Belajar dari Kehidupan Tuna Netra (Kisah Nyata)

Kamis, 26 Juli 2012 (7:21 am) / Oase

Dia adalah laki-laki penyandang tuna netra. Dia kehilangan penglihatannya saat kuliah di ITB, kala itu dia mendapat PMDK untuk bisa berkuliah disana. Gluochoma menjadi sebuah ganjalan karier pendidikannya untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut. Dia putus kuliah karena kehilangan penglihatannya tersebut. Kemudian selama kurun waktu kurang lebih 1,5 tahun dia berada dalam kegelapan tiada henti merasa tak berguna dan pernah berkehendak untuk bunuh diri.

Ternyata cerita berubah drastis kala dia dititipkan bundanya di rumah pakdhenya yang merupakan seorang dosen di sebuah Universitas Negeri ternama di Kota Yogyakarta. Di sanalah dia menemukan hidupnya, hanya dengan sebuah kebiasaan yang sengaja diterapkan dari pakdhenya kepada dirinya, yaitu Wajib Sholat Subuh Berjamaah di masjid, kemudian setelah itu mencuci mobil yang dimiliki oleh pakdhenya. Berjalannya waktu suatu pagi saat dia mencuci ternyata ada seseorang yang mengamati kebiasaannya tersebut dan akhirnya terlibat sebuah percakapan diantara keduanya. Mas, Anda itu buta tapi semangat ibadah dan bekerja Anda luar biasa.

Tak disangka, ternyata dari percakapan ringan dan singkat tersebut muncul sebuah insight, sebuah hidayah, sebuah pencerahan yang diberikan Allah pada dia. Semenjak itu dia mempunyai sebuah asa untuk hidup kembali, dan dia merasakan bahwa dirinya masih berguna hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali kuliah dan pindah hidup mandiri disebuah pondok di Yogyakarta sana.
Mulai saat itulah dia menjadi pribadi yang luar biasa, seorang pemberi semangat dengan khutbah-khutbahnya yang simple namun dahsyat mampu merubah mindset anak-anak panti tuna netra menjadi lebih semangat.

Masih ingat petuah darinya yang diberikan kepada saya,”,…mas tahu cacing? Cacing itu buta, gak punya kaki, gak punya tangan… tapi karena cacing itulah kesejukan dunia terjaga, kehidupan begitu indah karena dia menyuburkan pepohonan, menjadikan tanaman hidup dan akhirnya hijau di bumi menjadi sebuah lambang kehidupan dunia.”.

Andai saja kita tahu bahwasanya Allah SWT memberikan kita potensi yang teramat luar biasa, cacing dengan segala kerendahan dan kekurangan mampu menjadi hewan bermanfaat bagi keberlangsungan dunia, apakah kita akan kalah dengan mereka? Inilah saatnya membuktikan tiada ujian dan cobaan yang tak bisa untuk kita kalahkan. Karena Allah SWT sudah menjanjikan setelah datang kesulitan akan hadir kemudahan. Semoga Allah memberkahi setiap desah nafas kita dengan sebuah keberkahan kemampuan untuk peka, peduli, berbuat dan berjuang bagi sesama, bagi negara bagi Islam yang mulia. Insya Allah

Redaktur: Fimadani

Copyright © 2011 – 2014 Designed & Developed by Ibrahim Vatih