detik

Masih ingat dukun cilik Ponari yang menghebohkan itu? Bocah 12 tahun itu kini jadi berita lagi. Bukan karena kemampuannya menyembuhkan orang, tapi dia terpaksa harus mengulang lagi di kelas VI karena tidak ikut Ujian Nasional.

Kepala SDN II Balongsari Misbahul Huda, membenarkan jika warga Desa Balongsari, Megaluh, Jombang, itu terpaksa mengulang sekolah di kelas VI. Sebab saat hendak digelar unas, Ponari malah tidak ikut.

“Kami dan keluarga berusaha membujuk, namun Ponari bergeming. Alhamdulillah, mulai tahun ajaran baru ini Ponari mau sekolah lagi, meski harus mengulang kelas VI,” kata Misbahul.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Statusnya sebagai dukun cilik memang mengubah hidup Ponari. Setelah secara ekonomi keluarganya naik drastis dari hasil pengobatan Ponari, bocah ‘ajaib’ itu justru enggan ke sekolah. Hingga akhirnya tidak mengikuti ujian nasional (UN) beberapa waktu lalu.

Untungnya, Ponari masih punya niat bersekolah. Saat kali pertama masuk sekolah, dukun yang pernah kondang pada 2009 itu ikut bersih-bersih sekolah dan lingkungan, Senin (9/7/2012). Dengan seragam atas putih, bawah merah, Ponari memasuki ruang kelas begitu tiba di sekolah.

Dia bergabung dengan “adik kelas” yang kini menjadi teman sekelasnya. Tak lama berselang, bersama kawan-kawannya dukun cilik yang pernah mempunyai pasien puluhan ribu orang itu keluar lagi membawa ember serta kain pel.

Selanjutnya, bersama-sama mereka membersihkan ruang kelas. Mulai dari lantai, bangku, hingga kaca jendela kelas. “Saya masuk sekolah lagi, mengulang kelas VI lagi,” kata Ponari singkat, Senin (6/9/2012).

Ketika disinggung tentang batu ‘petir’ miliknya, anak dari pasangan Khamsin dan Mukaromah ini hanya menggeleng-menggelengkan kepala.

Padahal, tiga tahun lalu, batu keramat berwarna cokelat sebesar kepalan tangan bayi itu menyedot puluhan ribu pengunjung untuk meminta penyembuhan. Bahkan akibat berdesakan, tiga pasien dinyatakan meninggal. Namun seiring laju waktu, pasien dukun cilik itu mulai menyusut.


Redaktur: Shabra Syatila
Sumber: tribunnews

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI