Cinta Tanpa Jeda

Jumat, 27 Juli 2012 (1:47 pm) / Opini

Terkadang cinta membawa kita larut jauh dalam impian-impian menyenangkan tentang masa depan. Tak jarang pula cinta membawa kita lupa untuk mensyukuri nikmat-nikmat kecil yang terbentang luas di hadapan. Layaknya seorang yang sedang jatuh cinta, dalam hari-hari kita, tak pernah ada kata istirahat dalam cinta. Segala hal yang kita lakukan menjadi indah karena cinta, setiap detik yang terlewati begitu menggebu dilalui. Semua itu karena cinta, kita bilang.

Cinta, dalam pandangan kita yang begitu indah ini, hanya akan membawa cerita bahagia, cerita suka cita, tanpa tangis. Aku hanya sedang mencoba mengingat selaksa bahagia yang dibawa cinta. Dan ingatanku berhenti pada titik kesedihan di suatu masa. Dimana hidup terasa begitu keras dan jahat, hari-hari seakan membatu, hatiku seolah tak mampu melewati jengkal demi jengkal kehidupan yang semakin terasa mencekik leher.

Ketika kesulitan-kesulitan itu menoleh ke arah kita, seolah kita ingin segera berlari kencang agar kesulitan itu tak sampai pada hari kita. Ketika kesulitan demi kesulitan akhirnya berjalan beriringan dengan setiap cinta yang telah kita bangun. Hingga kemudian mengikis satu per satu cinta yang kita sisihkan setiap harinya. Kesulitan yang datang, menyulap kebahagiaan yang kita tumpukan pada cinta sebelumnya.

Sungguh, kesulitan tidak seburuk yang kita lihat secara kasat mata. Terkadang, kita tutup mata kita ketika kesulitan datang. Sehingga tak ada hikmah yang dapat kita petik dari sana. Kadang kita menjadi tidak bijak ketika sedang dilanda kesulitan. Seolah hidup begitu peliknya sampai tak ada jalan keluar yang tergambar. Hingga akhirnya, putus asa menjadi pilihan. Tak lagi hari kita lewati dengan menggebu karena kesulitan yang hadir.

Dengan segenap keherananku, aku membatin, bukankah kesulitan juga adalah cinta? Mungkin cinta yang kita inginkan sudah begitu lengkap menyatu dalam jiwa, tetapi kita butuh angin yang membawa kita pada kerja keras mempertahankan cinta. Kesulitan adalah cinta dalam bentuk yang lain. Hakikatnya itu adalah bentuk cinta yang lain dari Rabb Pemiliki Kehidupan.

Allah tak lantas membiarkan kita memangku tangan setelah cinta kita miliki. Allah tak langsung membiarkan kita hidup enak begitu saja tanpa kerja keras. Karena Allah mencintai kita dengan sebegitu hebatnya, hingga cintaNya hadir dalam berbagai wujud. Karena Allah mencintai kita dengan jarak yang begitu dekat, hingga kadang itu membuat kita merasainya dengan sangat jelas meski tak terlihat. Karena Allah ingin kita menjadi sosok pecinta yang sempurna, yang tidak hanya menerima utuh cinta tanpa usaha mendapatkannya. Allah memberikan cinta begitu besar pada kita sebagian, namun kita melihatnya telah utuh. Padahal sisanya Allah cicil lewat setiap kesulitan dan kemudahan yang berkejaran dalam hari-hari kita selanjutnya. Kesulitan memberikan kita kesempatan membuktikan cinta kita padaNya, karena saat kesulitan hadir tak jarang manusia menjadi begitu lemah dan akhirnya lupa bahwa ada Allah yang adalah sebaik-baik penolong.

Setiap insan yang beriman, di belahan dunia manapun pasti senada dengan pernyataan bahwa kesulitan adalah bukti cinta Allah pada manusia. Sadarilah, sesungguhnya Allah tak memberikan kesulitan kecuali dengan cinta. Itu janjinya.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Al Insyirah (94) : 5-6]

Adakah janji yang lebih pasti dari janjiNya? Itu bukti cinta Allah pada kita. Maka kesulitan pun harusnya kita lewati dengan begitu menggebu, karena Allah iringkan kemudahan bersama kesulitan. Allah sediakan kesulitan sepaket dengan kemudahan yang diberikan. Sebagai penguat rasa cinta. Dengan begitu, bukankah itu membuktikan bahwa cintaNya tak pernah berjeda? Ya, hanya Allah yang senantiasa memberikan cinta tanpa jeda.

Oleh: Salsabila Althafunnisa, Bandung
FacebookTwitterBlog

Redaktur: Fimadani

Copyright © 2011 – 2014