Dahlan Iskan, Iran, dan Syi’ah

Senin, 12 November 2012 (12:22 pm) / Pemikiran Islam

Dahlan Iskan, nama yang begitu santer belakangan ini karena sikap-sikap politisnya yang tidak wajar dan melabrak kemapanan. Namanya semakin populer setelah ia mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2009 melalui jaringan media Jawa Pos miliknya. Ganjarannya, ia diangkat menjadi Direktur Perusahaan Listrik Negara.

Sebagai seorang jurnalis, Dahlan Iskan mampu menuliskan dengan apik berbagai pengalaman dan harapannya. Di seluruh jaringan media yang dimilikinya, saban pekan ia menulis kolom tentang “Pabrik Harapan”. Tulisannya tersebut memang mirip buku harian, tapi peminatnya ternyata sangat banyak.

Dahlan Iskan, yang pernah menjabat sebagai Presiden Lions Club Charter Surabaya ini, digadang-gadang akan menggantikan posisi Presiden SBY pada Pemilu 2014 mendatang sebagai presiden. Perlu diketahui, Lions Club merupakan salah satu organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry Internasional.

Dalam sebuah tugas dinasnya ke luar negeri tahun 2011 lalu, saat ia masih menjadi Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan menceritakan pengalamannya ke negeri Syiah Iran.

Masjid untuk Shalat Jum’at di Iran

“Kami mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, menjelang waktu salat Jumat. Maka, saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara itu. Dari atas terlihat bandara tersebut seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang mahaluas. Tapi, setidaknya pasti ada masjid di bandara itu. Memang ada masjid di bandara itu, tapi tidak dipakai sembahyang Jumat,” tulisnya.

Dahlan pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata ia kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan, di kota sebesar Teheran, ibu kota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid, tapi di Universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi, jaraknya lebih jauh lagi. Di negara Syiah Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?” tanya Dahlan.

“Tidak ada. Kalau kita mau Jumatan, harus ke Teheran (40 km) atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.

Salat Jumat ternyata memang tidak wajib di negara Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan salat Duhur. Jadi, siapa pun yang salat Jumat tetap harus salat duhur.

Ke Kota Suci Qum

Karena Jumat adalah hari libur, Dahlan tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka, waktu setengah hari itu ia manfaatkan untuk ke kota Qum. Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus, dan jaringan listrik. Begitu juga letak kota suci Qum.

Jika umat Islam hanya mengenal 2 kota suci, yakni Makkah dan Madinah, kadangkala ditambah Yerusalem, maka Syiah memiliki kota-kota suci sendiri, misalnya kota suci Qum ini. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu, bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu kompleks dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.

“Tujuan utama kami tentu ke masjid itu,” tulis Dahlan dalam memoarnya tersebut.

Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan umat Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusat mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali. Tapi, sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai), tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.

Tapi, sang imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggota 85 mullah. Setiap mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.

Wanita, Kerudung, dan Celana Ketat

“Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum,” papar Dahlan.

Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan, orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya negara Islam.

Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang, semua wanita diwajibkan mengenakan kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqa. Kerudung itu menutup rapi kepala, tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka, siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.

Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa, tapi banyak juga yang celana jins. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis.

Apalagi, seperti kata orang Iran, di antara sepuluh wanita Iran, yang cantik ada sebelas! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burqa, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah. Demikian tulisan Dahlan Iskan.

Shalat di Makam Fathimah

Sampai di kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid.

“Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah salat Duhur, saya ikut ziarah ke makam Fatimah yang dikunjungi ribuan jamaah itu,” kata Dahlan.

Makam itu berada di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di Masjid Nabawi. Apalagi, banyak juga orang yang kemudian salat dan membaca Al Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.

Embargo, Tapi Tetap Berdagang

Dahlan Iskan dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau perusahaan pembangkit listrik Iran di Asaleuyah. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya.

Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain.

“Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.

Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis.

“Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens,” tutur Dahlan.

“Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya….   Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.”

Redaktur: Shabra Syatila

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih