Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Yusuf: 108)

Ayat ini memberi pengertian bahwa dakwah kepada “La Ilaha Illallah” adalah jalannya orang-orang yang setia mengikuti Rasulullah. Sekaligus peringatan akan pentingnya ikhlas (dalam berdakwah semata mata karena Allah), sebab kebanyakan orang kalau mengajak kepada kebenaran, justru mereka mengajak kepada (kepentingan) dirinya sendiri.

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Dengan demikian, seorang da’i harus mengerti betul akan apa yang didakwahkan, ini adalah termasuk kewajiban agar ia tidak salah dalam berdakwah.

Ayat ini juga termasuk bukti kebaikan tauhid, bahwa tauhid itu mengagungkan Allah. Bukti kejelekan syirik, bahwa syirik itu merendahkan Allah.

Termasuk hal yang sangat penting adalah menjauhkan orang Islam dari lingkungan orang-orang musyrik, agar tidak menjadi seperti mereka, walaupun dia belum melakukan perbuatan syirik. Karena ia akan mudah untuk terseret mengikuti mereka.

Tauhid adalah kewajiban pertama.  Tauhid adalah yang harus didakwahkan pertama kali sebelum mendakwahkan kewajiban yang lain termasuk sholat.

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya:

“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “Supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengertian “supaya mereka mentauhidkan Allah” adalah pengertian syahadat. Hadits ini menerangkan peringatan Rasulullah akan pentingnya sistem pengajaran dengan bertahap, dengan kata lain adalah pengamalan dan penerapan konsep fiqih prioritas dan fiqih dakwah. Yaitu dengan diawali dari hal yang sangat penting kemudian yang penting dan begitu seterusnya.

Seseorang terkadang termasuk ahli kitab, tapi ia tidak tahu pengertian syahadat yang sebenarnya, atau ia memahami namun tidak mengamalkannya, sebagaimana Ahli Kitab di Yaman, dimana Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu saat itu diutus oleh Rasulullah

Dalam hadits yang lain, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat Perang Khaibar bersabda:

“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan RasulNya, dan dia dicintai oleh Allah dan RasulNya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya.”

Maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah. Masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut.

Saat itu Rasul bertanya, “Di mana Ali bin Abi Thalib?”

Mereka menjawab, “Dia sedang sakit pada kedua matanya.”

Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah ia. Kemudian Rasul meludahi kedua matanya, seketika itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit, kemudian Rasul menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda, “Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Allah dalam Islam, maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu itu lebih baik dari onta-onta yang merah.”

Sabda Rasulullah, “Ajaklah mereka kepada Islam,” maksudnya  yaitu kepada pengertian yang sebenarnya dari kedua kalimat syahadat, yaitu: berserah diri kepada Allah, lahir dan batin, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, yang disampaikan melalui RasulNya.

Hadits di atas merupakan salah satu bukti  keutamaan sahabat Ali bin Abi Thalib.  Keutamaan para sahabat Rasul, (karena hasrat mereka yang besar sekali dalam kebaikan dan sikap mereka yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan amal sholeh) ini dapat dilihat dari perbincangan mereka dimalam (menjelang perang Khaibar, tentang siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera komando perang, masing-masing mereka menginginkan agar dirinyalah yang menjadi orang yang memperoleh kehormatan itu).

Disyariatkan untuk mendakwahi musuh sebelum memeranginya.  Syariat ini berlaku pula terhadap mereka yang sudah pernah didakwahi dan diperangi sebelumnya.  Dakwah harus dilaksanakan dengan bijaksana, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi, “ … dan sampaikanlah kepada mereka tentang hak-hak Allah dalam Islam yang harus dilakukan.”


Redaktur: Shabra Syatila
Sumber: Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI