Bagaimana Kalau Menyedekahkan Istri?

Selasa, 28 Agustus 2012 (8:54 am) / Oase

Sedekah. Saya lebih suka menyebutnya dengan ‘saham jihad’. Ada juga teman yang mengatakan sebagai ‘tiket surga’. Apapun, yang penting bagus, syar’i dan menyemangati. Al Quran sendiri menyebutnya dengan perniagaan dengan Allah atau ‘memberi pinjaman’ kepada Allah. Juga disebut sebagai ‘menolong agama’ Allah.

Prinsipnya, sedekah itu berbagi. Lazimnya dengan harta. Namun dengan yang lain juga sangat dianjurkan. Berbagi ilmu, pengalamaan, dan lain-lain. makanya, Rasul mengatakan bahwa “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” Nah, jangan salah memahami hadits ini dengan hanya ‘menyenyumi’ kotak amal ketika ia lewat di depan kita dengan dalih, “Kan sudah senyum, jadi sudah sedekah.”

Tidak akan berkurang sesuatu yang disedekahkan, bahkan bertambah. Senyum yang dilemparkan kepada sesama, akan bertambah manis dan menginspirasi. Ilmu yang disedekahkan, akan semakin berkah dan bermanfaat. Harta yang diberikan di jalan Allah, akan menambah jumlah dan berkahnya, bahkan menjadi ‘saham jihad’ ketika fisik tak bisa terjun ke medan laga. Buku yang disedekahkan, insya Allah akan membuat pelakunya menjadi bertambah buku dan ilmunya. Tapi, jangan anda bertanya, “Apakah jika yang saya sedekahkan adalah istri saya, akankah saya mendapat istri yang lebih banyak dan lebih cantik?” Tegas saja saya jawab, “Maaf, saya belum menikah dan tak mau mencobanya.”

Sedekah, dianjurkan kepada yang meminta dan yang tak meminta. Ini semacam titipan. Jadi, Allah menitipkan rejeki beberapa hambaNya kepada kita. Maka, ketika kita dititipi, yang paling bijak adalah menyampaikan titipan tersebut. Bukan mendekapnya erat seakan miliknya sendiri. Maka, berikan kepada mereka sesuai haknya. Keluarga, fakir miskin, yatim, fi sabilillah, yang berhutang dan seterusnya.

Kapan waktu yang paling utama untuk bersedekah? Ya jelas, sepanjang waktu. Kapan dan dimanapun selama ada kesempatan. Jangan menunda. Karena sedetik lagi, tidak ada yang menjamin apakah kita masih hidup atau sudah mati. Mengapa? Karena ketika kita mati dalam keadaan tidak banyak amal sholihnya, maka di alam kubur kelak, kita akan minta dihidupkan lagi agar bisa beramal shalih. Gak mungkin, kan?

Pagi hari. Dalam hadits disebutkan bahwa ketika itu ada dua malaikat yang berdoa, “Berikan keberkahan bagi mereka yang bersedekah dan kebinasaan bagi mereka yang menahan hartanya.” Nah, hendaknya informasi suci ini menjadi sebuah pelecut agar kita menyiapkan sedekah harian. Makin banyak, makin rajin, maka makin bagus. Karena amal yang paling disukai Allah adalah amal yang sering dilakukan, meski sedikit kuantitasnya. apalagi jika banyak dan rutin serta ikhlas?

Apalagi di bulan Ramadhan. Jika sejak tanggal 1 kita rutin bersedekah sehari satu juta, maka sekarang kita sudah bersedekah 18 atau 19 juta. Subhanalllah.. Jika ternyata sehari kita hanya bisa seribu, maka jumlah 18 atau 19 ribu itulah yang kelak akan menolong kita. Yang paling parah adalah ketika Ramadhan telah berlalu 18 atau 19 hari, tapi kita tidak punya program sedekah. Na’udzubillah. Lalu, dengan tanpa merasa bersalah orang ini berkata, “Makan aja susah, apalagi buat sedekah.” Kita doakan orang ini segera menyadari kekeliuran berpikirnya.

Kok keliru? Iya. Sangat keliru. Sedekah itu tak perlu banyak. Berapapun yang kita miliki, bisa kita sedekahkan. Apalagi, Allah menilai sedekah kita bukan berdasarkan jumlah saja. Melainkan berdasarkan keikhlasan. Maka, sedekah 1 juta ikhlas banget lebih baik daripada sedekah seribu tapi nggrundel. Prinsipnya, jumlah dinilai berdasarkan presentase harta yang ditipkan kepada kita.

Jadi, seorang milyarder yang hanya bersedekah 100 ribu, insya Allah kalah nilainya dengan seorang pengemis (beneran) yang bersedekah sepuluh ribu.

Sedekah juga erat kaitannya dengan tingkat kekayaan kita. Bukan kaya harta, melainkan kaya hati. Semakin kaya hati kita, semakin mudah pula kita dalam bersedekah. Begitupun sebaliknya, semakin sering bersedekah, maka hati dan harta kita pun akan semakin kaya. Apalagi di bulan suci. Sedekah dilipatkan dari 10 sampai 700 kali lipat. Belum lagi jika kita berhasil bersedekah pada malam yang diganjari lebih baik dari seribu bulan. Subhanallah

Oya, kaya itu bukan terletak pada seberapa banyak harta yang kita timbun untuk kepentingan perut sendiri. Melainkan ditentukan pada seberapa banyak yang kita distribusikan untuk kepentingan orang lain. Karena kata nabi, “Yang paling baik diantara kalian adalah yang paling bermanfaat untuk sekitarnya.”

Mari bersedekah, insya Allah kita akan menjadi kaya dan mengunduh buah sedekah, kelak di surgaNya. Semoga.

Redaktur: Pirman

Copyright © 2011 – 2014