Dua Kuncup Bunga Cinta

Sabtu, 9 Juni 2012 (7:27 am) / Oase

Yatim. Begitulah status sekaligus namanya.

Yatim adalah seorang anak yang miskin. Ibunya sendirian mengurusnya hingga ia menjadi seorang anak sebaya seperti teman-teman yang lain di kampungnya. Karena kemiskinan yang menyelimuti mereka, Yatim hanya mengenakan sandal peninggalan ayahnya yang berukuran orang dewasa. Ia mengenakan sandal itu ketika berangkat ke mushalla untuk belajar ngaji. Namun, teman-temannya selalu mengejeknya karena sandal besar yang dipakainya itu.

Yatim malu. Sangat malu. Hingga ia tidak mau berangkat ke mushalla lagi untuk belajar mengaji bersama teman-temannya. Sang Ibu hanya bisa pasrah karena ia memang tidak sanggup membelikan putra satu-satunya itu sepasang sandal anak-anak.

Yatim tumbuh dewasa tanpa pendidikan agama. Hingga ketika ibunya sakit, dan ia membutuhkan uang untuk mengobati ibunya, ia memutuskan untuk mencuri. Dan tidak tanggung-tanggung, ia mengincar rumah Pak Haji di kampung itu. Seorang imam kampung yang kaya.

Malam itu, dengan perlengkapan mencuri, linggis dan tali tambang, Yatim mengendap-endap di samping rumah Pak Haji di kampung sebelah. Ia menguping untuk memastikan bahwa dirinya aman melakukan aksinya. Sayangnya, keluarga Pak Haji yang kaya itu belum terlelap. Mereka masih terjaga. Yatim mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.

Pak Haji dan keluarganya merencanakan untuk menikahkan putri semata wayang mereka yang sudah waktunya menikah. Ia mengharapkan agar menantunya nanti dapat menjadi penerus dirinya, termasuk harta kekayaannya yang banyak. Mereka merencanakan akan menerima lamaran dari siapapun yang putrinya mau menerima.

Yatim diam. Ia memikirkan dirinya dan ibunya yang sedang sakit. Ada satu cara dimana ia tidak harus mencuri untuk mendapatkan uang biaya berobat ibunya. Cara itu adalah dengan melamar putri Pak haji, dan menikahinya. Dengan begitu, ia akan memperoleh harta dari Pak Haji yang bisa digunakannya untuk mengobati penyakit ibunya. Ia pulang ke rumah gubuknya. Tidak jadi mencuri.

Besoknya, Yatim mengajak ibunya yang sakit itu datang melamar putri Pak Haji. Dengan pakaian terbaik, mereka datang ke rumah Pak Haji. Sungguh tidak diduga. Pada saat yang sama, satu keluarga yang lain datang. Bedanya, mereka adalah keluarga kaya.

Pak Haji bingung, termasuk keluarganya. Bagaimana cara memutuskan agar kedua pelamar purinya sama-sama ridha. Sang putri pun hanya terdiam. Akhirnya, Pak Haji memutuskan bahwa pinangan yang akan diterima diserahkan sepenuhnya kepada putrinya. Putri Pak Haji pun mengadakan sayembara bagi keduanya. Kedua bakal calon suaminya diminta untuk mengajukan pertanyaan kepada dirinya. Dan yang memberikan pertanyaan terbaik akan diterimanya menjadi calon suaminya. Dan ia sekaligus menjadi juri.

Yatim mempersilakan pria saingannya untuk mengajukan pertanyaan terlebih dulu. Dari sekian banyak pertanyaan, yang saya ingat adalah satu pertanyaan.

“Apakah kamu senang bila kubelikan baju dan berbagai jenis perhiasan emas?”

Putri Pak Haji menjawab, “Tidak.”

Yatim ganti mengajukan pertanyaan kepada Putri Pak Haji. Dari sekian banyak pertanyaan, yang saya ingat adalah satu pertanyaan.

“Apakah kamu marah bila tidak kubelikan baju dan berbagai jenis perhiasan emas?”

Putri Pak Haji menjawab, “Tidak.”

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Yatim dan laki-laki lain yang dulu mengejek Yatim karena sandalnya kebesaran itu, Putri Pak Haji memilih calon suaminya adalah Yatim. Bukan main gembira hati Yatim. Ia berkesempatan menikahi Putri Pak Haji yang kaya dan cantik pula. Sementara laki-laki saingannya dan keluarganya marah dan segera meninggalkan rumah Pak Haji.

Pernikahan berlangsung sepekan kemudian. Perhelatan akad dan walimah pun dilaksanakan dengan mengundang seluruh warga kampung. Tentu saja pernikahan ini dibiayai sepenuhnya oleh Pak Haji. Yatim dan ibunya yang masih sakit hanya tinggal menikmati.

Malamnya, di kamar pengantin, Yatim dan Putri Pak Haji hanya diam-diaman hingga datang waktu shalat. Yatim sibuk memikirkan bagimana ia segera mendapat uang untuk berobat ibunya dari harta Pak Haji. Putri Pak Haji membuyarkan pikirannya. Ia mengajak Yatim untuk mengimami shalat Isya’.

Yatim kaget dan bingung. Ia tidak bisa membaca huruf Al Qur’an ataupun surat Al Qur’an. Boro-boro bisa membaca seperti itu, ia tidak pernah mengaji dan sekolah di masa kecilnya. Bahkan shalat pun ia tidak pernah, kecuali hari raya. Yatim bingung bagaimana ia harus menjelaskan kepada Putri Pak Haji yang kini sudah menjadi isterinya itu tentang kondisinya. Dengan berat hati, Yatim mengaku di depan isterinya.

“Maafkan saya, ada sesuatu yang harus saya katakan padamu.”

“Apa itu?”

“Sebenarnya, …”

Yatim menceritakan semua kondisinya, tentang sakit ibunya, tentang keinginannya mencuri di rumah itu, tentang apa yang ia dengar, tentang lamaran itu, dan tentang strateginya untuk mendapatkan uang untuk berobat ibunya, dan tentang dirinya yang sama sekali tidak tahu tentang ilmu agama.

Isteri Yatim sedih, ia terpukul dengan kenyataan di hadapannya, tenyata suaminya itu jauh dari apa yang ia perkirakan. Ia menangis. Yatim bingung. Ia diam dan merasa bersalah. Sejenak kemudian, Isteri Yatim berhasil menguasai perasaannya. Ia menyuruh suaminya untuk shalat bersama ayahnya di masjid.

“Shalatlah di masjid bersama Bapak…”

Ada sisa kesenduan dari suaranya. Yatim, dengan perasaan bersalah segera beranjak, meninggalkan kamar pengantinnya menuju ke masjid untuk ikut shalat jama’ah. Ia shalat bersama jama’ah yang lain dengan diimami mertuanya. Tentu saja jika ada yang memperhatikannya, ia tampak kikuk melaksanakan shalat.

Selepas shalat, ia dan mertuanya pulang. Yatim mencoba berbincang ringan hingga sampai ke rumah. Ia masuk ke kamar pengantinnya dimana isterinya masih menunggunya. Ia juga sudah selesai shalat isya’. Ada kesan tangis yang belum hilang dari mata isterinya itu. Ah, timbul perasaan kasihan dari dalam diri Yatim. Oh, bukan. Itu bukan hanya perasaan kasihan. Itu cinta. Yatim menyadari itu. Ia mencintai wanita yang telah disakitinya sejak pertama kali itu. Yatim tertegun, berdiri membelakangi pintu.

“Duduklah, di sini… “

Isteri Yatim meminta Yatim duduk di atas ranjang, di samping ia duduk. Yatim menghampirinya dan duduk di samping isterinya itu. Ia menatap mata isterinya yang penuh keteduhan itu.

“Sekarang, engkau adalah suamiku, dan aku adalah isterimu. Aku merasa sedih dengan apa yang telah engkau lakukan, tapi aku mencoba untuk memahami kondisimu. Seorang isteri haruslah mengabdi pada suami. Dan pernikahan adalah sebuah bahtera dimana para penumpangnya harus saling menyatu dan menolong. Sudah menjadi keharusan bagiku untuk menolongmu dan ibumu. Besok, kita ke rumahmu untuk mengantar ibumu berobat. Tentang engkau yang tidak mempunyai pengetahuan tentang agama, aku ingin engkau menyembunyikan dari Bapak. Aku akan mengajarimu mengaji… Maukah kau berjanji?”

Kini, gantian Yatim menangis. Matanya meleleh. Ia sangat terharu dengan kebaikan hati isterinya itu.

“Ya, saya berjanji…”

Yatim dan isterinya berpelukan. Keduanya menangis. Bahagia.

Selanjutnya, saya tidak akan menceritakan apa yang terjadi pada malam itu. Namun, ada kisah menarik yang terjadi setelah beberapa hari itu. Yakni ketika Yatim ikut ke masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib. Pak Haji meminta menantunya itu untuk menjadi imam shalat.

Seolah-olah, petir di waktu Maghrib menyengat Yatim. Ia belum lancar belajar mengaji dan membaca Al Fatihah dari isterinya. Selama ini, ia selalu shalat berjamaah di masjid agar tetap bisa melaksanakan kewajiban shalat lima waktunya. Dengan manjadi makmum, ia tidak perlu membaca surat atau bacaan apapun yang perlu didengar orang lain. Jelas berbeda dengan imam.

Pak Haji memaksanya. Namun, Yatim mencoba menolak. Pak Haji terlanjur mendorong tubuh Yatim untuk berada di mihrab imam. Yatim gemetar berdiri di tempat pengimaman. Orang-orang menunggu instruksi takbir darinya. Yatim berpikir bagaimana ia bisa tetap menutupi ketidakbisaannya membaca Al Qur’an. Ia menoleh kebelakang. Nampak para jama’ah balik menatapnya.

Yatim berada di posisi menghadap kiblat dan menatap lekat tempat sujud. Ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinganya. Mulutnya membuka dan berkata…

“Astaghfirullahal adzim….”

Orang-orang bingung. Pak Haji bertanya kepada Yatim.

“Ada apa, Nak Yatim?”

“Maaf, Pak. Saya batal.”

Pak Haji manggut-manggut. Yatim izin untuk mengambil air wudhu. Pak Haji pun segera menggantikan posisi Yatim mengimami shalat.

Begitulah waktu berjalan hingga akhirnya Yatim bisa membaca Al Qur’an dan menghapal berbagai surat dan ilmu-ilmu agama dari isterinya. Bahkan, Yatim pun mulai menggantikan posisi mertuanya menjadi imam shalat. Termasuk usaha-usaha milik keluarga Pak Haji. Ibu Yatim pun kini sudah sembuh dari sakitnya. Di kemudian hari, Yatim dikenal dengan nama “Pak Haji Yatim”.

Yatim  dalam kisah ini adalah seorang tokoh dalam buku yang saya baca di masa Sekolah Dasar dulu. Saya lupa judul buku dan pengarangnya. Semoga pengarangnya memperoleh barakah dari Allah atas usahanya itu. Kisah ini memang terdengar klise. Namun, saya menyukainya. Setidaknya, sampai lebih dari sebelas tahun saya masih mengingat inti kisah ini. Di kisah ini, seorang suami memiliki kekurangan dari berbagai sudut dibandingkan isterinya. Harta. Ilmu. Kecantikan. Keturunan. Kehormatan.

Yang menimbulkan gelombang semangat dalam darah adalah bahwa suami isteri ini menjadi satu tim untuk bertransformasi. Dari seseorang yang diam dalam kegelapan menuju ke gerakan yang bercahaya. Inilah salah satu fungsi dalam pernikahan atau rumah tangga. Yakni mempertemukan berabagai potensi yang ada untuk kemudian dikembangkan secara bersama-sama antara suami dan isteri.

Seringkali, potensi seseorang itu tidak tergali ketika ia berada dalam kesendirian dan kenyamanan. Perlu pemicu bagi dirinya untuk mampu memekarkan kuncup potensi dalam dirinya menjadi bunga yang mekar dan semerbak wangi dan indah warnanya.

Anis Matta menulis ‘Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga’. Tidak hanya satu kuncup yang dimekarkan menjadi bunga, tapi ada dua kuncup. Harapannya, dari dua kuncup mekar itu akan menghasilkan “inovasi hibrida”.

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih