Amina Wadud, Seorang Janda yang Nekat Jadi Imam Jumat

Selasa, 24 Juli 2012 (3:23 pm) / Opini

Tokoh satu ini terbilang muslimah kontroversial. Dia membuat gempar dunia Islam karena pemikirannya membolehkan perempuan menjadi imam dari jamaah campuran kaum adam dan hawa. Dia juga dikenal sebagai pegiat Islam inklusif.

Mary Teasley atau Amina Wadud lahir di Kota Bethesda, Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat, pada 25 September 1952. Ayahnya pendeta Methodis dan ibunya keturunan Arab-Afrika. Sejak kecil, dia dibesarkan dalam lingkungan Kristen taat.

Dia kuliah selama lima tahun dari 1970 hingga 1975 di Universitas Pennsylvania dan meraih gelar sarjana sains. Pada 1972, dia memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dua tahun kemudian, dia mengganti nama menjadi Amina Wadud untuk memperlihatkan dia telah menjadi muslimah. Pada 1988 dia melanjutkan pendidikan program master bidang Studi Timur Dekat dan meraih gelar Ph.D. Studi Arab dan Islam di Universitas Michigan.

Walau sudah mengantongi ijazah strata tiga, hasrat Amina menimba ilmu masih belum tercukupi. Dia lalu pergi ke Mesir buat mendalami bahasa Arab di Universitas Amerika di Ibu Kota Kairo. Tidak sampai di situ, penjelajahan intelektualnya berlanjut sampai menuntun dia mempelajari tafsir Alquran di Universitas Kairo dan filsafat di Universitas Al-Azhar.

Dia sempat bekerja sebagai asisten profesor di Universitas Islam Internasional Malaysia pada 1989 hingga 1992 dan menerbitkan disertasinya berjudul Quran dan Perempuan: Membaca Ulang Ayat Suci dari Pandangan Perempuan. Penerbitan buku itu dibiayai oleh lembaga nirlaba Sisters in Islam dan menjadi panduan buat beberapa pegiat hak-hak perempuan serta akademisi. Buku itu dilarang beredar di Uni Emirat Arab karena isinya dianggap provokatif dan membangkitkan sentimen agama.

Pada 1992, ibu lima anak dan memiliki tiga cucu ini pindah kerja dan mengisi posisi profesor di bidang Religi dan Filsafat Universitas Persemakmuran Virginia, Amerika, sampai pensiun pada 2008. Selanjutnya dia menjadi dosen tamu di Pusat Studi Religi dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada, Indonesia, sampai sekarang.

Selama berkarir di dunia pendidikan, Amina dipandang sebagai muslimah feminis dan menganggap dirinya reformis Islam. Dia sering menjadi narasumber dialog seputar kesetaraan gender dalam Islam, pemahaman antar budaya, dan hak asasi.

Kontroversi pemikiran Amina dimulai pada Agustus 1994. Saat itu, dia menjadi khatib dan menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Claremont, Cape Town, Afrika Selatan. Hanya segelintir orang mengetahui kejadian itu. Beberapa penentangnya berusaha menyingkirkan dia saat mengajar sebagai dosen di Universitas Persemakmuran Virginia.

Setelah berkhotbah pada 1995, Amina muncul kembali dengan ide mencengangkan banyak pihak pada 18 Maret 2005. Dia menjadi imam shalat Jumat dengan jamaah campuran laki-laki dan perempuan di Synod House, Manhattan, Negara Bagian New York, Amerika Serikat, yang dimiliki Katedral Saint John.

Dia memilih tempat itu lantaran tiga masjid lain menolak permintaannya menggelar shalat Jumat dengan imam perempuan. Aksi itu disponsori oleh Muslim Women Freedom Tour dengan bantuan pegiat perempuan Asra Nomani bertugas mengumpulkan jamaah dari Persatuan Muslim Progressif. Saat itu, jamaah lelaki dan perempuan berdiri dalam satu barisan. Suhaila al-Attar bertindak sebagai pengumandang azan.

Alasan Amina melakukan hal itu lantaran dia ingin mengetuk hati kaum muslim sejagat, yakni tidak ada pemisah di antara mereka. Tidak pelak, hal itu menimbulkan perdebatan di antara kaum muslim. Beberapa pemikir liberal, yakni Gamal al-Banna asal Mesir, Javeed Ahmad Gamidi dari Pakistan, dan Leila Ahmad menyatakan kekagumannya atas ide Amina menjadi imam shalat Jumat.

Kecaman datang dari berbagai ulama, di antaranya Syekh Yusuf Qardhawi. Dia berpendapat walau perempuan bisa menjadi imam shalat dari jamaah wanita bahkan keluarganya, tapi tidak boleh memimpin shalat dari jamaah gabungan. Dalam wawancara di stasiun televisi Aljazeera, Qardhawi menegaskan tindakan Amina itu melanggar ajaran Islam dan sesat.

Amina menerima banyak ancaman pembunuhan setelah memimpin shalat Jumat sehingga dia harus selalu waspada. Bahkan, buat berangkat ke kampus saja dia tidak berani dan kuliahnya disampaikan jarak jauh lewat siaran langsung dari rumahnya. Meski begitu, dia bertekad melanjutkan menyebarkan pemikiran sesatnya itu.

Redaktur: Farid Zakaria

Copyright © 2011 – 2014