Da’wah Fardiyah

Selasa, 15 Mei 2012 (4:38 am) / Dakwah, Sirah Nabawi

Setelah Abu Thalib meninggal dunia, penderitaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam semakin berat,sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari perlmdungan dari suku Tsaqif, dengan harapan agar mereka mau menerima ajaran Islam.

Ketika sampai di Thaif, beliau menjumpai tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud, dan Hubaib. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kedatangan beliau, bahkan memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah, yang waktu itu keduanya ber-ada di kebun tersebut dan mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun itu tergerak untuk menolong, lalu menyuruh pembantunya yang biasa dipanggil Adas, “Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu.”

Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan Rasulullah seraya berkata, “Silakan dimakan.”

Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya, setelah itu membaca “Bismillahir rahmanir rahim” dan memakan-nya. Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan heran.

“Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah berkata, “Wahai Adas, kamu berasal dari mana dan apa agamamu?”

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawai.”

Rasulullah bertanya, “Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Adas berkata, “Apa yang  Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi.”

Mendengar jawaban itu, Adas langsung menubruk Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.

Kedua pemilik kebun itu melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka berkata kepada yang satunya, “Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu.”

Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, apa yang menyebabkan kamu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?”

Adas berkata, “Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu kepadaku perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi.”

Mereka berkata, “Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai omongannya menjadikan kamu berpaling dari agamamu, karena agamamu lebih baik daripada agamanya.”

Saudaraku,

Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada di dalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu membimbingnya perlahan-lahan, hingga mau mengikrarkan keislamannya.

Tatkala Adas datang kepada Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata, “Makanlah,” Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan membaca “Bismillahir rahmanir rahim”, lalu memakannya. Seandainya Rasulullah tidak mengucapkan “Bismillahir rahmanir rahim”, tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.

Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah Islamiyah di negara-negara nonMuslim, karena dengan begitu kaum Muslimin dapat mengenal satu sama lain.

Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, “Ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini.”

Rasulullah lalu berkata, “Wahai Adas kamu berasal dari negeri mana dan apa agamamu?”

Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan menyebut nama secara langsung itu mempunyai erti yang amat besar untuk mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan agamanya. Ini merupakan sebuah rangkaian pembicaraan yang berurutan secara rapi.

Adas menjawab, “Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai.”

Lalu Rasul bertanya, “Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?”

Kita melihat bahwa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus ‘Alaihis Salam dengan menyebut “hamba yang shalih.” Inilah yang menjadikan hati Adas semakintersentuh dan tertarik. ia juga mengetahui bahwa Rasulullah mengetahui letak negeri Ninawai, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Iraq. Ini semua menjadikan Adas semakin tertarik.

Adas bertanya, “Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Rasulullah menjawab, “Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi.”

Di sini terdapat sentuhan yang amat lembut. Ungkapan Rasulullah, “saudaraku,” semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, “la adalah saudaraku.”

Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah itu terlihat sifat tawadhu’ beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus ‘Alaihis Salam lebih dahulu

sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini terdapat pelajaran yang amat penting dan berharga bagi seorang da’i.

Banyak di antara kita yang tatkala membicarakan seseorang yang mempunyai “kelebihan” mengatakan, “Dia sekolahnya bersamaan dengan saya,” atau “Dia dulu satu fakultas dengan saya.” Padahal yang lebih baik adalah, “Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah,” atau “Saya dulu satu fakultas dengannya.”

Saudaraku,

Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana dan mudah dicerna. Jadi, bagi da’i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan merasa kesulitan.

Saudaraku,

Sekarang marilah kita perhatikan kisah-kisah yang lain. Ada beberapa orang yang ingin menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah seorang di antara mereka menceritakan, “Kami berusaha mencari tahu tentang Rasulullah, karena kami belum pernah mengenal dan melihatnya. Kami bertemu dengan seorang laki-laki, lalu kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah. ia menjawab, ‘Apakah kalian mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka Muhammad adalah seseorang yang duduk bersama Abbas bin Abdul Muthalib yang tak lain adalah pamannya.’ Kami menjawab, ‘Ya, kami mengenal Abbas, dia sering datang kepada kami untuk berdagang.’ ia berkata, ‘Jika kalian masuk masjid, maka Muhammad adalah orang yang duduk bersama Abbas.’ Kemudian kami masuk ke dalam masjid dan kami menjumpai Rasulullah yang sedang duduk bersama Abbas.

Kami memberi salam, lalu duduk di dekat mereka. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Abbas, ‘Wahai Abu Fadl apakah engkau mengenal dua orang ini?’ Abbas menjawab, ‘Ya. Ia adalah Bara’ bin Ma’rur, seorang pemuka kaum dan ini Ka’ab bin Malik.’ Rasul bertanya, ‘Apakah dia penyair yang terkenal itu?’ Abbas menjawab, ‘Ya.'”

Sungguh, saya tidak pernah melupakan ucapan beliau, “Apakah dia penyair yang terkenal itu?” Demikianlah metode Rasulullah dalam memikat hati mad’unya.

Waktu itu saya sedang berada di pejabat pusat Ikhwanul Muslimin di Kairo. Saya melihat Ustadz Hasan Al Banna sedang berbicara dengan salah seorang pemuda (saat itu ada banyak pemuda yang hadir di sana). Dalam pembicaraan itu, Ustadz Hasan Al Banna banyak menyanjung tokoh-tokoh Muslim Syria.

Lalu pemuda itu bertanya dengan nada keheranan, “Apakah Ustadz sudah pernah berkunjung ke Syria?”

Ustadz menjawab, “Saya sudah berniat untuk mengunjunginya, mudahmudahan Allah mengabulkannya.”

Akhirnya harapan itu pun terwujud. Pada tahun 1948 M. beliau pergi ke Syria dalam acara penyambutan kedatangan rombongan Ikhwanul Muslimin yang datang dari Mesir untuk bergabung dengan anggota Ikhwanul Muslimin Syria dalam latihan militer di Quthna, sebelum ikut terjun dalam perang melawan Yahudi di Palestina. Kedatangan Ustadz Hasan Al Banna sendiri disambut gembira oleh massa yang melimpah ruah.

Pada tahun 1948 M. saya masuk dalam anggota pasukan militer yang dikirim untuk berperang di Palestina. Waktu itu saya berkunjung ke pejabat Ikhwanul Muslimin di kota Gaza atas nama Jam’iyah At Tauhid. Di dalam buku tamu saya menjumpai tulisan Ustadz Hasan Al Banna yang telah datang ke Palestina bersama batalion pertama untuk mengusir Yahudi tatkala Inggris menarik pasukannya pada bulan Mei 1948 M. Di antara bunyi tulisan itu adalah: “Hari ini saya berkunjung ke pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di kota Gaza Hasyim….”

Saya berhenti pada tulisan beliau, “Gaza Hasyim.” Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa Hasyim, kakek Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimakamkan di kota Gaza.

Saya pergi bersama beberapa teman untuk mengunjungi orang sakit di sebuah rumah sakit di Jerman. Ketika kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan seorang dokter muda yang kelihatannya berasal dari Jerman. Namun tiba-tiba ia mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada kami. Salah seorang di antara kami mengejarnya dan berkenalan. Dokter itu mengatakan bahwa dirinya seorang Muslim. Begitulah, seandainya dokter itu tidak mengucapkan salam, maka kami tidak akan mengetahui bahwa ia beragama Islam dan kami pun akan kesulitan mendapatkan orang yang dapat membantu kami.

Tatkala saya berada di Jerman, saya dan seorang teman naik sebuah trem cepat. Kami duduk di sebelah seorang tentara Amerika berkulit coklat. Tatkala men-dengar kami berbicara dengan bahasa Arab, ia berkata, “Kalian beragama Islam?”

Kami menjawab, “Ya, Alhamdulillah, kami adalah orang Islam.”

Lalu ia berkata dengan suara agak keras, “Saya juga seorang Muslim, nama saya Muhammad.”

Kemudian dengan cepat ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok, lalu disodorkannya kepada kami. Kami menolak tawaran itu dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf. Kemudian ia bangkit dan menjabat tangan kami dengan hangat sekali dan berbicara dengan bahasa Arab secara terbata-bata, “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia muliakan tamunya.”‘

Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar kami. Tatkala sampai di stasiun tujuannya, ia berdiri dan menjabat tangan kami sekali lagi lalu turun dengan perasaan amat bahagia. Kami pun telah mencatat alamatnya, sehingga kami akan dapat berkirim surat kepadanya. Begitulah, seandainya kami tidak berbicara dengan bahasa Arab, niscaya ia tidak akan peduli dan kami akan kehilangan seorang teman.

Marilah kita melihat bagaimana orang-orang Perancis mengetahui masuk  Islamnya ilmuwan besar berkebangsaan Perancis, Jake Koesto, seorang ilmuwan yang ahli di bidang kedalaman laut. Tatkala ia bepergian bersama teman-temannya, ia disuguhi minuman keras tetapi ia menolak. Teman-temannya bertanya, “Apakah kamu sudah masuk Islam?”

Ia menjawab, “Ya.”

Ternyata ia sudah merahasiakan keislamannya selama bertahun-tahun. Begitulah, akhlak dan perilaku yang islami adalah da’wah.

 

Abbas As SisiAth Thariq ila Qulub

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014