiaan.</p>
<p>Hingga mereka nantinya menguasai sebuah wilayah dengan terbuka dan bersenjata perang.</p>
<p>Sekarang ini di negara ini, entah berapa jumlah mereka. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk masa itu, jelas jumlah mereka di zaman Ali sangat membebani negara. Mereka pun telah berhasil mengusai sebuah wilayah dengan terbuka bersenjata perang. Sekarang, belum ada satupun wilayah yang berhasil mereka kuasai dengan terbuka.</p>
<p>Jadi, kalau kita mau belajar kepada generasi terbaik itu, masalah ini akan selesai dengan baik.</p>
<h4><b>Langkah-Langkah Ali bin Abi Thalib dalam Mengatasi Mereka</b></h4>
<p>Sampai mereka membuat struktur dan menjaga kerahasiaan antar mereka, Ali belum bertindak secara militer. Berikut ini urutan yang dilakukan oleh Kekhilafahan Ali bin Abi Thalib:</p>
<ol start="1">
<li>Mengirim Abdullah bin Abbas untuk berdialog dengan mereka</li>
<li>Ali berdialog langsung dengan mereka</li>
<li>Ali mengeluarkan secara resmi tiga kebijakan negara terhadap mereka</li>
<li>Perang Nahrawan</li>
</ol>
<p>Mari kita urai satu per satu.</p>
<p><b>Mengirim Abdullah bin Abbas untuk berdialog dengan mereka.</b></p>
<p>Sejarah menyebutkan detail dialog tersebut. Dari enam ribu Khawarij yang hadir, dua ribu di antara mereka taubat dan kembali ke jalan yang benar.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib membangun kesabaran berlapis-lapis dengan semangat bisa mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Terbukti dalam satu majlis ini saja, sepertiga dari majlis taubat.</p>
<p>Tetapi yang harus dikirim adalah orang seperti Abdullah bin Abbas, bukan yang lain. Abdullah bin Abbas adalah seorang sangat pakar dalam keilmuwan Al Qur’an. Hal ini harus dilakukan oleh negara, karena mereka tidak mau mendengar kecuali hanya Al Qur’an dan hadits Nabi. Di samping itu, Abdullah bin Abbas sangat piawai dalam menguasai forum debat. Mereka tidak berkutik sama sekali dalam forum tersebut dengan ilmu Abdullah bin Abbas.</p>
<p>Yang juga sangat penting dari seorang Abdullah bin Abbas sebagaimana yang diungkapkannya sendiri di hadapan Khalifah Ali adalah: saya orang yang berakhlak baik dan tidak pernah menyakiti siapapun.</p>
<p>Jadi, yang harus diutus negara adalah mereka yang berilmu dan dikenal berakhlak baik tidak pernah punya masalah dengan siapapun termasuk dengan khawarij.</p>
<p><b>Ali berdialog langsung dengan mereka</b></p>
<p>Sejarah pun menyebutkan dengan detail suasana dialog dan tema dialognya. Pemimpin tertinggi itu, mau turun langsung dan tidak ada perasaan bahwa negara direndahkan dan menguatkan eksistensi mereka. Karena Ali begitu bersemangat untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar.</p>
<p>Tetapi yang perlu dilihat bukan hanya Ali sebagai pemimpin. Tetapi Ali adalah pemimpin negara yang adil dan berilmu Islam sangat tinggi. Jika seperti ini keadaan pemimpin negara, maka layak baginya untuk berdialog.</p>
<p>Itupun tidak menyadarkan mereka. Hasilnya, tidak disebutkan dalam riwayat ada yang sadar seperti dialog dengan Abdullah bin Abbas, tetapi mereka pergi dengan resmi memisahkan diri dari negara.</p>
<p>Setelah ini, mereka dengan rahasia akan bergerak ke sebuah tempat yang mereka kuasai lengkap dengan senjata perang. Yaitu Nahrawan.</p>
<p><b>Ali mengeluarkan secara resmi tiga kebijakan negara terhadap mereka</b></p>
<p>Kebijakan itu disampaikan Ali saat beliau hendak memulai dialog dengan mereka. Berikut ini kebijakan kekhilafahan yang langsung diumumkan oleh sang khalifah di masjid Kufah saat khutbah Jum’at:</p>
<ol start="1">
<li>Kami tidak melarang kalian shalat di masjid ini.</li>
<li>Kami tidak akan menghalangi kalian untuk mendapatkan jatah harta rampasan perang selama kekuatan kalian bersama kekuatan kami</li>
<li>Kami tidak akan memerangi kalian sampai kalian memerangi kami</li>
</ol>
<p>Begitu lembutnya, kekhilafahan ketika itu menyikapi mereka. Ali bukan tidak tahu suasana. Beliau sangat menguasai suasana negara. Bahkan kalimat Ali jelas kepada Abdullah bin Abbas: (Mereka pasti akan memerangi saya).</p>
<p>Tapi selama penyerangan terhadap negara terbatas dalam rencana, Ali belum bertindak secara militer. Ali menunggu mereka hingga benar-benar berani angkat senjata melawan negara.</p>
<p><b>Perang Nahrawan</b></p>
<p>Akhirnya, perang itupun harus terjadi. Orang-orang Khawarij benar-benar telah melampaui batas. Mereka mengganggu masyarakat yang hidup nyaman. Mereka merampas harta, menumpahkan darah, menguasai wilayah dengan senjata perang bahkan telah berani membunuh anak seorang shahabat.</p>
<p>Tapi lihatlah apa yang dilakukan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sampai masalah seperti inipun Ali belum melakukan tindakan militer. Ali hanya mengirimkan surat kepada pemimpin mereka agar menyerahkan para pembunuh dan pembuat onar. Agar negara memberikan hukuman yang setimpal hanya kepada para pelakunya saja.</p>
<p>Ternyata balasan surat mereka kepada negara: &#8220;Kita semua adalah pembunuhnya.&#8221;</p>
<p>Dari surat ini, jelas mereka menantang negara. Saat sudah seperti ini, barulah Ali membawa pasukan ke arah mereka berkumpul, di wilayah Nahrawan. Pasukan yang semula akan dibawa oleh Ali ke Syam, dibelokkan ke Nahrawan.</p>
<p>Kini pasukan telah berhadapan. Kedua pasukan dipisahkan oleh sungai Nahrawan. Kembali, lihatlah apa yang dilakukan sang panglima hebat; Ali bin Abi Thalib:</p>
<ol start="1">
<li>Ali mengumumkan kepada pasukannya agar tidak ada yang menyerang mereka sampai mereka yang menyeberangi sungai, yang menandakan tekad mereka untuk terus perang.</li>
<li>Ali mengirimkan shahabat mulai Al Barra bin ‘Azib selama tiga hari untuk masuk ke mereka mengajak bertaubat ke jalan yang benar. Tidak hanya Al Barra, ali terus mengirimkan bertahap utusan-utusannya untuk mengajak mereka kembali. Ternyata mereka semua menolak dan tetap bertekad untuk perang.</li>
<li>Ali meminta Abu Ayyub Al Anshari untuk menancapkan bendera aman dan mengumumkan: Siapa yang berkumpul di bawah bendera ini, dia aman. Dan siapa yang lari ke Kufah dan Madain, dia aman. Kami tidak punya kepentingan kecuali hanya dengan pembunuh saudara-saudara kami.</li>
</ol>
<p>Betapa sabarnya Ali, karena berharap masalah selesai dengan sangat baik. Dan mereka mau kembali ke jalan yang benar.</p>
<p>Hasilnya: Empat ribu orang lari dari kelompok Khawarij. Yang tersisa dari mereka hanya seribu orang atau kurang.</p>
<p>Peperangan selesai dengan matinya hampir seluruh pasukan Khawarij. Hanya tersisa sekitar 10 orang saja yang lari dari medan perang. Dari pihak Ali jatuh 12 atau 13 korban saja.</p>
<p>Setelah selesai perang Ali tetap memperlakukan mereka sebagai kelompok muslim yang dzalim. Sehingga Ali tidak mengejar yang lari dari medan perang, juga tidak menawan yang tertangkap dan tidak mengambil <i>ghanimah</i> (harta rampasan perang).</p>
<p>Karena yang dilakukan Ali adalah memerangi kelompok yang melawan negara dengan cara <i>dzalim</i>. Hanya kedzalimannya yang diperangi. Sebagaimana yang disampaikan dalam konsep politik syariat (lihat contohnya dalam Al Mawardi: <i>Al Ahkam As Sulthaniyyah</i>), mereka diperangi saat datang untuk menyerang, tidak dikejar dan tidak ditangkap saat lari.</p>
<p>Sebuah kepemimpinan dengan kestabilan ilmu dan emosi. <i>Radhiallahu anka</i> ya Ali&#8230;</p>
<h4><b>Landasan Utama Semua Kebijakan Ali tentang Khawarij</b></h4>
<p>Mengapa Ali terlihat begitu sabar. Tidak terbawa emosi bahkan mereka sering menyampaikan kalimat yang menyulut kemarahan dan ketersinggungan serta bertindak di luar batas kewajaran. Dengan tetap sabar selalu mencari celah sekecil apapun untuk mengembalikan mereka kepada pemikiran yang benar.</p>
<p>Semua ini dilakukan Ali karena beliau meyakini bahwa mereka masih muslim. Sebagaimana dalam dialog Ali dengan seseorang berikut ini:</p>
<p>Seseorang bertanya tentang Khawarij yang memerangi Ali di Perang Nahrawan:<i> Apakah mereka musyrikin</i>?</p>
<p>Ali: <i>Mereka lari dari kemusyrikan</i>.</p>
<p>Seseorang: <i>Apakah mereka munafik</i>?</p>
<p>Ali: <i>Orang munafik hanya sedikit berdzikir kepada Allah</i></p>
<p>Seseorang: <i>Kalau begitu siapa mereka</i>?</p>
<p>Ali: <i>Saudara kita yang dzalim terhadap kita. Kita perangi mereka karena kedzaliman mereka terhadap kita. </i> (Lihat <i>Al Bidayah wan Nihayah</i>, Ibnu Katsir 7/321, MS)</p>
<p>Pantas, jika Ali sangat berhati-hati dalam bertindak tentang mereka jika sudah harus menumpahkan darah. Karena ternyata Ali menganggap mereka sebagai Saudara kita yang dzalim terhadap kita.</p>
<p>Prof. DR. Isham Basyir menyampaikan bahwa seluruh shahabat Nabi tidak ada yang mengkafirkan Khawarij. Dan ini pendapat <i>jumhur</i> (kebanyakan) ulama.</p>
<p>Inilah mengapa generasi shahabat disebut sebagai generasi terbaik. Mereka memimpin bumi dengan cara menegakkan aturan kenabian. Aturan yang mampu menyelimuti bumi dengan keadilan dan kedamaian.</p>
<p>Mengapa kita tidak belajar dari mereka? Sebelum semuanya terlambat&#8230;</p>
<p><i>Fa’tabiru ya ulil abshar</i></p>
<p><b>Budi Ashari, Lc &#8211; </b><b><i>Begini Seharusnya: Menghadapi Kelompok Radikal</i></b><b></b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/ciri-ciri-khawarij-dan-solusi-mengatasinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Invisible Hand</title>
		<link>http://www.fimadani.com/invisible-hand/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/invisible-hand/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 14:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Rifa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[invisible hand]]></category>
		<category><![CDATA[kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[pasien]]></category>
		<category><![CDATA[pasien itu]]></category>
		<category><![CDATA[pasien yang]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23369</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/konsultasi/kesehatan/" title="View all posts in Kesehatan" rel="category tag">Kesehatan</a>, <a href="http://www.fimadani.com/articles/jendela/oase/" title="View all posts in Oase" rel="category tag">Oase</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/invisible-hand/" rel="tag">invisible hand</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kandungan/" rel="tag">kandungan</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/kesehatan-2/" rel="tag">kesehatan</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/melahirkan/" rel="tag">melahirkan</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/oase/" rel="tag">Oase</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/pasien/" rel="tag">pasien</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/pasien-itu/" rel="tag">pasien itu</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/pasien-yang/" rel="tag">pasien yang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/rumah-sakit/" rel="tag">rumah sakit</a></p>Kata orang, menjadi dokter adalah pekerjaan mulia. Kata orang, menjadi dokter itu harus menyediakan ekstra kesabaran dan empati untuk pasien. Kata orang, menjadi dokter itu berat, sekolahnya lama dan susah, profesi tak kenal jam kerja. Menurutku, menjadi dokter itu sekedar membentangkan batas kemampuan manusia, kemudian menunduk mengakui kehebatan Sang Pencipta. Aku masih ingat jawaban naifku dulu bila orang [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/invisible-hand/' title='Invisible Hand'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kata orang, menjadi dokter adalah pekerjaan mulia. Kata orang, menjadi dokter itu harus menyediakan ekstra kesabaran dan empati untuk pasien. Kata orang, menjadi dokter itu berat, sekolahnya lama dan susah, profesi tak kenal jam kerja. Menurutku, menjadi dokter itu sekedar membentangkan batas kemampuan manusia, kemudian menunduk mengakui kehebatan Sang Pencipta.</p>
<p>Aku masih ingat jawaban naifku dulu bila orang bertanya mengapa aku memilih obstetri dan ginekologi ketika aku berkesempatan melanjutkan pendidikan spesialis. Jawaban yang tetap sama sejak aku duduk di sekolah menengah, mungkin juga jawaban banyak dokter perempuan yang berada di posisiku. Perempuan tentu lebih nyaman bila diperiksa oleh dokter kandungan perempuan, dan menolong persalinan bayi untuk lahir ke muka bumi adalah pekerjaan paling menakjubkan. Terdengar seperti satu profesi yang selalu penuh cerita bahagia bukan? Walaupun sekarang aku tahu bahwa jawaban itu hanya mendeskripsikan secuil kehidupan seorang dokter obstetri dan ginekologi, namun aku tak pernah menyesal memilih bidang ini. Walau tak semua kisah di sini berakhir bahagia (dalam ukuran manusia), setidaknya semua itu (kuharap) membuatku semakin dewasa. Dan yang lebih penting lagi, aku selalu diberi kesempatan untuk merasa bodoh dan tak berdaya dibanding kuasa Sang Pemilik jagat raya.</p>
<p>Beberapa dasawarsa terakhir ini, dunia ilmu pengetahuan, dalam hal ini dunia kedokteran dan cabang lain yang mendukungnya begitu dihebohkan dengan berbagai penemuan dan pemahaman baru yang diyakini akan banyak mengubah konsep dan doktrin kolot sebelumnya. Sebut saja seperti pemahaman tentang sel punca (<em>stem cell</em>) yang dulunya diyakini bahwa hanya sel-sel tertentu saja yang memiliki sifat pluripoten, namun belakangan dibantah dan dibuktikan bahwa sel-sel matur pun ternyata memiliki potensi untuk berdiferensiasi menuju sel lainnya.</p>
<p>Sebagai seorang klinisi (orang yang berusaha menerjemahkan berbagai jurnal ilmiah dengan rentetan terminologi statistik dan biologi <em>njelimet</em> untuk kemudian menerapkannya pada seorang pasien) maka aku lebih banyak menanti manfaat berbagai <em>high tech research</em> miliaran dollar itu agar pasienku bisa hidup, atau menikmati kualitas hidup yang layak. Kalau boleh meminta jalan pintas, aku sebagai klinisi lebih suka <em>guidelines </em>dan <em>standar operating procedure</em> (SOP) ketika menangani pasien dibanding disodori setumpuk jurnal ilmiah yang membahas detail patofisiologi biomelokular, karena begitu selesai membaca jurnal itu, hanya membuatku tambah pening dan tindakan apa yang harus kulakukan terhadap pasienku pun tak kudapatkan jawabannya.</p>
<p>Itulah manusia, terbatas sekali kemampuannya. Bahkan untuk urusan kondisi dan penyakit di dalam tubuhnya sendiri pun, mesti berbagi tugas dengan banyak orang. Ada yang bertugas mempelajari dan memahami semua proses di tingkat biomolekular dan selular, baik di laboratorium maupun in vitro. Ada yang bertugas menerjemahkan hasil riset mereka agar berguna bagi para klinisi (yang konon kabarnya sering tertidur saat kuliah subjek-subjek tersebut di masa pendidikannya). Dan tentu ada klinisi, ujung tombak yang ditemui para pasien yang menderita penyakit agar mendapatkan terapi sesuai dengan perkembangan ilmu terkini. Klinisi pun harus berbagi tugas karena ternyata tubuh manusia itu terlalu besar (mungkin terlalu kompleks tepatnya), ada spesialis mata, telinga hidung tenggorokan, penyakit dalam, kulit kelamin, obstetri dan ginekologi, dan seterusnya dan seterusnya.</p>
<p>Fakta menarik yang kucermati dari kaca mata klinisi sepertiku, walaupun umat manusia mengklaim bahwa sekarang ilmu kedokteran begitu maju (dan bahwa setiap tahunnya ada orang menerima hadiah Nobel untuk bidang kedokteran), kata <strong>idiopatik</strong> masih banyak ditemui di berbagai literatur kedokteran.</p>
<p>Menurut asalnya, kata idiopatik ini berasal dari bahasa Yunani yang kurang lebih terjemahan harfiahnya adalah kondisi atau penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. Beberapa orang menjadikan kata ini sebagai pelesetan; idiotpatik, dengan maksud dokternyalah yang idiot sehingga tidak dapat menjelaskan kepada pasien mengenai penyebab kondisi atau penyakitnya. Well, idiot atau tidak, begitulah kenyataannya, tidak semua bisa dijelaskan.</p>
<p>Pagi itu ada sesuatu yang berbeda untukku dan tim stase IGD (Instalasi Gawat Darurat). Kami berkesempatan untuk menikmati sarapan bersama di meja makan karena <em>loading</em> pasien tidak begitu banyak dan semua nampak aman. Untuk kami yang memulai hari pukul 4 pagi, dan tidak keluar sebelum matahari tenggelam di malam harinya, maka menikmati kursi dan bubur ayam hangat adalah &#8220;sesuatu bangeeettt&#8230;&#8221;.</p>
<p>Walaupun suasana terkesan aman terkendali, namun level waspada dan <em>alertness</em> harus tetap tinggi karena ini adalah IGD, dan pasien-pasien yang datang kemari adalah mereka yang berisiko tinggi. Karenanya, setelah menandaskan bubur ayamku, segera aku memulai &#8220;patroli&#8221; dan mengawasi junior-juniorku menatalaksana pasien-pasien yang ada. &#8220;Mbak, ada pasien baru di depan..!&#8221; seru seorang juniorku yang bertugas menerima pasien-pasien baru.</p>
<p>Saat aku memasuki ruang periksa akut (tempat memeriksa pasien baru di IGD), ada pemandangan tak lazim yang sedang terjadi. Seorang perempuan paruh baya berseragam serba putih mendampingi seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun dengan perut jelas membuncit yang menangis terisak-isak. Umumnya, bila perempuan hamil akan melahirkan merasakan nyeri mules, maka dia akan menangis menjerit-jerit atau melolong, bukan terisak-isak. Tanpa diminta, perempuan paruh baya yang ternyata seorang bidan dari Puskesmas setempat menjelaskan pemandangan itu, &#8220;Dok, kasus IUFD ini&#8230;&#8221; katanya dengan suara lirih sambil menyerahkan buku periksa hamil pasien itu. IUFD (<em>intra uterine fetal death</em>) atau kematian janin di dalam rahim cukup menjadi penjelasan buatku mengapa pasien itu menangis terisak-isak, apalagi ini adalah kehamilan pertamanya.</p>
<p>Setelah memastikan bahwa kondisi pasien stabil dan tidak ada keadaan yang mengancam nyawa, maka barulah aku mewawancarai Bidan dan pasien tersebut. Menurut mereka, perjalanan kehamilan selama ini lancar dan tidak ada penyulit. Hanya saja, si pasien tidak ingat tepatnya kapan dia mendapat haid terakhir sebelum hamil. Dia juga tidak melakukan pemeriksaan USG di masa-masa awal kehamilannya untuk menentukan secara akurat usia kehamilannya karena alasan biaya. Bidan tersebut menambahkan, &#8220;mestinya sih sekarang sudah cukup bulan Dok, taksiran klinis saya beratnya sekitar 3,5 kiloan..&#8221;</p>
<p>Hasil pemeriksaanku dengan USG membuktikan memang tidak ada aktivitas jantung janin yang terekam. Namun selain itu, semua terkesan normal. Plasenta baik, air ketubannya cukup, tak tampak ada kelainan struktur anatomi, dan taksiran beratnya sekitar 3700 gram dan memang sesuai untuk kehamilan cukup bulan (meskipun tidak dapat mengeksklusi apakah ini suatu kehamilan lewat bulan). Sayangnya, selain data tekanan darah yang normal dari 5x pemeriksaan kehamilan sebelumnya, pasien itu tak memiliki data-data lainnya untuk dieksplorasi sebagai penyebab kematian mendadak si janin yang menurut pasien malam sebelumnya masih terasa bergerak dan menendang.</p>
<p>Ketika si suami pasien datang, dengan berempati mendalam aku jelaskan kondisi kehamilan si istri, bahwa saat ini janinnya sudah meninggal di dalam rahim dan sebaiknya segera dilahirkan. Tangis dan isakan pasien itu semakin keras dan suaminya pun tak berdaya menenangkannya. Akhirnya, aku memberi isyarat untuk mengajak si suami keluar ruangan, dan meminta ibu pasien menemani dan menenangkannya di dalam (dari pengalamanku, umumnya cara itu lebih ampuh untuk menenangkan seorang perempuan).</p>
<p>Begitu menutup pintu, keluarlah pertanyaan yang dari tadi kunanti-nanti dari mulut si suami, &#8220;Kok bisa mendadak meninggal di dalam rahim, Dok? Istri saya sehat-sehat saja, juga rajin periksa hamil. Kata bu Bidan juga semua normal-normal saja. Kan aneh Dok, tiba-tiba gitu aja meninggal..?!&#8221;. Hati kecilku spontan menjawab, &#8220;Wah, sama Pak pertanyaannya sama saya, saya juga bingung&#8230;&#8221;. Namun untunglah otakku masih bisa mengendalikan mulutku untuk kemudian menjawab dan menjelaskan berbagai kondisi yang memungkinkan terjadinya <em>sudden</em> IUFD, seperti kehamilan lewat waktu, diabetes gestasional, kelainan imunologi, dan masih banyak lagi. Tapi semua sekedar kemungkinan, karena toh tidak ada data yang menunjang, dan untuk mengumpulkan semua data itu tentu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bila memungkinkan, maka autopsi pada jenasah bayinya setelah dilahirkan akan bisa juga memberi petunjuk penyebab kematiannya, namun tentu tidak ada orang tua di Indonesia yang mengijinkan jenazah bayinya diautopsi.</p>
<p>Di beberapa negara, pemeriksaan autopsi pada kasus seperti ini bisa dilakukan walaupun keluarga tidak menyetujui. Walaupun terkesan tidak manusiawi, namun pelajaran yang diambil bisa menambah pengetahuan dan pemahaman kemudian. <em>Anyway</em>, untunglah si suami tidak mengenal kata<em> idiotpatik</em>, karena toh akhirnya dia cukup puas dengan &#8220;kuliah&#8221;ku walaupun aku tidak menyimpulkan dan menjawab pertanyaannya secara eksplisit.</p>
<p>&#8220;Bisa kejadian lagi ga Dok, kalo misalnya nanti istri saya hamil lagi..?&#8221; terusnya. Sebenarnya hatiku ingin menjawab, &#8220;Kalo ditanya bisa ato enggak, ya jawabannya bisa-bisa aja&#8230; Lha sekarang penyebabnya pun tak diketahui. Lagian saya ini Dokter, bukan peramal atau Tuhan&#8230;&#8221;. Untunglah otak profesionalku sebagai dokter mengintruksikan mulutku menjawab dengan penuh empati, &#8220;Menurut kepustakaan sih Pak, kemungkinan kejadian seperti ini berulang sekitar 0,5 persen, kecil namun tetap ada kemungkinan. Nanti kalau ibu hamil lagi, sebaiknya kontrol dengan dokter kandungan di rumah sakit ya Pak. Supaya fasilitasnya lebih lengkap untuk memantau dan melakukan berbagai pemeriksaan dan kejadian ini bisa sedapat mungkin dihindari&#8230;&#8221;. Si suami manggut-manggut mendengar penjelasanku. Bahkan bila semua protokol <em>screening</em> pemeriksaan kehamilan dan manajemen kehamilan terpadu dikerjakan seperti di berbagai negara maju pun, kejadian <em>unexplained</em>  IUFD ini tetap sebesar 1 persen. <em>At least</em>, aku bukan satu-satunya dokter bodoh di dunia.</p>
<p>Seni menjelaskan suatu kondisi kepada pasien dan keluarganya memang ilmu tersulit dalam dunia kedokteran. Bayangkan, berbagai pengetahuan dan ilmu yang oleh seorang dokter harus ditimba bertahun-tahun (kebanyakan dalam bahasa Latin pula), harus bisa disarikan dan dijelaskan kepada seorang pasien dan/keluarganya dalam 10 menit dengan bahasa awam yang mudah dimengerti.</p>
<p>Tak heran, banyak yang beranggapan bahwa parameter kesuksesan seorang dokter bukan terletak pada keahliannya menegakkan diagnosis, terapi sesuai, atau skill operasinya. Tapi justru terletak pada kemampuannya berkomunikasi dengan para pasiennya. Betapa tidak, berdasarkan kenyataan yang ada, rahasia ilmu kedokteran itu baru secuil yang  bisa dibongkar. Artinya, kebanyakan jawaban dari pertanyaan manusia tentu adalah &#8220;belum diketahui sampai saat ini&#8221;, atau &#8220;masih sedang dalam penelitian&#8221;, atau ya &#8220;idiopatik&#8221; sebagai kalimat penghalus dari &#8220;saya tidak tahu&#8221;. Bayangkan, betapa merasa ruginya seorang pasien bila berobat pada seorang dokter yang bila ditanya kemudian menjawab dengan entengnya &#8220;saya tidak tahu&#8221;. Terutama di Indonesia, kurasa itu adalah jawaban yang <em>unacceptable</em>.</p>
<p>Seperti kasus yang kutemui kali ini di sebuah rumah sakit jejaring pendidikanku kategori rural hospital. Mungkin ini satu-satunya rumah sakit negeri di kota atau provinsi ini, sehingga setiap detiknya, limpahan pasien tak ubahnya seperti air bah. Karena rumah sakit negeri, maka di sini tidak ada pasien yang ditolak karena tidak mempunyai uang atau karena bed ruang rawat dan kamar bersalin penuh. Bed penuh bukan masalah, para pasien yang datang dari berbagai penjuru itu tak keberatan tidur di atas <em>folding bed</em> seperti di tenda tentara. Bila <em>folding bed</em> pun sudah penuh terisi, maka tikar menjadi alternatif terakhir.  Suasana di kamar bersalin kurasa mirip seperti kamp pengungsi tsunami dengan tak kurang dari 50 ibu hamil atau pasca persalinan menjadi penghuninya. Bedanya adalah, mungkin setiap beberapa menit akan terdengar tangisan bayi baru lahir ditingkahi jerit kesakitan karena mules atau seruan-seruan panik para petugas medis yang kelelahan karena pekerjaan yang tiada akhirnya.</p>
<p>Bertugas di rumah sakit ini selalu menyisakan kesan istimewa tersendiri. <em>Loading </em>pasien yang terkadang (selalu sih sebenarnya) di luar akal, justru marangsang produksi adrenalin tetap tinggi dan jantung berdegup kencang. Sudah menjadi permakluman di antara kami residen obgyn, pasien-pasien yang datang ke rumah sakit ini membawa kasus yang tidak biasa. Bahkan kasus persalinan normal tanpa penyulit pun, bisa menjadi kasus sulit yang membawa tim jaga menuju meja audit dan terancam mendapat hukuman.</p>
<p>Sore itu kami sedang melakukan operan jaga di kamar bersalin. Ada beberapa pasien yang sedang in partu (dalam proses persalinan) dan ditargetkan mereka akan melahirkan bayi-bayinya malam itu. Setelah melakukan ronde dan melaporkan semua kondisi pasien pada konsulen jaga malam itu, aku menemani seorang juniorku membantu persalinan seorang perempuan. Perjalanan persalinannya lancar, bayi lahir normal dan langsung menangis, tampak sehat dan bugar. Si bayi kemudian ditangani oleh sejawat dari Perinatologi untuk ditimbang dan diukur, kemudian ditunjukkan pada si ayah (waktu itu IMD belum diberlakukan dan si ayah tidak boleh menemani istrinya melahirkan karena ruangan yang ekstra penuh).</p>
<p>&#8220;Selamat ya Bu&#8230;bayinya perempuan, cantik dan sehat&#8230;!!&#8221; seruku pada si pasien. Dia hanya tersenyum sambil terengah-engah dan memintaku untuk menyodorkan sebotol air mineral di meja samping tempat tidurnya. &#8220;Plasenta lahir lengkap, Mbak&#8230; Kontraksi uterus baik, perdarahan tidak aktif, dan ruptur perineum grade 2&#8230; Tanda vital stabil..!!&#8221; lapor juniorku yang membantu persalinannya itu. &#8220;Okay, lanjut perineorafi ya&#8230;&#8221; instruksiku padanya untuk menjahit luka di jalan lahir pasien itu. Kemudian aku berpaling pada si pasien, &#8220;Selamat sekali lagi ya Bu, seterusnya dijahit sama Dokter itu ya, dan nanti ibu ditensi sama mbak Bidan yang ini yaa&#8230; Saya mau periksa pasien yang lain dulu..&#8221; pamitku padanya. &#8220;Makasih banyak ya Dok&#8230;&#8221; jawabnya sambil tersenyum.</p>
<p>Belum tiga menit aku meninggalkan ruangan pasien itu untuk memeriksa pasien di sebelahnya, juniorku tiba-tiba berteriak&#8230; &#8220;Mbaaaakkkk&#8230; pasiennya apneuuu&#8230;!!!&#8221;. Sontak aku melompat kembali ke ruangan pasien tadi yang hanya dibatasi oleh dinding teriplek dengan ruangan tempatku berada saat itu. &#8220;Ambil set resusitasi di depan..!!&#8221; seruku pada seorang siswa bidan yang tampak mematung pucat pasi menyaksikan seorang pasien tiba-tiba sesak dan tersengal-sengal di depan matanya. &#8220;Pasang monitor, panggil residen anestesi untuk evaluasi dan back up ICU&#8230;&#8221; instruksiku pada 2 juniorku yang lain.</p>
<p>&#8220;Tensi tak terukur, Mbak. Nadi 40x/m lemah, nafas gasping 6x/m, kontraksi uterus baik, tidak ada perdarahan aktif, saya belum selesai jahit perineum&#8230;&#8221;. &#8220;Siapkan set intubasi..!!&#8221; seruku sambil memasang sarung tangan. Pasien itu segera kami intubasi dan pompakan nafas, dan seorang juniorku melakukan kompresi dada karena nadinya semakin melemah. Berampul-ampul adrenalin kami injeksikan, namun hasilnya tidak seperti yang kami harapkan. Lima belas menit kami melakukan resusitasi jantung paru, layar monitor menunjukkan <em>flat</em> nya aktivitas jantung, dan kedua pupil pasien itu berdilatasi maksimal.</p>
<p>Dengan berat hati aku terpaksa meminta resusitasi dihentikan. Semua yang hadir di ruangan itu tampak terkejut, cemas, dan ketakutan, tak terkecuali diriku sendiri. &#8220;Waktu kematian, 19.08&#8230;&#8221; kataku lirih sambil memberi isyarat agar semua alat monitor dan jarum yang terpasang pada jenazah pasien itu dilepaskan. Kejadian seperti ini bagai mimpi buruk bagi dokter obgyn seperti kami. Kasus yang seharusnya hanya kami baca di jurnal <em>case report </em>saja karena insidensinya yang hanya 1,1 setiap 100.000 kelahiran dan dengan prognosis sangat buruk. <em>Pulmonary embolism</em> (emboli paru), itulah yang terlintas di kepalaku saat itu sebagai penyebab tragedi ini, pembunuh ibu melahirkan nomor satu di negara-negara maju di mana masalah perdarahan dan infeksi sudah hilang dari daftar mereka. Namun lagi-lagi, tanpa autopsi, tidak mungkin kecurigaanku dibuktikan. Jangankan meminta ijin untuk autopsi pada suaminya, harus menjelaskan bahwa istrinya meninggal tiba-tiba saja sudah membuat kedua kakiku lemas.</p>
<p>Akhirnya setelah jenazah pasien itu dirapikan, aku memanggil sang suami ke depan ruangan. Sengaja tak kuajak masuk dulu, karena dia belum diberi tahu bahwa istrinya meninggal. Salah satu juniorku hanya sempat memberi tahu sang suami bahwa kondisi istrinya tiba-tiba memburuk tadi, dan kami sedang melakukan yang terbaik untuk menolongnya. Berdiri di posisiku sekarang adalah kondisi yang paling tidak mengenakkan sebagai dokter. Menyampaikan berita buruk, kemudian mengantisipasi reaksinya adalah tugas yang sama sekali tidak mudah.</p>
<p>&#8220;Gimana istri saya Dok, udah baikan kan..?! Saya mau ketemu dong sekarang&#8230; Saya sudah lihat bayi saya, cantik banget, hidung dan bibirnya persis istri saya Dok, nah kalo mata dan jidatnya, itu dari saya Dok&#8230;&#8221;. Rasanya jantungku berhenti berdegup mendengar celotehan suaminya itu. Tak tega rasannya mennyampaikan berita kematian istrinya di tengah kebahagiaannya mendapatkan seorang buah hati. Namun dengan mengingat bahwa di tangan sang Pemilik nyawalah kematian dan kehidupan ini ada, maka dengan menggertakkan  gerahamku kata-kata itu mengalir, terdengar begitu dingin di telingaku sendiri.</p>
<p>&#8220;Selamat ya Pak atas kelahiran putrinya&#8230;!! Iya, saya tahu putri Bapak cantik sekali, mirip sama ibunya, karena tadi saya juga membantu proses persalinannya&#8230; Tapi kemudian ada komplikasi persalinan yang sangat tidak diharapkan terjadi Pak&#8230; Kejadian ini sangat jarang terjadi&#8230;bla bla bla&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Kata-kataku semakin lama semakin terasa mendengung di telingaku sendiri, seiring dengan air muka si suami yang berubah mendengar penjelasanku. Air muka sedih, yang kemudian berganti marah&#8230; Butuh waktu berjam-jam untukku menenangkan sang suami dan meminta maaf bahwa meskipun kami sudah mengusahakan yang terbaik, namun keputusan akhirnya bukan di tangan kami.</p>
<p>Menerapkan konsep bahwa mengusahakan yang terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya pada yang berhak memutuskan menurutku adalah suatu keharusan bagi seorang dokter bila dirinya tidak ingin menjadi gila atau berputus asa dalam menangani pasien-pasiennya. Faktanya, ada begitu banyak hal yang tidak diketahui dan berada di luar kontrol manusia, termasuk seorang dokter (meskipun sudah ditraining berpuluh-puluh tahun). Segala teori dan konsep yang ada di literatur, mungkin hanya secuil pengetahuan yang bisa didapat manusia. Sisanya, yang mungkin masih seluas lautan itu, masih teka-teki dan misteri.</p>
<p>Beberapa hari berselang setelah kejadian pulmonary embolism itu, seorang bidan di kamar bersalin menyarankan agar tim stase kami mengadakan tirakatan. Pasalnya, pasien-pasien di bulan kami stase ini begitu membanjir dan dengan kasus yang aneh-aneh. Mungkin terdengar klenik, dan nyerempet (atau bahkan memang termasuk perbuatan) syirik, tapi memang begitulah &#8220;budaya setempat&#8221;.</p>
<p>Aku tak tahu siapa yang mengawali dulunya, namun bila ada tim stase atau residen yang bila bertugas selalu banyak pasien, atau kasus-kasus yang datang sulit dan berdarah-darah, biasanya akan digelari &#8220;pembawa pasien&#8221;. Rekan satu tim yang akan bertugas dengannya juga akan selalu berpesan (yang sekedar candaan) untuk mandi kembang tujuh rupa dulu sebelum jaga. Tapi kurasa toh tak ada yang mengerjakannya, bisa sempat mandi sebelum mulai bertugas jaga malam itu hanya ada dalam mimpi. Aku juga digelari &#8220;pembawa pasien&#8221; dan biasanya rekan-rekan satu tim segan bertugas bersamaku karena  kasus-kasus aneh banyak datang di jam-jam jagaku. Tapi aku tak begitu ambil peduli. Aku selalu menjawab, mudah-mudahan bila berpraktik kelak pasienku juga banyak. Dan kasus-kasus sulit serta aneh adalah bahan belajar yang menarik.</p>
<p>Aku sudah menghabiskan waktu setengah malam itu di kamar operasi melakukan seksio sesarea yang antriannya sudah menyaingi antrian sembako operasi pasar. Bahkan para petugas di kamar operasi sudah mulai berkeluh kesah, &#8220;Ya ampuuuunnn Dok, kok gak abis-abis sih pasien yang seksio. Kenapa ga dilahirin normal aja sihhhh, capek dan ngantuk banget nih kita&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Gedubrak&#8221;, pikirku dalam hati&#8230; &#8220;Kalo bisa dilahirin normal ya ngapain juga saya seksio booosss. Nambah-nambahin kerjaan ajaaa, dibayar juga kagak&#8230;!!!&#8221; jawabku santai. &#8220;Buka OK (kamar operasi) sebelah juga yuukkk, biar cepet kelar nih antrian. Masih empat lagi tuh yang mau seksio. Ntar kalo udah kelar kan kita bisa makan roti bakar, indomie, sama jeruk panas rame-rame&#8230;&#8221; rayuku pada para petugas di kamar operasi. Padahal, saat itu kami sudah memakai 2 kamar operasi. Roti bakar, indomie, dan jeruk panas (aku tak minum kopi, untuk residen yang harus selalu terjaga 24 jam dalam sehari itu adalah hal aneh di mata para kolegaku) dari warkop depan IGD adalah hiburan kami di tengah malam, ganjal perut sekaligus mata agar tetap bisa melayani pasien. &#8220;Dokter yang traktir niiihhh&#8230;??&#8221; seru mereka bersemangat. &#8220;Beresss&#8230;&#8221; jawabku sambil mengerlingkan mata pada asisten operasiku.</p>
<p>&#8220;Jahit kulitnya yang rapi ya&#8230;&#8221; pesanku pada juniorku yang menjadi asisten operasi tadi sambil melepaskan sarung tangan dan jubah operasiku. Niatku ingin meluruskan kaki dan punggung beberapa saat tidak kesampaian karena seorang perawat OK sudah menyodorkan gagang telpon, &#8220;telpon dari kamar bersalin Dok,&#8221; terangnya sambil menyambung setengah mengomel, &#8220;Emang kita ga boleh istirahat bentar ya, masak ngirim pasien buat seksio ga ada berhentinya sejak sore&#8230;&#8221;. Aku hanya nyengir menanggapi omelannya sambil mengambil gagang telpon. &#8220;Mbak..!! Pasien suspek ruptur uteri nihhh&#8230; Pasiennya syok dan janin IUFD&#8230;&#8221; belum sempat aku mengucap sepatah kata, orang di seberang telpon sudah <em>nyerocos</em> dengan nada panik.</p>
<p>Singkat cerita, pasien yang dilaporkan oleh rekan jaga malamku tadi adalah seorang perempuan berusia 30 tahun, dirujuk oleh kolegaku yang telah selesai pendidikan. Pasien itu sedang hamil kedua, cukup bulan, dan sudah masuk proses persalinan sejak pagi hari tadi. Seorang paraji (dukun bersalin) sedianya akan menolong dia bersalin di rumahnya, di daerah pelosok provinsi sekitar 30 km dari rumah sakit ini. Namun ternyata persalinannya macet dan terpaksa sang paraji merujuknya ke sebuah tempat bidan praktek swasta di kota. Tidak jelas apa saja yang telah dikerjakan oleh paraji itu sebelum merujuk si pasien. Kebetulan kolegaku ini sedang berpraktek sore di situ, dan dia diminta tolong oleh bidan yang dirujuk tadi untuk membantu melahirkan si bayi.</p>
<p>Begitu kolegaku memeriksa si pasien di tempat bidan itu, dia curiga dengan bentuk perutnya yang aneh, dan kondisi pasien yang tampak sesak dan kesadarannya mulai terganggu. Tidak ditemukan denyut jantung janin dan walaupun pembukaannya lengkap, namun kepala janin masih tinggi, tidak masuk ke pintu atas panggul. Karena mesin USG di tempat bidan itu sedang rusak, kolegaku tidak dapat melakukan pemeriksaan lanjutan. Namun dia curiga telah terjadi ruptura uteri, yaitu robeknya dinding rahim dengan janin di dalamnya, yang menyebabkan perdarahan hebat di dalam perut, dan mengakibatkan kematian janin. Kematian ibu pun bisa terjadi dalam hitungan menit akibat kehabisan darah. Karena terbatasnya dana si suami, maka akhirnya kolegaku memutuskan untuk membawanya ke satu-satunya rumah sakit pemerintah di kota ini.</p>
<p>&#8220;Sedia darah ya, minta 1000 cc PRC (<em>packed red cell</em>/sel darah merah), dan 500 cc FFP (<em>fresh frozen plasma</em>, bagian plasma darah yang kaya akan faktor pembekuan darah)&#8230;&#8221; pesanku pada juniorku sebelum meminta pasien itu dikirim ke kamar operasi secepatnya karena kondisi hemodinamiknya yang semakin memburuk. Pasti perdarahan hebat terjadi, dan sumber perdarahan harus segera diatasi dengan operasi. Darah yang keluar harus segera digantikan juga, dan faktor pembekuan darah menjadi vital untuk membantu menghentikan perdarahan yang terjadi.</p>
<p>Aku menanti pasien itu di pintu utama kamar operasi setelah meminta tim OK menyiapkan satu kamar untuk operasi emergency ini. Aku jelaskan kondisi pasien pada sejawat anestesi yang bertugas saat itu, dan bahwa aku tak mungkin menunggu komponen darah datang dulu untuk melakukan operasi, karena perdarahan berjalan terus bila aku tak melakukan sesuatu. Kami harus bersiap dengan skenario terburuk, pasien bisa mati di atas meja operasi.</p>
<p>Akhirnya pasien itu tiba juga di depan kamar operasi diantar oleh beberapa juniorku yang melakukan resusitasi, dan diikuti suaminya yang tampak bingung dan gugup. &#8220;Pak, saya harus operasi istri Bapak sekarang ya..!! Mungkin saya harus angkat rahimnya agar perdarahan berhenti dan istri Bapak selamat. Tapi risiko operasi ini sangat tinggi, istri Bapak bisa tidak selamat. Tolong Bapak usahakan agar komponen darah yang kami minta bisa segera didapatkan ya Pak..!!&#8221; jelasku sesegera mungkin sambil membantu tim OK memindahkan pasien itu ke brankar steril. Wajahnya bertambah pias dan dengan suara gugup dia menjawab, &#8220;Tolong istri saya ya Dokter&#8230; Tapi saya mesti cari darahnya di mana? Bayar nggak ini buat minta darahnya?&#8221; tanyanya dengan gemetar.</p>
<p>Ironis sekali memang sistem pelayanan kesehatan tempat ini (mungkin juga di banyak tempat lain di negara yang mengaku berperikemanusiaan dan berperikeadilan ini). Di sini, bila seseorang membutuhkan komponen darah, maka keluarga atau orang yang bertanggung jawab mengurusnyalah yang harus pergi sendiri mencari komponen darah itu ke kantor Palang Merah Indonesia setempat. Bila di kantor PMI komponen dan golongan darah yang dimaksud tidak tersedia (dan sering sekali terjadi seperti ini), maka orang itu harus mencari sendiri orang lain yang bersedia menjadi donor darah. Kerumitan itu masih ditambah biaya beberapa ratus ribu untuk setiap kantong komponen darah yang diproses.</p>
<p>Jadilah keahlian mengurus darah adalah <em>skill </em>ekstra yang harus dimiliki oleh seorang residen obgyn, profesi yang sehari-harinya selalu berhubungan dengan darah. Bila ada pasien yang membutuhkan darah, dan persediaan PMI sedang kosong, maka kami menjalankan SMS berantai meminta sejawat dengan golongan darah sama untuk menyumbangkan darah. Kami tahu seluk beluk mengurus darah di PMI agar bisa segera mendapatkan komponen darah yang diperlukan. Bahkan kami terbiasa mengambil sendiri komponen darah itu ke Bank Darah atau PMI karena bila menggunakan prosedur biasa, maka banyak pasien kami tentu mati kehabisan darah. Berharap perbaikan sistem terlalu memakan waktu, dan kebanyakan pasien kami tak memiliki cukup waktu untuk menunggu. Karenanya, segera kusuruh salah satu juniorku membantu si suami mengurus komponen darah di PMI.</p>
<p>&#8220;Mbak, ada tempat di ICU nggak nih? Ini post op nya pasti masuk ICU kan&#8230;&#8221; ujar sejawat residen anestesi yang bertugas sambil menyiapkan alat dan monitor untuk operasi. &#8220;Lha, mana saya tahulah, kan situ penguasa ICU&#8230;&#8221; candaku sambil memasang gaun dan sarung tangan operasiku. &#8220;Kalo ICU nya penuh gimana dong, lagian kok nerima pasien kayak begini ga konfirmasi tempat di ICU dulu sih&#8230;&#8221; sahutnya dengan ketus. Aku tertawa mendengarnya dan menjawab, &#8220;Ya ampun Bang, masak iya pasien kayak gini mau ditolak. Mau disuruh pergi kemana lagi kalo ICU penuh? Ya udah, kalo ICU penuh ga ada ventilator, nanti kami gantian deh mompa napasnya sampe pasien bangun&#8221;. Dan aku tidak main-main, bukan sekali dua kali kami terpaksa tetap memasang ventilator kamar operasi atau memompa napas pasien secara manual secara bergantian karena ICU dengan ventilator penuh.</p>
<p>Setelah semua siap dan sejawat anestesiku memberi lampu hijau, aku segera memulai operasi dengan diasisteni kolega yang merujuk tadi dan satu juniorku. Begitu rongga perutnya kami buka, genangan darah sudah memenuhi pandangan dan sebagian besar punggung janin pasien itu sudah berada di rongga perutnya. Setelah kami lahirkan bayinya yang dalam taksiran klinisku beratnya tak kurang dari 4 kg, tampaklah robekan luas memanjang vertikal dari puncak rahim sampai mencapai leher rahim di dinding belakang rahimnya. Tempat yang tidak lazim untuk terjadi robekan uterus, dan bentuknya yang compang camping berantakan membuat kami memutuskan untuk mengangkat sekaligus rahimnya. Kami memasang klem-klem dan mengikat pembuluh darah secepat mungkin agar sumber perdarahan segera teratasi. Namun bahkan saat rahim telah terangkat, lapangan operasi masih tampak menggenang terus. Genangan yang keluar merembes tidak lagi berwarna merah darah, namun sudah berwarna merah muda encer akibat sejawat anestesiku hanya bisa menginfuskan cairan RL dan koloid yang bening karena komponen darah yang kami nantikan tak kunjung datang.</p>
<p>&#8220;Udah <em>loss coagulopathy</em> nih&#8230;&#8221; cetusku panik, menyebut salah satu kondisi ketika darah hilang terlalu banyak, termasuk komponen pembekuan darah di dalamnya, sehingga perdarahan yang terjadi akan nyaris mustahil berhenti. &#8220;Udah teratasi belum perdarahannya..?? Tensi nadinya ajrut-ajrutan terus nih, bisa <em>arrest</em> kalo gini terus&#8230;&#8221; desak sejawat anestesiku menambah kepanikan. <em>Arrest</em>, atau henti jantung, adalah hal terakhir yang aku ingin pikirkan saat itu.</p>
<p>&#8220;Kita ligasi hipogastrika aja..!!&#8221; seruku yang langsung dietujui rekan-rekanku, untuk melakukan pengikatan pembuluh darah yang memberikan percabangan ke arah rahim. Dengan mengikat pembuluh darah itu, maka tentu perdarahan akan berhenti. Namun masalahnya, saat itu aku (yang baru naik tahap 3 jenjang pendidikanku) baru memiliki pengalaman sekali melakukan ligasi hipogastrika pada pasien obstetri, sisanya biasanya kulakukan pada operasi-operasi ginekologi, di mana struktur anatominya lebih jelas dan pasien dalam kondisi stabil. Akhirnya kami menyusuri pembuluh darah panggul berusaha mencari arteri hipogastrika kiri dan kanan untuk kami ikat. Namun karena pasien syok akibat kehilangan banyak darah, semua pembuluh darahnya kolaps dan sulit untuk ditemukan.</p>
<p>Yang bisa kami temukan hanya arteri iliaka komunis kiri dan kanan, lebih proksimal (hulu) dan juga memberikan cabang-cabang pembuluh darah ke organ-organ vital yang berada dari panggul sampai ujung kaki. Kalau kami mengikat pembuluh darah ini, maka tentu organ-organ tersebut bisa rusak kekurangan darah. Namun bila tidak kami ikat, maka perdarahan tidak akan berhenti. Menanti bantuan tiba dari orang yang lebih ahli hanya akan memperburuk keadaan. Perdarahan harus dihentikan sekarang juga atau pasien akan arrest. Akhirnya, kami putuskan untuk mengikat arteri iliaka komunis kanan dan kiri dengan pertimbangan menyelamatkan nyawa pasien, walaupun taruhannya pasien mungkin akan tidak lagi bisa berjalan. Tapi aku mengikatnya hanya dengan jenis benang yang dalam beberapa hari akan terserap, sehingga kuharap organ-organ itu masih bisa diselamatkan sementara komponen pembekuan darah mengambil alih tugasnya.</p>
<p>Begitu kami ikat kedua arteri iliaka komunis, lapangan operasi mulai terkendali, tak ada lagi rembesan-rembesan darah yang tidak jelas asalnya. Dengan lega (dan setengah takut) kututup rongga perut pasien itu. Untungnya ternyata ruangan ICU dengan ventilator tersedia, karena semua tim jagaku sudah tak ada yang sanggup lagi  memompa manual napas pasien itu akibat <em>loading</em> pasien yang luar biasa banyaknya malam itu. Akhirnya menjelang pagi, komponen darah yang kami tunggu datang juga.</p>
<p>Pagi itu dan pagi-pagi esoknya, kami menanti dengan harap-harap cemas bagaimanakah kondisi pasien itu. Ternyata dia stabil di ICU, produksi urin (kencing) baik menandakan bahwa fungsi ginjal baik walaupun mengalami shock berkepanjangan. Pada hari keempat, pasien itu sudah benar-benar sadar di ICU. Saat pertama aku menemuinya di sana, yang pertama kali kuinstruksikan padanya adalah menggerakkan ujung-ujung jari kakinya, dan ternyata semua bergerak normal. Setelah dia dipindahkan ke ruang rawat biasa dari ICU, residen yang bertugas di bangsal melaporkan padaku bahwa pasien itu bisa berjalan seperti biasa. Pada hari keenam, pasien itu bisa dipulangkan dalam keadaan baik. Jangan tanya bagaimana semua itu bisa terjadi.</p>
<p>Pada sebuah pengajian rutin di departemen kami, seorang Ustadz pernah bertanya pada kami semua, &#8220;Dokter, kalau Dokter melakukan operasi <em>emergency</em> malam-malam dan pasiennya selamat, apakah Dokter merasa bahwa berkat Dokterlah maka pasien itu hidup? Padahal Dokter sudah lelah seharian bekerja, mata sudah tidak awas, tangan sudah gemetar, dan konsentrasi sudah mengawang-awang. Apakah tidak mungkin Dokter membuat kesalahan, salah memotong pembuluh darah atau organ lain. Salah menjahit sehingga malah berdarah-darah atau organ lain rusak. Sangat mungkin kan Dok?&#8221; yang kami tanggapi dengan anggukan kepala. &#8220;Jadi, pasti ada kekuatan yang mengendalikan Dokter kan? Yang memastikan bahwa mata Dokter melihat dengan baik, tangan Dokter bekerja dengan baik, agar pasien itu selamat?&#8221; lanjut sang Ustadz yang lagi-lagi kami jawab dengan mengangguk-angguk. &#8220;Maka sama sekali kita tak pantas untuk sombong, karena kita ini hanya perantara. Tugas kita hanya berusaha, kemudian berdoa. Hasil dan keputusan itu bukan urusan dan hak kita&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: right"><strong>Oleh: dr. Dyah Mustikaning Pitha Prawesti, Sp OG</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/invisible-hand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa Besar: Meninggalkan Shalat</title>
		<link>http://www.fimadani.com/dosa-besar-meninggalkan-shalat/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/dosa-besar-meninggalkan-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 13:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[adz dzahabi]]></category>
		<category><![CDATA[al kabair]]></category>
		<category><![CDATA[dosa besar]]></category>
		<category><![CDATA[orang orang]]></category>
		<category><![CDATA[orang yang]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23668</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/ibadah-syariah/" title="View all posts in Ibadah" rel="category tag">Ibadah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/" title="View all posts in Syariah" rel="category tag">Syariah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/adz-dzahabi/" rel="tag">adz dzahabi</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/al-kabair/" rel="tag">al kabair</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/dosa-besar/" rel="tag">dosa besar</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/orang-orang/" rel="tag">orang orang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/orang-yang/" rel="tag">orang yang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/shalat/" rel="tag">Shalat</a></p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (Maryam 59-60) Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/dosa-besar-meninggalkan-shalat/' title='Dosa Besar: Meninggalkan Shalat'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (Maryam 59-60)</p>
<p>Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya sama sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.”  (Diriwayatkan Ibnu Jarir 16/17)</p>
<p>Imam para Tabi’in, Sa’id bin Musayyib berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan Shalat Zhuhur hingga datang waktu ‘Ashr. Tidak mengerjakan Shalat ‘Ashr hingga datang waktu Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang Isya’. Tidak shalat Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus menerus melakukan hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya “Ghay”, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”</p>
<p>Di tempat lain Allah berfirman, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya.” (Al Ma’un 4-5)</p>
<p>Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.</p>
<p>Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang orang-orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab: Yaitu pengakhiran waktu.” (HR Al Baihaqi, dha’if)</p>
<p>Mereka disebut orang-orang yang shalat, tapi ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan “wail”, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa wail adalah sebuah lembah di nerakan Jahannam. Jika gunung-gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana, niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya, kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah Ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.</p>
<p>Di ayat yang lain, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Munafiqun 9)</p>
<p>Para mufassir mengatakan, “Maksud ‘mengingat Allah’ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya kehidupan dunianya, sawah ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.”</p>
<p>Demikianlah,. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terlah bersabda, “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka telah sukses dan beruntunglah ia. Sebaliknya, jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” (HR Al Baihaqi dengan sanad lemah tapi menjadi shahih dengan jalur periwayatan lain)</p>
<p>Berkenaan dengan penghuni neraka, Allah berfirman, “&#8221;Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian&#8221;. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Al Mudatsir 42-48)</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.” (HR Ahmad, hasan)</p>
<p>Beliau juga bersabda, “Batas antara seorang hamba dengan kekafirannya adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim no. 82)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa tdak mengerjakan shalat ‘Ashr, terhapuslah amalnya.” (HR Al Bukhari no. 553)</p>
<p>Juga, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah.” (HR Ahmad, hasan)</p>
<p>Juga, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “La ilaha illallah” dan mengerjakan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya, mak adarah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya, maka itu kepada Allah.” (Mutafaqun ‘Alaihi)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menjaganya, maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari Kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya, maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, shahih)</p>
<p>Umar bin Khathab berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.” (HR Ahmad dan Ad Daruquthni, shahih)</p>
<p>Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat jabatan, dan perniagaan dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya, ia akan dikumpulkan bersma Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya, maka ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat jabatannya, ia akan dikumpulkkan bersama Haman, dan Jika ia disibukkan dengan perniagaannya, akan dikumpulkan bersama Ubai bin Khalaf, seorang pedagang kafir di Makkah saat itu.”</p>
<p>Mu’adz bin Jabal meriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Ahmad, hasan)</p>
<p>Umar bin Al Khathab meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bertanya, “Wahai Rasulullah, amal dalam islam apakah yang p[aling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya. Barangsiapa yang meninggalkannya, sungguh ia tidak lagi memiliki <i>Ad Din</i> lagi, dan shalat itu tiang <i>Ad Din</i>.” (HR Al Baihaqi, dha’if)</p>
<p>Ketika Umar terkena tusukan, seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?”</p>
<p>“Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi orang yang menyia-nyiakan shalat,” jawabnya. Lalu, ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir darah yang cukup banyak.</p>
<p>Abdullah bin Syaqiq, seorang tabi’in, menuturkan, “Tidak ada satu amalanpun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para shahabat selain shalat.” (HR At Tirmidzi 2622, shahih)</p>
<p>Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat. Ia menjawab, “Barangsiapa tidak shalat, maka kafirlah ia.” (HR Ibnu Abi Syaibah, shahih)</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa tidak shalat, maka ia tidak mempunyai din.” (HR Ath Thabrani, hasan)</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja, niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.” (HR Muhammad bin Nashir, mauquf)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan shalat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya.” (HR Ath Thabrani)</p>
<p>Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh Mukmin bukan dengan haknya.”</p>
<p>Ibrahim An Nakha’i berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub As Sikhtiyani.</p>
<p>‘Aun bin Abdullah berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan ke dalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik, barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya, jika tidak baik, tidak ada satu amaln pun yang dilihat, (dianggap tidak baik semuanya).”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang hamba mengerjakan shalat di awal waktu, shalat itu (ia memiliki cahaya) akan naik ke langit sehingga sampai ke Arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamay. Shalat itu berkata, “Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.” Dan apabila seorang hamba mengerjakan shalat bukan pada waktunya, shalat itu (ia memiliki kegelapan) akan naik ke langit. Sesampainya di sana, ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Shalat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu, sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku.” (HR Al Baihaqi, dha’if)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah, seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya. Seseorang yang mengerjakan sgalat ketika telah lewat waktunya, dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri.” (HR Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dha’if)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menjama’ dua shalat tanpa udzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar di antara pintu-pintu dosa besar.”</p>
<p>Marilah kita memohon taufiq dan i’anah kepada Allah, sesungguhnya dia Maha pemurah dan Maha Pengasih di antara mereka yang mengasihi.</p>
<p><strong>Imam Adz Dzahabi &#8211; Al Kabair</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/dosa-besar-meninggalkan-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cakupan Macam-macam Tauhid dalam Surat Al Fatihah</title>
		<link>http://www.fimadani.com/cakupan-macam-macam-tauhid-dalam-surat-al-fatihah-terhadap/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/cakupan-macam-macam-tauhid-dalam-surat-al-fatihah-terhadap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 06:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[asma allah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim Al Jauziyah]]></category>
		<category><![CDATA[Mukhtashar Madarijus Salikin]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sifat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23662</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/tsaqafah/quran/" title="View all posts in Al Quran" rel="category tag">Al Quran</a>, <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/aqidah-syariah/" title="View all posts in Aqidah" rel="category tag">Aqidah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/asma-allah/" rel="tag">asma allah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/ibnul-qayyim-al-jauziyah/" rel="tag">Ibnul Qayyim Al Jauziyah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/mukhtashar-madarijus-salikin/" rel="tag">Mukhtashar Madarijus Salikin</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/sifat-sifat/" rel="tag">sifat sifat</a></p>Tauhid itu ada dua macam: Tauhid dalam ilmu dan keyakinan. Tauhid dalam kehendak dan tujuan. Yang pertama disebut tauhid ilmu karena keterkaitannya dengan pengabaran dan pengetahuan. Tauhid kedua yang disebut tauhid kehendak dan tujuan, dibagi menjadi dua macam: Tauhid dalam Rububiyah dan tauhid dalam Uluhiyah. Tauhid ilmu berkisar pada penetapan sifat-sifat kesempurnaan, penafian penyerupaan, peniadaan [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/cakupan-macam-macam-tauhid-dalam-surat-al-fatihah-terhadap/' title='Cakupan Macam-macam Tauhid dalam Surat Al Fatihah'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tauhid itu ada dua macam:</p>
<ol>
<li>Tauhid dalam ilmu dan keyakinan.</li>
<li>Tauhid dalam kehendak dan tujuan.</li>
</ol>
<p>Yang pertama disebut tauhid ilmu karena keterkaitannya dengan pengabaran dan pengetahuan. Tauhid kedua yang disebut tauhid kehendak dan tujuan, dibagi menjadi dua macam: Tauhid dalam Rububiyah dan tauhid dalam Uluhiyah.</p>
<p>Tauhid ilmu berkisar pada penetapan sifat-sifat kesempurnaan, penafian penyerupaan, peniadaan aib dan kekurangan. Hal ini bisa diketahui secara global maupun secara terinci. Secara global dapat dikatakan, &#8220;Penetapan pujian hanya bagi Allah&#8221;.  Adapun secara terinci dapat dikatakan, &#8220;Penyebutan sifat Uluhiyah, Rububiyah, rahmah dan kekuasaan. Empat sifat ini merupakan pusaran asma&#8217; dan sifat.&#8221;</p>
<p>Pujian di sini berarti pujian terhadap Dzat yang dipuji dengan menyebutkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, disertai kecintaan, ridha dan ketundukan kepada-Nya. Seseorang tidak bisa disebut orang yang memuji jika dia mengingkari sifat-sifat yang dipuji, tidak mencintai, tidak tunduk dan ridha kepadanya. Jika sifat-sifat kesempurnaan yang dipuji lebih banyak, maka pujian pun semakin sempurna.</p>
<p>Begitu pula sebaliknya. Karena itu segala pujian hanya tertuju kepada Allah karena kesempurnaan dan banyaknya sifat-sifat yang dimiliki-Nya, yang selain Allah tidak mampu menghitungnya. Karena itu pula Allah mencela sesembahan orang-orang kafir dengan meniadakan sifat-sifat kesempurnaan darinya. Allah mencelanya sebagai sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat, berbicara, memberi petunjuk, mendatangkan manfaat dan mudharat. Maka Allah menjelaskan hal ini seperti dalam perkataan Ibrahim Al-Khalil, <i>&#8220;Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak tnelihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?&#8221; </i>(Maryam: 42).</p>
<p>Andaikata sesembahan Ibrahim seperti sesembahan bapaknya, Azar, tentu bapaknya akan menjawab, &#8220;Toh sesembahanmu seperti itu pula. Maka buat apa kamu mengingkari aku?&#8221;</p>
<p>Sekalipun begitu sebenarnya Azar juga tahu siapa Allah, sama seperti orang-orang kafir Quraisy yang tahu siapa Allah, tapi mereka menyekutukan-Nya.</p>
<p>Begitu pula kaum Musa. Firman Allah, <i>&#8220;Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan  bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.&#8221; </i>(Al-A&#8217;raf: 148).</p>
<p>Jika ada yang berkata, &#8220;Bukankah Allah tidak bisa berbicara dengan hamba-Nya?&#8221; Maka dapat dijawab sebagai berikut: Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang diajak berbicara dengan Allah dari balik hijab, yang lain ada yang tanpa perantara, seperti Musa, ada yang berbicara dengan Allah lewat perantara malaikat yang diutus, yaitu para nabi dan rasul, dan Allah berbicara dengan seluruh manusia lewat para rasul-Nya. Allah menurunkan firman-Nya kepada mereka yang disampaikan para rasul, &#8220;Ini adalah firman Allah dan Dia memerintahkan agar kami menyampaikannya kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Berangkat dari sinilah orangorang salaf berkata, &#8220;Siapa mengingkari keadaan Allah yang dapat berbicara, berarti dia mengingkari risalah para rasul.&#8221; Begitu pula kaitannya dengan sifat-sifat Allah selainnya.</p>
<p>Dari sini dapat diketahui bahwa hakikat pujian mengikuti ketetapan sifat-sifat kesempurnaan, dan penafian hakikat pujian ini juga mengikuti penafian sifat-sifat kesempurnaan.</p>
<p><b>Hakikat Asma&#8217; Allah</b></p>
<p>Pembuktian asma&#8217; Allah yang lima (Allah, Ar Rabb, Ar-Rahman, Ar Rahim dan Al Malik), dilandaskan kepada dua dasar:</p>
<p><b><i>Dasar Pertama:</i></b></p>
<p>Asma&#8217; Allah menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma&#8217; ini merupakan sifat, yang semuanya baik, husna. Sebab jika asma&#8217; itu hanya sekedar lafazh yang tidak mempunyai makna apa pun, maka ia tidak bisa disebut husna dan tidak menunjukkan kesempurnaan, lalu akan terjadi kerancuan antara dendam dan marah yang menyertai rahmat dan ihsan, sehingga kalau berdoa kita harus mengucapkan, &#8220;Ya Allah, sesungguh-nya aku menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau pendendam&#8221;. Penafian makna Asma’ul Husna termasuk kufur yang terbesar.</p>
<p>Jika Allah mensifati Diri-Nya <i>Al-Qawiyyu, </i>berarti memang Dia benarbenar mempunyai kekuatan. Begitu pula sifat-sifat lainnya.</p>
<p>Di dalam <i>Ash-Shahih </i>disebutkan dari Nabi <i>Shallallahu Alaihi wa Sallam, </i>beliau bersabda, <i>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak seharusnya Dia tidur. Dia merendahkan timbangan dan meninggikannya. Amalpada malam hari disampaikan kepada-Nya sebelum siang hari, dan amal slang hari disampaikan kepada-Nya sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya, yang andaikan hijab ini disingkap, maka kemuliaan Wajah-Nya benar-benar membakar pandangan makhluk yang memandang-Nya.&#8221;</i></p>
<p>Menafikan makna asma&#8217;-Nya juga termasuk kufur yang paling besar. Gambaran kufur lainnya adalah menamakan berhala dengan asma&#8217; Allah, sebagaimana mereka menamakannya <i>alihah </i>(sesembahan).</p>
<p>Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, &#8220;Mereka mengambil asma&#8217; Allah lalu menamakan berhala-berhala mereka dengan asma&#8217;-Nya, dengan sedikit mengurangi atau menambahi. Mereka mengambil nama Lata dari Allah, Uzza dari Al-Aziz, Manat dari Al-Mannan.&#8221;</p>
<p><b><i>Dasar Kedua</i></b></p>
<p>Satu dari berbagai asma&#8217; Allah, di samping menunjukkan kepada Dzat dan sifat yang disesuaikan dengannya, maka ia juga menunjukkan dua bukti lainnya yang sifatnya kandungan dan keharusan. <i>As-Sami&#8217; </i>menunjukkan kepada Dzat Allah dan pendengaran-Nya, juga kepada Dzat semata dan kepada pendengaran yang menjadi kandungannya. Begitu pula sifat-sifat lainnya.</p>
<p>Jika sudah ada kejelasan tentang dua dasar ini, maka asma&#8217; Allah menunjukkan kepada keseluruhan Asma’ul Husna dan sifat-sifat yang tinggi. Hal ini menunjukkan kepada Ilahiyah-Nya, dengan penafian kebalikannya.</p>
<p>Maksud sifat-sifat Ilahiyah adalah sifat-sifat kesempurnaan, yang terlepas dari penyerupaan dan permisalan, aib dan kekurangan. Karena Allah menambahkan semua Asma’ul Husna ke asma&#8217;-Nya yang agung ini (Allah).</p>
<p>Asma&#8217; &#8220;Allah&#8221; layak untuk semua makna Asma’ul Husna dan menunjukkan kepadanya secara global. Sedangkan Asma’ul Husna itu sendiri merupakan rincian dari sifat-sifat Ilahiyah yang berasal dari asma&#8217;&#8221;Allah&#8221;.</p>
<p>Asma&#8217; &#8220;Allah&#8221; menunjukkan keadaan-Nya sebagai Dzat yang disembah. Semua makhluk menyembah-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan dan ketundukan. Hal ini mengharuskan adanya kesempurnaan Rububiyah dan rahmat-Nya, yang juga mencakup kesempurnaan kekuasaan dan puji-Nya.</p>
<p>Sifat keagungan dan keindahan lebih dikhususkan untuk nama &#8220;Allah&#8221;. Perbuatan, kekuasaan, kesendirian-Nya dalam memberi manfaat dan mudharat, memberi dan menahan, kehendak, kesempumaan kekuatan dan penanganan urusan makhluk, lebih dikhususkan untuk nama &#8221; Ar Rabb&#8221;. Sifat ihsan, murah hati, pemberi dan lemah lembut lebih dikhususkan untuk nama &#8220;Ar-Rahman&#8221;. Masing-masing disesuaikan dengan kaitan sifat.</p>
<p>“Ar Rahman” artinya yang memiliki sifat rahmat. Sedangkan “Ar Rahim” adalah yang mengasihi hamba-hamba-Nya. Karena itu dik-takan dalam firmanNya, &#8220;Dia Ar-Rahim (Maha Pengasih) terhadap hamba-hamba-Nya&#8221;, dan tidak dikatakan, &#8220;Ar-Rahman (yang memiliki sifat rahmat) terhadap hamba-hamba-Nya&#8221;.</p>
<p>Perhatikanlah kaitan penciptaan dan urusan dengan tiga asma&#8217; ini, yaitu Allah, Ar Rabb dan Ar-Rahman, yang dari tiga asma&#8217; ini ada penciptaan, urusan, pahala dan siksa, bagaimana makhluk dihimpunkan dan dipisah-pisahkan.</p>
<p>Asma&#8217; Ar-Rabb memiliki cakupan yang menyeluruh terhadap semua makhluk. Dengan kata lain, Dia adalah pemilik segala sesuatu dan penciptanya, yang berkuasa terhadapnya dan tidak ada sesuatu pun yang keluar dari Rububiyah-Nya. Siapa pun yang ada di langit dan bumi merupakan hamba-Nya, ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Mereka berhimpun berdasarkan sifat Rububiyah dan berpisah dengan sifat Ilahiyah.</p>
<p>Hanya Dialah yang disembah, kepada-Nya mereka tunduk, bahwa Dialah Allah yang tidak ada sesembahan selain-Nya. Ibadah, tawakal, berharap, takut, mencintai, pasrah, tunduk tidak boleh diperuntukkan kecuali bagi-Nya semata.</p>
<p>Berangkat dari sinilah manusia terbagi menjadi dua golongan: Golongan orang-orang musyrik yang berada di neraka, dan golongan orang-orang muwahhidin yang berada di surga. Yang membuat mereka terpisah adalah Ilahiyah, sedangkan Rububiyah membuat mereka bersatu.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Agama, syariat, perintah dan larangan berasal dari sifat Ilahiyah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Penciptaan, pengadaan, penanganan urusan dan perbuatan berasal dari sifat Rububiyah.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Pahala, balasan, siksa, surga dan neraka berasal dari sifat Al-Malik.</p>
<p>Artinya, Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dia memerintahkan mereka berdasarkan Ilahiyah-Nya, menunjuki dan menyesatkan mereka berdasarkan Rububiyah-Nya, memberi pahala dan siksa berdasarkan kekuasaan dan keadilan-Nya. Setiap masalah ini tidak bisa dipisahkan dari yang lain.</p>
<p>Disebutkannya asma&#8217;-asma&#8217; ini setelah <i>al-hamdu </i>(pujian) dan pengaitan <i>al-hamdu </i>dengan segala cakupannya, menunjukkan bahwa memang Dia adalah yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, terpuji dalam Rububiyah-Nya, terpuji dalam Rahmaniyah-Nya, terpuji dalam kekuasaan-Nya, Dia adalah sesembahan yang terpuji, <i>ilah </i>dan <i>Rabb </i>yang terpuji, Rahman yang terpuji, Malik yang terpuji. Dengan begitu Dia memiliki seluruh kesempumaan; kesempumaan dalam asma&#8217; Allah secara sendirian dan kesempumaan dalam asma&#8217;-asma&#8217; lainnya secara sendirian serta kesempumaan dalam penyertaan satu asma&#8217; dengan asma&#8217; lain. Karena itu sering disebutkan dua asma&#8217; secara berurutan, seperti: <i>Wallahu ghaniyyun hamid, -wallahu alimun hakim, wallahu ghafurur rahim. </i></p>
<p><i>Al-Ghaniyyu </i>merupakan  sifat kesempurnaan dan <i>Al-Hamid </i>merupakan sifat kesempurnaan pula. Penyertaan dua asma&#8217; ini merupakan kesempurnaan-Nya, begitu pula penyertaan sifat-sifat yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/cakupan-macam-macam-tauhid-dalam-surat-al-fatihah-terhadap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghargai Waktu</title>
		<link>http://www.fimadani.com/menghargai-waktu/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/menghargai-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 00:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hidup anda]]></category>
		<category><![CDATA[Menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan itu]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23657</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/jendela/oase/" title="View all posts in Oase" rel="category tag">Oase</a>, <a href="http://www.fimadani.com/articles/jendela/development/" title="View all posts in Pengembangan Diri" rel="category tag">Pengembangan Diri</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/hidup-anda/" rel="tag">hidup anda</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/menghargai/" rel="tag">Menghargai</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/pekerjaan-itu/" rel="tag">pekerjaan itu</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/waktu/" rel="tag">waktu</a></p>Setiap manusia hidup di atas ruang bernama bumi, dalam durasi waktu bernama masa hidup. Karena itu sungguh setiap kita adalah pengguna waktu. Tiada satu detik pun yang berlalu dari hadapan kita, dapat kita kembalikan. Maka kesadaran bahwa waktu sangat berharga, sungguh penting untuk selalu kita lekatkan dalam benak kita. Waktu sebagai aset utama manusia, kadang [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/menghargai-waktu/' title='Menghargai Waktu'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap manusia hidup di atas ruang bernama bumi, dalam durasi waktu bernama masa hidup. Karena itu sungguh setiap kita adalah pengguna waktu. Tiada satu detik pun yang berlalu dari hadapan kita, dapat kita kembalikan. Maka kesadaran bahwa waktu sangat berharga, sungguh penting untuk selalu kita lekatkan dalam benak kita.</p>
<p>Waktu sebagai aset utama manusia, kadang juga berperilaku seperti seorang wasit. Cara Anda menggunakan waktu Anda, menentukan standar hidup Anda. Kita bisa dengan mudah menemukan 2 pribadi yang hidup dalam jumlah usia yang sama, tapi dipisahkan oleh jarak prestasi yang jauh berbeda. Pribadi yang satu berprestasi di atas rata-rata, melebihi lainnya.</p>
<p>Wajar jika lama usia hidup kita, tidak lebih penting dari penggunaan waktu kita secara: efektif, produktif, dan kontributif.</p>
<p>Mulai saat ini, berfokuslah untuk menyelesaikan aktivitas yang hanya memberikan kontribusi tertinggi bagi hidup Anda. Mulailah setiap hari dengan sebuah daftar. Anda tahu, waktu terbaik untuk membuat daftar pekerjaan adalah malam hari sebelumnya. Tulislah setiap hal yang harus Anda selesaikan keesokan hari. Ingat: Jangan pernah bekerja tanpa daftar.</p>
<p>Untuk mempermudah kita berlatih kebiasaan efektif harian, di bawah ini 7 kiat praktis yang saya sarikan dari konsultan ternama dunia, Ivy Lee.</p>
<p>#1 Tulislah 5 pekerjaan yang paling menentukan kesuksesan hidup Anda bila Anda bisa menyelesaikan <a href="http://damnthetorpedo-2.blogspot.com/2013/05/pekerjaan-rumah-abadi-indonesia.html">pekerjaan itu</a>, hari ini juga. Tidak peduli seberat apa pun pekerjaan itu.</p>
<p>#2 Urutkan dan beri nomer kelima pekerjaan itu dari atas ke bawah, berdasarkan dampak dan prioritas yang ditimbulkannya bagi kemajuan hidup Anda.</p>
<p>#3 Begitu Anda sampai di lokasi kerja esok hari, segera ambil daftar itu dan kerjakan pekerjaan pertama. Fokuskan perhatian dan energi yang Anda miliki untuk dapat menyelesaikannya sebaik dan secepat mungkin. Usahakan Anda tidak terganggu oleh interupsi (jadwal meeting, telepon, sms, email) yang tidak penting -yang hanya akan mengganggu konsentrasi dan energi Anda. Mintalah bantuan sekretaris atau orang kepercayaan Anda untuk mengatur hal tersebut.</p>
<p>#4 Jangan pernah mengerjakan pekerjaan berikutnya sebelum pekerjaan sebelumnya selesai, bahkan jika pekerjaan tersebut menyita waktu Anda seharian, seminggu penuh, atau bahkan lebih. Oh iya, Anda dapat menggunakan semua sumber daya yang ada, untuk membantu Anda menyelesaikan pekerjaan itu secepatnya.</p>
<p>#5 Setelah pekerjaan dengan prioritas pertama selesai, kerjakan pekerjaan kedua dengan pola kerja yang sama. Dan ulangi terus sampai 5 pekerjaan itu betul-betul dapat Anda selesaikan secepatnya.</p>
<p>#6 Setiap kali Anda selesai melakukan daftar pekerjaan tersebut, segera masukkan 5 pekerjaan terpenting berikutnya bagi hidup Anda sebagai PR baru Anda keesokan harinya.</p>
<p>#7 Mintalah semua orang di posisi kunci dalam lingkungan terdekat Anda (karier, keluarga) untuk melakukan hal serupa.</p>
<p>Inti dari pelajaran ini ialah memfokuskan energi terkuat Anda untuk tantangan terbesar dalam hidup, setiap hari.</p>
<p>Ketika satu tantangan terbesar dapat Anda selesaikan secepat mungkin, maka satu penghalang terbesar bagi kemajuan hidup Anda akan segera lenyap. Dengannya, Anda dapat naik kelas sesegera mungkin. Semoga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/menghargai-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits-hadits Lemah Seputar Keutamaan Puasa Rajab</title>
		<link>http://www.fimadani.com/hadits-hadits-seputar-keutamaan-puasa-rajab/</link>
		<comments>http://www.fimadani.com/hadits-hadits-seputar-keutamaan-puasa-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 05:54:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shabra Syatila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[barangsiapa yang]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[lemah]]></category>
		<category><![CDATA[palsu]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rajab]]></category>
		<category><![CDATA[yang berpuasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fimadani.com/?p=23649</guid>
		<description><![CDATA[<table cellpadding='10'><tr><td valign='top' align='left'><p>Categories: <a href="http://www.fimadani.com/articles/tsaqafah/hadits-tsaqafah/" title="View all posts in Hadits" rel="category tag">Hadits</a>, <a href="http://www.fimadani.com/articles/syariah/ibadah-syariah/" title="View all posts in Ibadah" rel="category tag">Ibadah</a></p><p>Tags: <a href="http://www.fimadani.com/tags/barangsiapa-yang/" rel="tag">barangsiapa yang</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/hadits/" rel="tag">hadits</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/lemah/" rel="tag">lemah</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/palsu/" rel="tag">palsu</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/puasa/" rel="tag">puasa</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/rajab/" rel="tag">rajab</a>, <a href="http://www.fimadani.com/tags/yang-berpuasa/" rel="tag">yang berpuasa</a></p>Di awal kitabnya yang berjudul Izhharul ‘Ajab fii Bida’i Syahri Rajab hal. 7-28, ‘Uqail bin Zaid Al Muqthiri -hafizhahullah- menyebutkan 29 hadits mengenai keutamaan bulan Rajab, 20 hadits di antaranya berkenaan dengan keutamaan berpuasa di bulan Rajab. Akan tetapi semua hadits-hadits tersebut beliau hukumi sebagai hadits yang lemah -tidak ada satupun yang shahih-, bahkan tidak [...]<table width='100%'><tr><td align=right><p><b>(<a href='http://www.fimadani.com/hadits-hadits-seputar-keutamaan-puasa-rajab/' title='Hadits-hadits Lemah Seputar Keutamaan Puasa Rajab'>Read more...</a>)</b></p></td></tr></table></td></tr></table>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Di awal kitabnya yang berjudul <i>Izhharul ‘Ajab fii Bida’i Syahri Rajab</i> hal. 7-28, ‘Uqail bin Zaid Al Muqthiri -hafizhahullah- menyebutkan 29 hadits mengenai keutamaan bulan Rajab, 20 hadits di antaranya berkenaan dengan keutamaan berpuasa di bulan Rajab. Akan tetapi semua hadits-hadits tersebut beliau hukumi sebagai hadits yang lemah -tidak ada satupun yang shahih-, bahkan tidak sedikit di antaranya yang merupakan hadits palsu.</p>
<p>Berikut kami akan nukilkan sebagian di antaranya:</p>
<p><strong>1. Memperoleh Keridhaan Allah Terbesar</strong></p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu secara marfu’, <em>“…Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab karena keimanan dan mengharap pahala, maka wajib (baginya mendapatkan) keridhaan Allah yang terbesar.”</em></p>
<p>Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata dalam <i>Al Maudhu’at </i>(2/206), “Ini adalah hadits palsu atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam.”</p>
<p>Dan hadits ini juga dinyatakan palsu oleh As Suyuthi dalam <i>Al La`alil Mashnu’ah</i> (2/114), Ibnu Hajar dalam <i>Tabyinul ‘Ajab</i>, dan Ibnul Qayyim dalam <i>Al Manar</i> hal. 95.</p>
<p><strong>2. Memperoleh Hisab yang Mudah</strong></p>
<p>Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu secara marfu’, <em>“Barangsiapa yang berpuasa 3 hari di bulan Rajab, Allah akan menuliskan baginya (pahala) puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa 7 hari di bulan Rajab, Allah akan menutup baginya 7 pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa 8 hari di bulan Rajab, Allah akan membukan baginya 8 pintu surga. Barangsiapa yang berpuasa setengah bulan dari bulan Rajab, Allah akan menetapkan baginya keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang Allah tetapkan untuknya keridhaan-Nya maka Dia tidak akan menyiksanya. Dan barangsiapa yang berpuasa Rajab sebulan penuh, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”</em></p>
<p>Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shahih”, dan beliau menyebutkan bahwa di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Aban –dan dia adalah rawi yang ditinggalkan haditsnya (Arab: Matruk)- dan ‘Amr ibnul Azhar –sedang dia adalah seorang pembuat hadits palsu-. Semisal dengannya dinyatakan oleh As Suyuthi dalam <i>Al</i> <i>La`alil</i> (2/115).</p>
<p><strong>3. Senilai Puasa 1000 Tahun</strong></p>
<p>Dari ‘Ali Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’,<em> “Barangsiapa yang berpuasa satu hari darinya –yakni dari bulan Rajab- maka Allah akan menuliskan baginya (pahala) berpuasa 1000 tahun.”</em></p>
<p>Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shahih.” Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ishaq bin Ibrahim Al Khatli, seseorang yang diangap pemalsu hadits. Oleh karena itulah hadits ini dinyatakan palsu oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dan Imam As Suyuthi.</p>
<p><strong>4. Senilai Puasa 1 Bulan</strong></p>
<p>Dari Abu Dzar Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’, <em>“Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, maka (nilai puasanya) setara dengan puasa sebulan ….”</em></p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat Al Furat ibnus Sa‘ib, Ibnu Ma’in berkata tentangnya, “Tidak ada apa-apanya (Arab: <i>Laisa bisyay‘in</i>)”, Al Bukhari dan Ad Daruquthni berkata, “Ditinggalkan haditsnya (Arab: Matruk).” Dan hadits ini dihukumi palsu oleh As Suyuthi Rahimahullah dalam <i>Al La`alil</i> (2/115).</p>
<p><strong>5. Memperoleh Buah-buahan dan Sutra dari Surga</strong></p>
<p>Dari Al Husain bin ‘Ali Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’, <em>“Barangsiapa yang menghidupkan satu malam dari Rajab (dengan ibadah) dan berpuasa satu hari (darinya), maka Allah akan memberi dia makan dari buah-buahan surga dan Allah akan memakaikan dia sutra dari surga ….”</em></p>
<p>Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits palsu, yang tertuduh memalsukannya adalah Hushain.” Imam Ad Daruquthni berkomentar tentang orang ini, “Dia sering membuat hadits (palsu).”</p>
<p><strong>6. Senilai Ibadah 700 Tahun</strong></p>
<p>Dari Anas Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’, <em>“Barangsiapa yang berpuasa pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu di setiap bulan haram, maka akan dituliskan baginya ibadah 700 tahun.”</em></p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Kami meriwayatkannya dalam <i>Fawa`id Tammam</i> <i>Ar Razi</i> dan di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang lemah dan yang tidak dikenal.”</p>
<p><strong>7. Akan Minum dari Sungai Rajab</strong></p>
<p>Dari Anas Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’, <em>“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum kepadanya dari sungai tersebut.”</em></p>
<p>Hadits ini dari jalan Manshur bin Zaid dari Muhammad ibnul Mughirah, Adz Dzahabi berkata tentang Manshur, “Tidak dikenal dan haditsnya batil.” Dan Ibnul Jauzi berkata –setelah membawakan hadits ini dalam Al ‘Ilalul Mutanahiyah (2/555)-, “Hadits ini tidak shahih, di dalamnya ada rawi-rawi yang majhul, kami tidak mengetahui siapa mereka.”</p>
<p><strong>8. Puasa Sunnah Rasulullah Seperti Puasa Ramadhan</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;Anhu beliau berkata, <em>“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam tidak pernah berpuasa setelah Ramadhan kecuali pada bulan Rajab dan Sya’ban.”</em></p>
<p>Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar, “Ini adalah hadits yang mungkar dikarenakan Yusuf bin ‘Athiyyah, dia adalah (rawi) yang sangat lemah.”</p>
<p><strong>9. Penghapus Dosa Selama 60 Bulan</strong></p>
<p>Dari Anas Radhiyallahu &#8216;Anhu secara marfu’, <em>“Aku diutus sebagai nabi pada tanggal 27 Rajab, barangsiapa yang berpuasa pada hari itu maka hal itu merupakan kaffarah (penghapus dosa) selama 60 bulan.”</em></p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Kami meriwayatkannya dalam <i>Juz min Fawa`id Hannad An Nasafi</i> dengan sanad yang mungkar.”</p>
<p><strong>10. Mendapat Pengampunan Selama 10 Tahun</strong></p>
<p>Dan dalam hadits ‘Ali secara marfu’, <i>“ … Barangsiapa yang berpuasa pada hari itu dan berdo’a ketika dia berbuka maka hal itu merupakan kaffarah selama 10 tahun.”</i></p>
<p>Al Hafizh berkomentar tentangnya, “Kami meriwayatkannya dalam Fawa`id Abil Hasan bin Shakhr dengan sanad yang batil.”</p>
<p><strong>Abu Muawiyah</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fimadani.com/hadits-hadits-seputar-keutamaan-puasa-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.997 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-05-21 17:04:48 -->

<!-- Compression = gzip -->