Banyak dari kalangan kaum muslim yang berpendapat bahkan sudah ‘latah’ menyebut ‘Aisyah dengan nama Humairah (pipinya yang merah merona). Lafadz humairah sendiri berasal dari kata hamraa yang mengandung arti yang merah. Barangkali hal ini dianggap suatu bentuk pengagungan bagi beliau. Di mana beliau merupakan isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan merupakan isteri yang paling dicintai. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: ”Siapakah orang yang paling anda cintai? Beliau menjawab: “’Aisyah.” (HR. Bukhari).

  • Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab, serta nasyid walimah & jihad.
    digitalhuda.com/?f1
  • Jual Jaket Motor Respiro Anti Angin dan Anti Air Cocok dipakai Harian maupun Touring
    www.JaketRespiro.com
  • Peluang Usaha Sambil Ibadah, Perwakilan Biro Umrah-Haji Plus dan Raih Reward Ratusan Juta Rupiah.
    www.rumahhajidanumrah.com
  • Sedia Baju Hamil, Baju Menyusui, Celana Hamil, Bra Menyusui, Nursing Pillow, Nursing Apron, dll.
    www.hamil-menyusui.com
  • Pusat Belanja Buku Islam Online Lengkap Dan Murni.
    tokopedia.com/tokobukumuslim
  • Film Rasulullah Muhammad SAW, Umar bin Khattab, Nabi Yusuf, Konspirasi Dajjal Akhir Zaman.
    rubystore.wordpress.com/

Di sisi lain, ada kalangan sesat yaitu kalangan Syi’ah yang dengan kata tersebut (humairah) justru mereka menghujat dan melecehkan ‘Aisyah. Menurut mereka, lafadz humairah merupakan isim tasghir dari himar (keledai). Jadi kalau diartikan humairah adalah keledai kecil. Maka menurut kalangan Syi’ah, ‘Aisyah adalah keledai kecil. Jelas ini merupakan penghinaan kepada sahabat dan sekalius isteri tercinta Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Perkataan Ulama Sunnah :

  1. Imam Malik berkata: “Para ulama sepakat bahwa barang siapa ada kebencian di dalam hatinya kepada para sahabat, atau meyakini bahwa mereka murtad, fasiq, atau mereka khianat dalam menyampaikan agama maka orang tersebut kafir.”
  2. Bisyr bin al Harits berkata: “Barang siapa yang mencela para sahabat nabi, maka ia kafir. Meskipun ia shalat, puasa dan mengklaim dirinya sebagai seorang muslim”.
  3. Auza’I berkata: “Barang siapa yang mencela Abu Bakr As Shiddiq ra maka ia murtad dan halal darahnya”.
  4. Ketika diminta komentar tentang orang yang mencela Abu BAkr, Umar dan ‘Aisyah Imam Ahmad berkata: “Aku berpendapat dia bukan orang Islam dan orang yang mencela Utsman adalah zindiq.” (untuk lebih lengkapnya lihat buku Al Istinfar Li adz Zabbi ‘An As Shahabah Al Akhyar karya DR. Sulaiman Al ‘Ulwan)

Lantas kita bertanya, adakah dalil atau hadits shahih yang menyatakan bahwa ‘Aisyah adalah humairah?

Dalil yang biasa digunakan adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

خذوا شطر دينكم عن هذه الحميراء

“Ambilah separuh agama kalian dari Humaira ini (‘Aisyah)”.

Kiranya kita perlu meneliti kembali hadits tersebut dan riwayat-riwayat lain yang semisalnya. Dalam hal ini kita akan kemukakan pernyataan para ulama hadits yang kompeten dalam hal ini.

  1. Al Mizzi berkata: “Setiap hadits yang di dalamnya ada kata “Ya Humaira” maka hadits itu palsu kecuali yang diriwayatkan Nasai.” (Al Mashnu’: 212).
  2. Ibnul Qayyim berkata: “Setiap hadits yang di dalamnya ada kata “Ya Humaira” atau menyebut “Humaira” maka hadits itu palsu dan dibuat-buat. Seperti hadits: “Ya Humaira, jangan makan tanah, karena ia akan mengakibatkan begini dan begitu”. Juga hadits: “Ambilah separuh agama kalian dari Humairai (‘Aisyah)”. (Al Manarul Munif: 60 dan dinukil oleh Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa: 1/450).
  3. Imam Dzahabi berkata: “Sungguh setiap hadits yang di dalamnya ada kata “Ya Humaira” adalah tidak shahih”. (Siyar A’lam Nubala: 2/167).
  4. Ibnu Katsir berkata: “Adapun hadits yang kedua, yaitu “Ambilah separuh agama kalian dari Humaira ini (‘Aisyah)”, adalah hadits gharib jiddan bahkan dia hadits munkar. Aku pernah menanyakan hal kepada Syaikh kami, Abu al Hajjaj Al Mizzi dan beliau berkata: “Sampai sekarang aku belum pernah menemukan sanadnya”. Syaikh kami Abu Abdillah Ad Dzahabi berkata: “hadits tersebut termasuk ke dalam kumpulan hadits-hadits palsu yang tidak dikenal sanadnya”. (Tuhfah at Thalib: 170).
  5. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Aku tidak mengetahui sanadnya dan aku tidak melihatnya ada dalam kitab-kitab hadits kecuali terdapat dalam kitab An Nihayah karya Ibnul Atsir. Dia menyebutkannya dalam kumpulan materi huruf ha mim ra dan tidak menyebutkan siapa yang mengeluarkan hadits tersebut. Aku menemukan juga dalam musnad Al Firdaus (Ibnu Hibban) dengan lafadz yang berbeda dengan mengambil jalur dari Anas tanpa menyebutkan sanadnya (secara lengkap) dengan lafadz: “Ambilah sepertiga agama kalian dari rumah Humaira”. (Kasyful Khafa: 1/450).
  6. Beliau (Ibnu Hajar) juga berkata: ‘Dalam riwayat Nasai dari jalur Abi Salamah dari ‘Aisyah: beberapa orang Habasyah sedang bermain. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadaku: “Ya Humaira, apakah kamu mau melihat mereka? Aku berkata: “Ya”. Sanad hadits ini shahih dan tidak ada satupun hadits shahih yang menyebutkan ‘humaira’ kecuali dalam hadits ini.” (Fathul Bari: 2/444).
  7. Pernyataan para ulama tersebut bisa juga dilihat dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, 10/259 karya Al Mubarak Furi . juga dalam kitab As Sunan As Shugra 1/157, As Sunan Al Kubra 1/7, Mishbah Az Zujajah 3/81, Al Kamil 2/59, Al Majruhin 2/29, Al Fatawa Al Kubra 1/91, Minhaj Sunnah 7/430, Mizan I’tidal 2/415, 432 dan 7/329 serta kitab Lisan Mizan 2/11, 7/10.

Setelah kita mengetahui kedudukan hadits tersebut, maka hendaknya kita berhati-hati dalam mengambil hadits terlebih hadits tersebut bukanlah hadits yang shahih. Karena dengan hadits itu kita akan berbicara tentang ibadah, hukum dan lain sebagainya. Juga dengan meningalkan hadits-hadits palsu tersebut bukan berarti kita meremehkan ‘Aisyah isteri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Cukup bagi kita pernyataan para ulama dalam memuji beliau.

Masruq berkata: “Aku melihat para sahabat senior banyak bertanya kepadanya dalam masalah faraid”. Atha bin Abi Rabah berkata: “’Aisyah merupakan manusia yang paling faqih, paling ‘alim dan paling baik pendapatnya”. Dengan mengutip pendapat ayahnya, ‘Urwah bin Hisyam berkata: “Menurutku tidak ada orang yang paling ‘alim dalam masalah fikih, kedokteran dan sya’ir melainkan ‘Aisyah”. Dengan mengutip pendapat ayahnya, Abu Burdah bin Abi Musa berkata: “Jika ada permasalahan sulit yang tidak kita pahami, maka kami mendatanginya (‘Aisyah) dan kami akan mendapatkan ilmu darinya”. Az Zuhri berkata: “Kalau saja ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan seluruh ilmu kaum beriman yang laki maupun perempuan maka ilmu ‘Aisyah jauh lebih utama.” (Al Ishabah, 8/18).

Jumal Ahmad bin Hanbal bin Ahmad Suyuthi, lahir di kota Magelang jawa tengah tanggal 06 September 1988. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di MI Al-Islam dan SMP Muhammadiyah Kaliangkrik. Melanjutkan Aliyah di MA Nurul Hadid Cirebon kemudian masuk pesantren tinggi di Bekasi, Al-Islam dan mengambil konsentrasi Ilmu Tafsir. Saat ini mengajar Tahfidhul Quran di pesantren Bin Qolbu cilember cisarua bogor dan pengurus di Akademi Thibbun Nabawi (Athin) Bekasi. Disela-sela kesibukan itu menyempatkan waktu untuk menulis di blog sederhana saya, ahmadbinhanbal.wordpress.com

Sebarkan pada dunia: KLIK DI SINI